King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 76 A & A



Ditengah malam langit Jerman Berlin ketika tumpukan salju sudah mulai tidak terlihat dan hujan salju telah nyaris usai berganti dengan musim semi.


Ada aroma khas menenangkan yang biasanya dipilih oleh orang-orang untuk mereka ambil setiap kali musim semi tiba guna menenangkan perasaan dan pikiran menjelang pergantian musim, dan Adalrich paling suka aroma German Chamomile untuk dijadikan essentials oil.


Dia dan Adeline menyukai aroma sama setiap kali musim semi tiba selama mereka bersama.


German Chamomile bunga liar berwarna putih dan kuning yang berharga ini mekar di padang rumput, di sepanjang tepi jalan, dan di daerah yang mendapat sinar matahari. Namanya berasal dari Bahasa Yunani “Khamai” yang berarti “di tanah,” dan “Melon”, yang berarti “apel”. Chamomile telah digunakan sejak dahulu untuk berbagai keperluan dan telah disukai selama berabad-abad.


German Chamomile berada di keluarga yang sama dengan bunga matahari dan aster, dan mekar diantara musim semi dan musim gugur. Essential oil ini memiliki warna biru, yang membedakannya dari sebagian besar essential oil lainnya. Meskipun bunganya lebih kecil dari Roman Chamomile, tetapi aroma dari essential oil ini tidak kalah menakjubkan.


Bola mata Adalrich sejenak menatap kearah kaca besar yang ada dihadapan nya tersebut, dimana pantulan dirinya terpampang jelas di balik kaca, laki-laki itu telah menggunakan pakaian lengkap nya, seolah-olah ini akan jadi waktu pertarungan terakhir nya.


Frada terlihat menatap punggung Sang sepupu nya tersebut untuk beberapa waktu, dia menghela nafasnya dengan berat Sembari bersiap untuk melakukan perintah yang diberikan oleh laki-laki tersebut.


Suara para bala tentara terdengar dari luar sana, seolah-olah semua orang telah bersiap dengan sejuta kemungkinan yang ada, dia tahu malam ini seolah-olah akan menjadi malam penentuan untuk mengakhiri segala hal yang ada di antara semua orang.


******


Disisi lain.


Mansion utama Adalrich.


kamar Adalrich.


Adeline baru saja mengencangkan kaos tangan mendominasi berwarna hitam di kedua belah tangannya tersebut, bola mata nya menatap tajam kearah depan untuk beberapa waktu.


Dia mencium aroma musim dingin menuju ke musim gugur untuk beberapa waktu kemudian Perempuan tersebut menoleh kearah sisi kanan nya dengan cepat.


"katakan"


Ucap Adeline kemudian.


"Mereka telah saling menyerang antara satu dengan yang lainnya"


Seorang laki-laki Bicara sambil menundukkan kepalanya, dia menunggu perintah selanjutnya dari sang pemimpin mereka.


Adeline terlihat diam sejenak kemudian dia mengeluarkan titah nya.


"Buat mereka saling menyerang antara satu dengan yang lainnya hingga akhirnm"


"Baik nyonya"


Begitu laki-laki tersebut menjawab dan bergerak menjauhi dirinya, Adeline terlihat memejamkan sejenak bola matanya.


Satu ingatan di masa kecilnya dulu menghantam dirinya.


"Kau mengkhianati ku?"


Seorang laki-laki dengan tubuh yang dipaksa berjongkok oleh dua tentara di sisi kiri dan kanan nya terlihat marah menatap kearah Perempuan yang ada dihadapan nya, Alina muda terlihat menaikkan ujung bibirnya, merasa puas melihat laki-laki dihadapan nya kini terlihat tidak berdaya, seolah-olah dia baru saja mendapatkan kemenangan nya saat ini.


Tatapan tajam bola mata Perempuan muda dengan penuh ambisi terlihat jelas di balik Surai laki-laki tersebut, dia mana pernah menyangka jika perempuan tersebut akan mengkhianati dirinya.


