King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 75 A & A



Disisi lain


Sebelum kepulangan Adalrich dan adeline


Masih di mansion tak berpenghuni.


Adeline terlihat menatap laki-laki yang ada di hadapannya tersebut untuk beberapa waktu, seorang laki-laki tampak menundukkan kepalanya sembari menyerahkan sesuatu kepada dirinya, selembar surat dengan kode rumit telah berpindah tangan darinya dirinya menuju ke tangan adeline.


Perempuan itu membuka surat tersebut secara perlahan kemudian mulai membacanya, awalnya Adeline sama sekali tidak mengeluarkan ekspresinya untuk beberapa waktu, bola matanya fokus pada surat tersebut hingga pada akhirnya setelah beberapa waktu berjalan, Adeline menggulung surat tersebut secara perlahan.


Perempuan itu mengambil sebuah lilin yang menyala di samping kirinya, dia mulai membakar surat tersebut secara perlahan membiarkan sedikit demi sedikit berwarna sedikit putih tulang tersebut hingga melebur menjadi abu.


Kemudian bola mata perempuan tersebut menatap kembali pada laki-laki yang ada di hadapannya, dia berkata.


"Bergerak denggan cepat namun perhatikan langkah dengan baik"


Ucap perempuan tersebut kemudian.


"Total semua orang sedang mencari dan juga saling mengkhawatirkan diri jika di antara mereka akan mengkhianati antara satu dengan yang lain"


Adeline bicara lantas berdiri dari posisi duduknya, bergerak bergerak mendekati laki-laki yang ada di hadapannya itu.


"Aku ingin kalian membuat pertikaian di antara mereka, membiarkan mereka saling mencurigai antara satu dengan yang lainnya, dan biarkan mereka bermain-main dengan pemikiran mereka"


Ucap perempuan tersebut kemudian.


Laki-laki yang ada di hadapan adeline berdiri tegak menghadap ke arah adeline, dia menatap perempuan yang ada di hadapannya tersebut untuk beberapa waktu kemudian dia berkata.


"Apa Anda yakin ini akan berjalan sesuai rencana?"


Katanya laki-laki tersebut cepat.


"Jika kematian tidak menghantamku pada lima tahun silam, rencana itu juga tidak mungkin gagal, kali ini aku tidak akan memilih untuk mati kembali, jadi bergeraklah dan beritahukan kepada para pasukan lain jika kita berada dalam mode siaga dan siap menyerang mereka kapanpun sesuai dengan perintah "


Ucap Adeline kemudian.


"Baik nona"


Laki-laki itu menjawab dengan cepat sembari menundukkan kepalanya.


"Jangan lupa kirimkan mereka surat untuk mengecoh pemikiran mereka"


"Baik, nona"


*****


Beberapa hari sebelum keberangkatan adeline dan Adalrich


Ke Hamburg


Mansion utama Adalrich


Pagi 


Pelayan nyonya Alima terlihat menatap kearah Adeline untuk beberapa waktu, dia menundukkan kepalanya Sembari bergerak menyiapkan teh hangat dan roti untuk sang nyonya nya.


Adeline terlihat bergerak membuat secangkir teh untuk dirinya sendiri tanpa mengeluarkan sedikitpun suaranya.


Kebisuan terlihat terjadi di antara mereka, terlihat begitu hening namun menimbulkan suara berisik dari cangkir teh di mana sendok yang digunakan oleh Adeline terdengar mengacau suara gelas keramik dihadapan nya.


Nyonya Alima masih berada di kamar utama yang sering dijadiin mereka sebagai kamar inap dirinya dan suaminya, wanita itu bisa jadi benar-benar belum terjaga dari tidurnya, malam ini dia menginap di sana hanya demi untuk menyelidiki siapa sebenarnya adeline.


Namun kemarahan Wanita tersebut juga terjadi, saat dia tahu suaminya sama sekali tidak pulang sejak semalam, tidak paham kemana arah tujuan tuan Petra, yang jelas laki-laki tersebut benar-benar menghilang sejak sore hari.


Pelayan kepercayaan nyonya Alima terlihat mulai meletakkan cangkir teh nyonya Petra secara perlahan di atas meja, kemudian dia mulai menyiapkan roti isi selai untuk wanita tersebut.


Memastikan semua sudah siap jika nyonya nya bangun dari tidur dan membersihkan diri.


