King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 29 A & A



Dan Ilse Kock mencoba mengangkat tangan nya dengan penuh kekesalan, dia bersiap menampar pipi perempuan yang ada di hadapannya tersebut.


dalam hitungan detik bisa dirasakan tangannya melayang-layang ke udara dan dia bersiap membiarkan 5 jemarinya dan telapak tangannya mengecap di pipinya cantik Adeline.


Namun siapa sangka di detik berikutnya tiba-tiba tangannya ditahan oleh seseorang.


Ilse Kock pikir apakah ada laki-laki pelindung yang berani melindungi Adeline? namun rupanya apa yang dia pikirkan jauh di atas pemikiran nya.


Adeline sendiri yang mencoba menahan tangan nya, kemudian dalam hitungan detik Perempuan tersebut tahu-tahu menghempaskan tangan nya dengan cara yang begitu kasar dan di detik berikutnya lagi.


plakkkkkkk.


bola mata Ilse Kock seketika membulat saat dia bisa merasakan sebuah tamparan panas mendarat di pipi kirinya.


jangan ditanya bagaimana rasa pedasnya saat ini, belum lagi dia harus menahan malu yang sangat luar biasa dengan keadaan.


seluruh pasang mata langsung menatap ke arah mereka berdua.


"Aku tidak tahu siapa kamu nona, tapi menghampiriku dengan cara yang kurang ajar, berlaku tidak sopan dan bertindak sangat kasar benar-benar membuatku tidak bisa menahan amarah"


Ucap Adeline kemudian, bola mata perempuan tersebut seolah-olah akan lepas saat ini juga.


"Kau...berani sekali kau menampar ku?"


Ilse Kock jelas marah besar, dia langsung meninggikan suaranya dan membuat kehebohan di gedung tersebut, katakan padanya siapa yang pernah berani menyentuh dirinya sedikit, dia bahkan bisa membunuh siapapun yang berani macam-macam dengannya apalagi hanya seorang Adeline.


Bagaimana bisa perempuan tersebut menampar nya dengan secepat kilat dan berusaha membuat nya malu ditempat seperti ini?!.


Bayangkan bagaimana kehebohan terjadi saat ini, semua orang langsung berkerumun untuk menyaksikan apa yang terjadi di antara mereka, Pesta pertunangan yang seharusnya menampilkan dan menyoroti putra Halogen dan Fervita seketika langsung menyoroti dirinya.


Seketika Beberapa cahaya Kamera Obscura yang terbuat dari kayu menangkap gambar dirinya dan Adeline.


Saat ini kamera Obscura menjadi salah satu penangkap berita paling populer di tahun mereka, beberapa orang yang bekerja mencari berita penting hilir mudik di berbagai penjuru istana dan wilayah, memfoto dan mencari soal informasi, memasukkan cerita ke selembar kertas besar bernama kertas papirus.


Sebagai kertas pertama yang dikenal manusia, sejarah buku tidak dapat dilepaskan dari kertas papirus. Namun berbeda dengan buku yang dikenal di jaman Mesir kuno, bentuk buku yang dikenal pada saat itu tidak berupa lembaran-lembaran yang disusun rapi sebab Bentuk kertas ini bisa di gulung Sebab kertas papirus memiliki panjang mencapai 40,5 meter.


karena itu pada masa kini para orang pencari berita sering memotong kertas papirus berbentuk lebar persegi empat, mengisi nya dengan berbagai tulisan dan gambar kemudian mereka akan menjual nya kepada berbagai macam golongan masyarakat.


bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika para pencari berita membidik gambar mereka kemudian para pencari berita memberitakan soal mereka kepada muka umum dan masyarakat, entah apa yang akan terjadi dan rasa malu seperti apa yang akan menghantam dirinya pikir Ilse Kock.


"aku sama sekali tidak pernah berniat untuk menamparmu, tapi kau yang pertama kali menggangguku dan mencoba mencari masalah dengan ku"


Adeline langsung mendengus, bicara sembari mengingat kan Perempuan dihadapan nya, mengingatkan kan perempuan tersebut agar tidak tiba-tiba amnesia atau pura-pura lupa dengan apa yang barusan dilakukan perempuan itu tadi padanya.