Alima berjalan mendekati laki-laki tersebut, memilih berdiri dengan angkuh sembari menginjak tangan laki-laki itu yang terletak di atas lantai dengan penuh kesenangan.


Alih-alih mengerang kesakitan laki-laki tersebut memilih diam dan tidak mengeluarkan sedikit pun erangan rasa sakit yang menghantam dirinya.


"Terkadang untuk bisa dilihat oleh seseorang dan mendapatkan kejayaan sendiri, kau harus berani mengkhianati seseorang dan menghabisi mereka yang menjadi penghalang"


alima bicara Sembari menaikkan ujung bibirnya, kebahagiaan jelas terpancar dari balik bibirnya.


Ini adalah pemberontakan, lebih tepatnya dia bergerak mendapatkan perintah menyingkirkan orang-orang dimasa kini untuk membiarkan sang menyingkir peran menjadi orang-orang baru yang bisa dia manfaat kan.


Jaminan yang diberikan tentu saja sangat baik dan luar biasa, dia akan mendapatkan satu jabatan baik untuk naik menjadi orang penting didalam istana.


Ambisi seperti itu jelas menjadi hal yang biasa untuk orang-orang yang ingin berkuasa dan mendapatkan apa yang mereka inginkan.


Ada satu jaminan lain yang bisa dia dapatkan juga pada masa ini, menyingkir kan saudara perempuan nya demi bisa naik menjadi istri seorang petinggi penting didalam istana.


"kau gila"


Umpat laki-laki dihadapan Alima dengan penuh kemarahan.


Mendengar umpatan tersebut membuat Alima terkekeh, dia mengeluarkan tawa mengerikan nya dari balik wajah liciknya.


"Habiskan semua Anggota keluarganya tanpa terkecuali"


Satu perintah meluncur dari bibir perempuan tersebut, dia membuang pandangannya dan menetap ke arah para bawahannya.


"Bunuh hingga tidak tersisa satupun anggota keluarga mereka"


"Alima...."


Laki-laki tersebut membulatkan bola matanya, dia berteriak penuh kemarahan dan mencoba untuk memberontak.


Tapi didetik berikutnya.


Dorrr....rrrr.


Satu tembakan dari belakang kepalanya membuat laki-laki tersebut seketika terdiam tidak bergeming, darah segar mengalir dari belakang kepala laki-laki tersebut.


Di satu tempat di balik kemari kayu salah satu sudut ruangan tersebut, Adeline kecil berusaha untuk menahan tangisannya, mengintip dari lubang kunci kosong yang ada dihadapan nya sembari menahan mulut nya dengan kedua belah telapak  tangannya.


No...!.


Tangan nya terlihat gemetaran, dia berusaha untuk menahan tangisan nya yang akan pecah, satu ucapan yang di katakan oleh Bayah dan ibunya.


jangan bergerak, diam dan jangan keluar dari sini apapun yang terjadi.


Gadis kecil itu sama sekali tidak bergeming, sembari bola matanya terus menatap ke arah Alima, kemudian dia mencari tiap sosok orang-orang yang ada di ruangan tersebut.


Dia tahu ini pengkhianatan, terkadang untuk mendapatkan apapun yang mereka inginkan, orang-orang tidak akan sungkan untuk saling menyingkirkan antara satu dengan yang lainnya.


Awalnya begitu bermuka manis dan menjadi pendukung mereka, di detik berikutnya mereka bisa berubah karena tergiur dengan hal lain.


Itu terlalu murah terjadi pada perang politik demi mendapatkan pangkat dan jabatan tanpa peduli siapa yang mereka hancurkan.


Alima.


Nama itu terbenam di dalam otaknya dengan jelas, bahkan wajah perempuan itu tidak bisa dia lupakan.


Gadis kecil tersebut terus berusaha untuk tidak membuat gerakan di dalam sana, meskipun dia mendengar suara pistol terus memenuhi tiap sudut ruangan ditambah jeritan-jeritan beberapa orang yang dia tahu siapa saja disana.