Pekerjaan pelayanan dan tester jelas harus dia jalankan, memastikan makanan yang akan dikonsumsi nyonya nya sama sekali tidak berbahaya dan tidak mengandung racun yang bisa membunuh wanita tersebut.


Taruhan utama adalah nyawanya sendiri, dia yang menjadi tester utama untuk Nyonya Alima sejak dia muda.


Dia bahkan menghabiskan setiap hari nya dengan mengonsumsi makan makanan mewah. Sayangnya, di saat banyak orang kelaparan karena perang, tapi dia tidak menikmati makanan mewahnya itu, sebab setiap kali berhadapan dengan makanan, setiap suapan bisa berarti kematian.


Sepiring makanan disajikan bagi pencicip makanan untuk para anggota kerajaan, istana dan orang-orang penting harus melalui seorang pencicip makanan.DIa harus memakannya antara sarapan pagi, makan siang, cemilan sore dan makan malam.


Memastikan apa yang dia makan baik-baik saja tanpa ada kandungan racun didalam nya sama sekali.


Jika dia tidak tidak menunjukkan tanda-tanda keracunan, makanan itu dipastikan bisa dikonsumsi oleh Nyonya atau tuan mereka seperti tanpa beban.


Sedangkan dirinya harus bertarung sama seperti tester lainnya setiap harinya dengan nyawa mereka.


Jika keberuntungan datang maka mereka akan baik-baik saja, setiap keberuntungan tidak datang maka dipastikan hari itu adalah hari kematian mereka.


Saat mati tidak ada kompensasi sedikitpun yang akan diberikan, bahkan setelah mati pun keluarga mereka tidak ada yang akan menjamin keselamatan nya.


Jika ditanya apakah mereka takut dan bosan dengan pekerjaan tersebut, jawabannya tentu saja iya, tapi mereka telah terpilih menjadi seorang tester ketika mereka diseret dan diambil oleh tentara untuk dijadikan budak didalam berbagai macam tempat baik Menuju ke istana atau kebagian orang-orang penting di dalam ruang lingkup istana dan juga para pejabat lainnya.


Wanita tersebut terlihat mengehela Pelan nafasnya, memastikan teh yang dia hidangkan dan juga roti yang dihidangkan baik-baik saja.


Tidak terdapat sedikitpun racun di sana bisa membahayakan nyonya Alima.


Tidak ada lagi rasa takut dalam mencicipi makanan tersebut, karena bagi nya perasaan tersebut jelas telah mati sejak lama.


Setelah memastikan semua memastikan semua berada diatas meja, wanita tersebut memilih berdiri menatap makanan yang ada di hadapannya satu persatu, tidak berhenti dari sana hingga sang nyonya nya datang dan duduk untuk makan di sana.


Sejenak bola mata dia dan Adeline bertemu, bisa dia lihat adeline berjalan mendekati nya, memilih salah satu kursi disana tanpa mengeluarkan suaranya, namun saat perempuan tersebut berjalan mendekati wanita tua itu, sejenak tangan mereka saling bersentuhan, di mana bisa dilihat telapak tangan Adeline yang menggenggam sesuatu, telah berpindah ke telapak tangan wanita tersebut.


Mereka tetap tidak bicara antara satu dengan yang lainnya sehingga pada akhirnya dari ujung tangga, nyonya Alima berjalan turun dari dalam kamar nya dan bergerak menuju ke arah meja makan dengan gaya angkuhnya.


Sang pelayan nyonya Alima secara perlahan menyelipkan sesuatu ditangan nya tadi tepat ke pinggang nya, dia terlihat menundukkan kepalanya sembari menunggu kedatangan nyonya nya.


Seulas senyuman tipis naik dari balik bibir adeline, dimana perempuan tersebut mencoba menghirup nikmatnya aroma yeh yang ada di hadapannya, dia memejamkan  bola matanya secara perlahan, menikmati suasana pagi dengan perasaan yang begitu senang.


Dua orang tersebut saling menyimpan rahasia yang tidak pernah diketahui siapapun yang ada di sekitar mereka.


******


Aku menjamin satu kebebasan tanpa imbalan.


*****


Kembali ke sisi nyonya Alima.


Wanita tersebut jelas langsung terkejut saat dia melihat para pasukan yang ada di hadapannya mengacungkan senjata ke arah para anak buahnya dan termasuk dirinya.


