
Sejenak Arash mengintip ke arah jendela luar, memperhatikan sosok Edgard yang makin menjauh menggunakan mobil nya. Zehra telah mengatur strategi untuk Edgard sejak beberapa waktu yang lalu, membuat doktor Hans meminta Edgard untuk datang ke rumah sakit mereka dan membuat pertemuan pribadi.
Sesuai rencana awal mereka, doktor Hans akan terus menyuntikkan serum ke tubuh Edgard, awal mula saat si kediaman utama Cullen, Edgard mendapatkan suntikan pertama sebelum acara Saling menghabisi lawan didalam hutan Tempo hari.
Kemudian setelah selesai acara pertarungan, dan hari ini adalah rencana suntikan ke 3 nya.
"Apa kamu yakin semua akan berjalan sesuai rencana?"
Tanya Arash cepat ke arah Zehra sambil menutup penutup kaca jendela Yang ada.
Laki-laki itu berbalik mendekati sang istri yang masih merebahkan diri nya di atas kasur dengan cepat, arash naik ke atas kasur mendekati Zehra lantas mencium lembut kening nya.
"Hmm"
Zehra mengangguk pelan, sambil berusaha untuk bangun.
Buru-buru Arash membantu Zehra bangun, mengangkat tubuh sang istri untuk turun.
Seketika bola mata Zehra membulat.
"Sayang"
"Sstttt mau mandi bukan? aku bantu membàwa istri ku ke kamar mandi"
Ucap Arash sambil terus menggendong Zehra menuju ke kamar mandi.
Sang istri tampak mengulum senyumannya.
"Menurut doktor Hans obat nya mulai bereaksi, Edgard mulai bingung dengan beberapa hal belakangan ini kata nya"
Jelas Zehra pelan.
"Misalnya?"
Tanya Arash cepat.
"Seperti Dejavu juga deja vecu misal nya, dia mulai mengalami fenomena dimana Edgard merasakan sensasi kuat bahwa seolah-olah suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu"
"Bagai kan Déjà vu di mana perasaan seolah-olah tahu akan sesuatu tapi dia tidak paham kenapa, hingga berakhir pada déjà vécu dimana perasaan nya mulai mengingat kembali soal masa lalu nya"
"Dia mulai meragukan jati dirinya sendiri selama beberapa hari ini, bahkan beberapa suara seseolah menggiring nya pada ingatan dimasa lalu"
Ucap Zehra sambil menatap dalam wajah Arash.
Laki-laki itu tampak mengangguk-angguk kepalanya, meletakkan tubuh Zehra secara perlahan ke kamar mandi.
"Tingkat keberhasilan nya bagaimana?"
Arash jelas cukup bimbang memikirkan semua nya, dia cukup takut jika rencana ini tidak berhasil di buat.
"Sejauh ini cukup berhasil, doktor John bilang, aku sempat diberikan itu saat menjalani pemeriksaan dulu"
Zehra bercerita cepat ke arah Arash.
Saat dia pingsan, dia pernah diberikan suntikan yang sama oleh salah satu Dokter kepercayaan doktor John.
"Ya?"
Arash jelas menaikkan sebelah alisnya.
"Kapan?"
Arash terus bertanya dengan ekspresi yang cukup terkejut, laki-laki itu tidak tahu sama sekali soal itu sebelum nya.
"Siapa yang memberikan suntikan?"
Dia fikir apa mungkin dia karena itu Zehra mulai mengingat soal jati dirinya saat ini.
"Kenapa mengeluarkan Ekspresi seperti itu hmm?"
Tanya Zehra cepat sambil mengelus lembut wajah Arash.
"Bukankah cepat atau lambat akan ingat juga soal kenyataan? meskipun tidak diberikan suntikan, pada akhirnya aku pasti akan ingat juga soal masa lalu"
"No, soal suntikan nya itu benar-benar tanpa sepengetahuan ku, doktor john melakukan nya? bermain di belakang ku? tanpa memberitahu kan nya pada ku lebih dulu? siapa lagi yang ikut terlibat?"
Seketika ekspresi Arash kelihatan cukup marah.