Yang adeline ketahui dia harus tetap bertahan dan hidup meskipun semua orang akan pergi meninggalkannya dengan cara tragis, dia harus bertahan hingga akhir di sana Dan tidak menggerakkan tubuhnya sama sekali.


Genangan darah terlihat di mana-mana di setiap sudut ruangan, wajah-wajah mengerikan terlihat dari balik lubang kecil di mana dia berada.


Seketika adeline terbangun dari ingatan nya, perempuan tersebut kemudian meraih pistol yang ada di atas meja rias di hadapannya.


Klatakkkkk.


Dia mengokang senjata tersebut dengan gerakan cepat.


*****


Dalam langit malam kelam di mana salju secara perlahan telah menghilang, seorang wanita terus mencoba melajukan mobil nya menuju ke arah depan, melewati perbukitan untuk menyelamatkan dirinya dari keadaan.


Sial.


Nyonya Alima mengumpan dengan kesal keadaannya saat ini, dia pikir bagaimana bisa semua jadi sekacau saat ini.


Dia harus bergerak mencari bantuan untuk melindungi dirinya dari keadaan, dia tahu pada akhirnya dia akan sampai pada titik ini.


Hahahaha.


Wanita itu tertawa terkekeh di dalam mobil nya, iya terus mencoba melanjutkan mobilnya ke arah depan namun sayangnya tiba-tiba mobil tersebut mati mengenaskan.


Hal itu sontak membuat nyonya Alimah gelagapan, dia mencoba untuk menstater mobilnya berkali-kali namun sayangnya gagal.


Api kamarahan terlihat di balik wajahnya, dia pikir kenapa bisa denting seperti ini mobilnya bertingkah, wanita itu buru-buru mengambil senjata apinya, dia bergerak turun dari mobil miliknya dengan cepat, nyonya Alima pikir tidak jauh lagi dia akan tiba pada pusat bala bantuan.


Wanita itu berlarian dengan cepat kearah depan, dia tahu di depan sana akan ada Dalmiro yang membantu dirinya.


Bola mata wanita tersebut bergerak dengan awas menatap di sisi kiri kanannya dan juga sesekali dia menoleh ke arah belakangnya, cukup takut jika musuh mengejar dirinya saat ini.


Ilse Kock.


Wanita itu mengeram dengan sejuta kemarahan di dalam dirinya, tidak pernah menyangka jika perempuan itu akan bergerak begitu licik di belakang dirinya.


Dia tahu Ilse kock marah karena perempuan tersebut tidak berhasil mendapatkan Adalrick, merencanakan penghianatan dan penyerangan pada dirinya juga berpihak pada salah satu kubu untuk naik dan mendapatkan keuntungan.


Seharusnya sejak awal dirinya lebih waspada pada perempuan itu mengingat bagaimana watak buruk Ilse Kock.


Dia lupa jika dia bahkan lebih buruk dari perempuan tersebut, di masa lalu menghianati banyak orang termasuk saudaranya sendiri, jadi dia pikir wajar saja jika Ilse Kock menghianati dirinya, ntar pada akhirnya seorang penghianat akan hancur di tangan penghianat yang lainnya.


Nyonya Alima terus menyeret langkahnya dengan cepat menuju ke arah depan sembari tangan-tangannya tetap memegang senjata dengan erat.


Namun siapa sangka di tengah gerakan langkahnya tiba-tiba dia cukup terkejut dengan bayang-bayang yang ada di depan sana, tangan kanan wanita tersebut bergerak dengan cepat mengangkat senjatanya saat dilihat dari seseorang muncul tepat di hadapannya.


Tingkat kewaspadaan tingginya siap menembak siapapun yang ada di depannya saat ini, namun seketika dia menghentikan gerakan tangannya ketika dia sadar siapa yang ada di hadapannya.


"Rupa nya itu kau"


Ucap nyonya Alima dengan perasaan sedikit lega, dia pikir pada akhirnya dia bertemu dengan kubu kawannya.