Nyonya Alima langsung mengeluarkan ekspresi yang begitu mengerikan penuh kemarahan, dia merasa seolah-olah baru saja dikhianati oleh orang-orang yang tanpa dia ketahui siapa.


"Apa-apaan ini?"


Wanita tersebut tanpa begitu marah, dia ingin menarik senjatanya namun tiba-tiba.


Suatu ledakan pistol dari salah satu lawan seketika mengejutkan dirinya, bayangkan ketika dia melihat satu orang kepercayaannya jatuh tumbang di depan saya.


Nyonya Alima jelas langsung membulatkan bola matanya, dia tampak bergetar sembari mencoba menurunkan senjatanya.


"Kalian sebenarnya siapa?"


Tanya wanita tersebut sambil mencoba menahan perasaannya.


Di tengah pertanyaannya tersebut tiba-tiba saja muncul seorang laki-laki yang bergerak berjalan ke arah depan, melihat laki-laki yang ada di hadapannya tersebut ia berjalan semakin mendekati dirinya seperti kalau buat wanita itu membulatkan bola matanya.


Nyonya Alima seketika langsung menembus tidak percaya saat dia tahu siapa yang ada di hadapannya saat ini.


"Kau sedang menghianatiku?"


Wanita itu bertanya dengan lantang sembari melototkan bola matanya kearah laki-laki dihadapan nya tersebut.


Itu adalah tangan kanan Ilse Kock.


"Bahkan perempuan jahanam itu juga menghianatiku?"


Nyonya Alima bertanya dengan tatapan tidak percaya, seketika dia menggenggam tangan kirinya dengan Sangat erat, sedangkan tangan kanannya masih mencoba menahan pistol miliknya.


Bola mata wanita itu mencoba menelisik ke arah sekitarnya, menatap satu persatu lawannya dengan seksama, dia ingin tahu dan mencari celah untuk bisa melahirkan diri dari tempat tersebut.


Dia cukup tidak menyangka Ilse Kock akan menghianati dirinya, perempuan itu seolah telah menyusun strategi untuk menghancurkan dan membunuh dirinya.


"Aku tidak menghianatimu nyonya, aku hanya menjalankan perintah yang diberikan oleh Ilse Kock"


Apakah dia juga yang merencanakan banyak hal untuk berbelok?"


Nyonya Alima bertanya dengan cepat.


"Atas dasar apa dia apakah karena dia tidak bisa mendapatkan Adalrick? Hingga berani-beraninya dia mengkhianatiku di belakang semua orang ?"


Wanita itu bertanya sebarin dia berusaha untuk mencari celah dalam pelarian.


"Aku hanya menuruti perintah tanpa tahu alasan yang jelas, mari bekerja sama dan biarkan aku mempermudah penangkapannya dan membawanya ke tempat yang telah di tentukan oleh Ilse Kock"


Laki-laki di hadapannya bicara sambil menaikkan ujung bibirnya, laki-laki itu menggunakan sarung tangannya secara perlahan kemudian seorang laki-laki muda memberikan pesta pada laki-laki tersebut secara perlahan.


Bola mata nyonya Alima pada tindakan dan gerakan yang dilakukan laki-laki dihadapannya tersebut, gimana bisa dilihat laki-laki itu mulai melakukan senjatanya dan menaikkan senjatanya secara perlahan.


Orang-orang nyonya Alima masih ikut menaikkan senjata mereka, bersiap dengan jutaan kemungkinan yang akan terjadi serta juga siang untuk bertempur juga bertarung nyawa.


Nyonya Alima mengencangkan pegangan nya pada pistol nya kemudian tiba-tiba nyonya Alina tanpa berpikir dua tiga  kali langsung menerjang pintu mobil, dia mengeluarkan perintah untuk melakukan perlawanan pada para anak buahnya.


Hal tersebut sempat membuat laki-laki yang ada di ujung sana membulatkan bola matanya.


Dan jangan ditanya bagaimana keadaan saat ini terjadi, baku tembakan langsung terjadi dari sisi kiri kanan depan dan belakangnya.


Wanita tersebut secepat kilat langsung mengokang pistol nya kemudian dia memerintahkan sopirnya untuk bergerak memecah keadaan, menembus peperangan senjata yang ada di hadapan mereka tanpa berpikir panjang.


Baku tembak terdengar memecah langit malam, laki-laki tangan kanan memberikan tembakan beruntun pada mobil yang dinaiki nyonya Alima.