"Sayang?"
Zehra mencoba terus menahan wajah Arash dengan kedua belah tangan nya.
"Karena itu semua ingatan kamu pulih dengan cepat? apa mereka menyarankan agar kamu juga meninggalkan aku? apa ada rencana yang tidak aku ketahui?"
Seketika rahang Arash mengeras.
"Arash"
"Jika sesuatu yang buruk terjadi pada mu saat mereka menyuntikkan serum nya bagaimana? aku benar-benar akan membunuh mereka karena berani melakukan sesuatu pada tubuh mu dibelakang ku"
Kalimat Arash terdengar menggebu-gebu, dia jelas marah, bagaimana mungkin dia tidak diberitahu kan soal rencana semacam itu, bagi nya bagaimana jika sesuatu yang dilakukan semua orang membahayakan keadaan Zehra.
"Sayang"
Arash terus mengeratkan rahang nya sejak tadi.
Melihat ekspresi Arash seketika Zehra mengulum senyumannya.
"Aku baru tahu kalau suami ku bisa menampilkan ekspresi seperti ini ketika mengkhawatirkan diriku"
Zehra tampak terkekeh pelan.
Melihat ekspresi Zehra, seketika kemarahan Arash mulai meredam.
"Baby, kenapa kamu tertawa?"
Arash mulai menampakkan ekspresi kesal saat melihat raut wajah Zehra yang terlihat menatap nya dengan pandangan geli.
"Sayang, itu tidak akan membunuh ku"
Ucap Zehra sambil terus menyentuh wajah Arash.
"Obatnya tidak akan mencelakakan diri ku hmmm"
Zehra melebar kan senyuman nya, mengelus lembut wajah Arash.
"Efeknya hanya melepaskan ingatan yang lama terpendam, mereka membuat penelitian pada serum ini untuk waktu yang cukup lama, dimulai sejak beberapa tahun yang lalu setelah kejadian Zaffa dan Edgard, mereka sudah mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kedepannya, lebih tepatnya untuk berjaga-jaga dimasa yang mereka belum ketahui kapan akan datang"
Sejenak Arash diam, menatap bola mata Zehra untuk beberapa waktu.
"Aku hanya mengkhawatirkan diri mu"
Laki-laki itu berkata pelan,emosi dan kemarahan yang tadi seketika memudar.
"Aku baru tahu jika Arash ku orang yang mudah panik, padahal ekspresi nya selalu kaku selama ini"
Ledek Zehra sambil terkekeh pelan.
"Baby"
Seketika wajah Arash memerah, cukup malu saat sifat aslinya mulai terbuka satu persatu dihadapan sang istri.
"Aku jadi ingin tahu, apakah dia seorang pencemburu?"
Goda Zehra sambil mengalungkan tangannya ke leher Arash.
"Aku bukan type pencemburu"
Jawab Arash cepat sambil memalingkan wajahnya.
"Benarkah?"
Zehra mulai memicingkan sebelah matanya.
"Jangan meledek ku"
Protes Arash cepat.
"Tidak, aku tidak meledek, aku hanya sedang menduga-duga"
"Zahra"
"Pencemburu kah?"
"Tidak"
"Kalau begitu, aku kemana-mana pergi dengan leo boleh?"
"Kalau berani melakukan nya, aku akan memenggal kepala laki-laki itu"
Seketika Zehra terkekeh.
"Dia pencemburu"
"Zahra"
Sepersekian detik kemudian dengan cepat Arash menyambar bibir Zehra, laki-laki itu membungkam mulut Zehra agar tidak terus meledek nya.
"Arash...."
Zehra merengek sambil memukul dada laki-laki itu beberapa kali karena hampir kehabisan nafasnya.
"Itu hukuman karena terlalu cerewet"
Ucap Arash cepat.
"Aku tidak bisa bernafas"
Rengek Zehra kesal.
Kali ini Arash yang terkekeh.
"Ambil nafas sebanyak mungkin"
Bisik Arash lembut, kemudian laki-laki itu kembali menautkan bibir mereka dalam waktu yang cukup lama.