Ilse Kock jelas saja menatap Adeline dengan tatapan tidak percaya, dia pikir dari dulu hingga sekarang, pelacur murahan itu tetap saja tidak pernah bisa dia tundukkan.


namun bedanya dulu pelacur di hadapannya tersebut cukup sulit untuk membantah dirinya karena adanya nyonya Alima dan juga Adalrich yang membelanya, tapi kini suasana sedikit berbeda kedua orang tersebut tidak ada di dekatnya.


"Kau pikir aku akan mendatangi seseorang tanpa alasan? tidakkah kau menyadari Kesalahan mu? kau datang ditempat yang salah, berkumpul dengan orang-orang sekelas kami yang jelas bukan kelas mu"


Ilse Kock bicara sembari menggenggam erat telapak tangan, dia mencoba menahan perasaan nya saat ini.


"Bukan kelas ku?"


Adeline bertanya jelas sambil menaikkan ujung alisnya, dia menatap tajam kearah Ilse Kock.


Baginya wajah perempuan didepan nya terlihat begitu culas dan licik, penampilan luar yang indah tidak menjamin jika perempuan tersebut merupakan orang yang baik didalam nya.


Mendengar pertanyaan Adeline seketika membuat Ilse Kock terkekeh.


Ilse Kock bicara sembari melirik kearah para pencari berita.


"Ini akan sangat menarik untuk diliput dan dicetak besok pagi"


Lanjut Ilse Kock lagi dengan seringai licik nya.


Mendengar ucapan Ilse kock jelas saja membuat orang-orang terlihat penasaran, orang-orang menajamkan pendengaran, dan para pencari berita langsung mengangkat kamera ditangan mereka.


Bukankah cukup menarik saat Ilse Kock yang bicara saat ini?!.


Itu yang mereka pikirkan.


"aku cukup Heran saat aku yang tidak mengenal siapapun disini, tiba-tiba harus berhadapan dengan orang asing yang mencoba memberikan berita besar soal diriku"


Adeline bicara sembari tidak melepaskan pandangannya dari Ilse Kock.


"Kecuali orang bodoh dan gila, apa nama nya?"


Lanjut Adeline lagi.


Mendengar ucapan Adeline Seketika membuat Ilse Kock jelas mengeram.


"Kau pikir aku aku gila dan bodoh?"


Tanya Ilse Kock cepat.


"Adeline, aku tidak menyangka seorang pemberontak dan mata-mata bisa masuk ke kandang lawan tanpa rasa takut sedikitpun saat ini"


ucap Ilse Kock cepat.


bayangkan bagaimana kehebohan saat ini terjadi saat semua orang mendengar ucapan Ilse Kock.


Seketika para pencari berita mulai menjadi heboh, kamera flash berbentuk kayu menghajar mereka dengan cahaya nya.


Ilse kock langsung menaikkan ujung bibirnya, dia pikir dia akan menghabisi Adeline saat ini juga, dia ingin lihat bagaimana caranya Adalrich akan melindungi perempuan tersebut malam ini.


Suara riuh dan gaduh serta penasaran Menghantam semua orang, kata pemberontak dan mata-mata jelas menjadi momok mengerikan, beberapa orang berpakaian serdadu secepat kilat maju di berbagai sisi dan mengangkat senjata mereka.


Bayangkan bagaimana ketegangan terjadi saat ini dihadapan semua orang.


Ilse Kock jelas tersenyum bahagia.


Adalrich jelas cukup terkejut dengan tindakan ekstrim yang dilakukan Ilse Kock, dia tidak menyangka perempuan itu akan bertindak cepat hingga sejauh itu.


Dia maju melangkah untuk mendekati Adeline dan Ilse Kock, mencoba untuk mengklarifikasi ucapan perempuan musang tersebut.


Namun belum dia mampu mencapai dua perempuan itu, yang terjadi didetik berikut nya tiba-tiba suara seseorang memecah keadaan.


"Pemberontak? mata-mata?"


Suara itu terdengar begitu marah, menggelegar dan membuat semua orang langsung menoleh secara spontan.


"Berani-beraninya kau berkata jika dia adalah seorang mata-mata dan pemberontak, nona Ilse kock?"


Lanjut suara tersebut lagi kemudian.