Seperti seorang ahli senjata yang mencoba menembak di sisi manapun agar tepat sasaran, Mama sayangnya dia tidak berhasil menembak wanita itu sesuai target dan keinginannya karena dari beberapa arah para anak buah nyonya Alima mencoba menembak dirinya.


Sedangkan nyonya Alima sendiri berhasil melarikan diri dari sana.


******


Disisi lain.


Adalrich terlihat berjalan dengan cepat menuju kearah barak barat, dimana dia berjalan masuk ke arah bagian dalam tempat tersebut, semua orang menunjukkan kepala mereka satu persatu.


Pakaian lengkap jenderal yang tertempel di tubuh laki-laki tersebut menampilkan satu ketakutan tersendiri saat melihat ekspresi wajah laki-laki tersebut saat ini.


seolah-olah saat ini semua tidak terjadi dalam keadaan baik-baik saja.


"Apakah semua orang telah menyiapkan senjatanya?"


Adalrich bertanya pada Prada, dia sama sekali tidak menoleh ke arah gadis tersebut, membiarkan fokus bola mata dan tubuhnya bergerak dan mata ke arah depan secara lurus tanpa gangguan.


"Semua telah meninggalkannya sesuai perintah anda, sir"


Frada menjawab dengan cepat sembari mengikuti langkah Adalrich di sisi kanannya.


"Mereka telah melakukan penyerangan malam ini, bagian istirahat presiden jelas tidak baik-baik, calon presiden kedua sepertinya tengah merencanakan sesuatu"


Setelah berkata seperti itu adalah bergerak menuju ke arah sisi kirinya terus berjalan menyusuri lorong-lorong sempit di sana.


Bau amis darah mulai tercium disekeliling tempat tersebut, seolah-olah baru saja terjadi pembunuhan atau pembantaian di ruangan tersebut.


"Perintah Ramonav untuk membawa istri ku dan Chaddrick kecil menunjukkan tempat perlindungan, setelah malam ini aku yakin semua akan pecah tanpa bisa dikendalikan"


Adalrich kemudian menghentikan langkah kakinya, dia menatap Frada yang ikut menghentikan langkah nya tepat dihadapan nya saat ini.


"Ini akan jadi kesempatan terakhir kita menyelesaikan semua nya"


Lanjut Adalrich lagi.


"Kau yakin dengan semuanya?"


Kali ini Frada bicara dengan nada begitu serius serta ekspresi yang begitu serius bukan seperti anak buah terhadap atasannya melainkan seperti seorang adik kepada kakaknya.


"Kita tidak pernah tahu kita akan menang atau kalah, kali ini ada peperangan antar kubu untuk mendapatkan kekuasaan, semua orang sudah saling menyerang antara satu dengan yang lainnya dan itu akan sangat beresiko untuk keluarga kita"


Bola mata gadis itu menatap dalam ke arah kakak sepupu nya tersebut, seolah-olah mencoba menyakinkan kembali laki-laki di hadapannya itu agar berpikir sekali lagi dalam penyerangan tersebut.


"Aku tahu soal hal itu, ini adalah kesempatan terakhir untuk mengembalikan asal semuanya ke titik semula, aku melakukan kesalahan besar di masa lalu, dan di masa kini aku tidak akan melakukan hal yang sama lagi"


Jawab Adalrich cepat.


"Aku hanya mengkhawatirkan soal Adeline dan Chaddrick, takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada mereka sebelum aku menuntaskan semua nya"


Lanjut laki-laki tersebut lagi.


"Kau tidak ingin memberitahukan Adeline soal semuanya? Minimal dia harus tahu jika kamu sedang memperjuangkan dia dan para orang-orang nya"


Frada berusaha untuk mengingatkan Adalrich, dia terus menatap saudara nya itu dengan lekat.


Alih-alih menjawab ucapan Frada, laki-laki tersebut malah berkata.


"Dia sudah Cukup membantu membuat Alima dan Ilse Kock saling menyerang, keselamatan nya akan terus berada di bawah Aurora, dia akan baik-baik saja selama kita bergerak menyelesaikan semua nya"


"Adalrich"


"Aku yang akan menyelesaikan semua sisa misi tertunda nya dimasa lalu, pastikan kau akan menjaganya dengan baik jika sesuatu yang buruk terjadi pada ku"


Mendengar ucapan Adalrich seketika membuat Frada menggelengkan kepalanya sambil menatap Adalrich dengan bola mata berkaca-kaca.