Tapi seketika bola mata nyonya Alima membulat dengan sempurna saat dia sadar sosok di hadapan yang menaikkan senjatanya dengan cepat.


"halo nyonya Alima"


Klatakkkkk.


"Kau...?!"


*******


Disisi lain


Kediaman tuan presiden


Ulang tahun istri presiden.


Ilse Kock secara perlahan menaikkan gelas sulangan nya, dia menatap nyonya presiden yang ada di hadapannya dengan tatapannya sulit dijelaskan, perempuan itu menaikkan gelasnya dan menunggu wanita di hadapannya ikut menaikkan gelasnya juga diikuti oleh beberapa perempuan dan wanita lainnya.


Berbagai macam suara permainan piano dan biola terdengar memecah seluruh ruangan tersebut, suara buntungan demi-bentingan piano dan juga gesekan biola yang mengandung syahdu menambah keindahan di malam ulang tahun istri orang paling tinggi di negara mereka.


Suara canda tawa dan juga dentingan gelas yang saling beradu akibat sulangan demi sulangan yang terjadi terjemah di seluruh area gedung tersebut.


Bisa dilihat tumpukan kado dan juga hadiah-hadiah indah dan mahal diberikan oleh semua orang untuk presiden saat ini demi mendapatkan muka.


Membuat Ilse Kock sejenak mendengus kan nafasnya dengan kasar.


Perempuan tersebut secara perlahan mulai menyesap minumannya dengan tenang, membiarkan bola matanya memperhatikan semua orang yang ada di ruangan tersebut.


Nyonya presiden terlihat berkali-kali menaikkan gelas minumannya, menikmati pesta ulang tahunnya dalam perasaan bahagia, apalagi ketika dirinya mendapatkan maju tak ada istimewa jutaan senyuman mengembang dibalik wajah yang mulai menua Dari dirinya.


Unta berapa lama waktu pesta tersebut berlalu, yang jelas malam terasa semakin larut, suara musik terus mengalir dengan syahdu, menambah suasana menjadi begitu indah.


Hingga pada akhirnya tidak tahu bagaimana caranya tiba-tiba saja satu persatu orang-orang yang ada di ruangan tersebut menguap secara perlahan, dan mulai merasa mengantuk seolah-olah ada satu efek tersendiri yang terjadi dari minuman yang mereka minum saat ini.


Hingga hal tersebut membuat semua orang tampak mulai mengerutkan kening mereka.


Nyonya presiden bahkan merasakan hal yang sama.


"Ada apa ini?"


Perempuan itu bertanya sembari mencoba menahan bola matanya yang terasa berat, hingga tiba-tiba bisa dia lihat Ilse Kock mulai berdiri dari posisi duduknya, berjalan perlahan dari tempatnya mendekat ke arah nyonya presiden.


"Apa Anda baik-baik saja, nyonya?"


Ilse Kock Bertanya dengan cara yang begitu tenang dan santai.


"Kau...?"


Nyonya presiden terlihat mencoba menahan suaranya.


****


Disisi lainnya.


Barisan para serdadu mulai bergerak memecah keheningan malam, suara langkah sepatu dan juga senjata di sisi kiri dan kanan para serdadu terdengar saling beradu memecah keadaan.


Seolah-olah perang besar akan terjadi saat ini di mana semua orang sudah memiliki rencana, untuk siapa yang membaca rencana siapa tapi malam ini akan menjadi malam penyelesaian di antara semua orang.


Dan malam ini juga akan menjadi malam akhir untuk orang-orang.


Adeline terlihat duduk dengan tenang di dalam mobil di mana dia tempati saat ini, bola mata perempuan itu Menatap tajam ke arah bangunan yang ada di ujung sana.


Beberapa orang-orangnya terlihat mulai bergerak memecah barisan di ujung sana, tidak ada percakapan sama sekali yang terjadi, semua fokus pada apa yang mereka lakukan.


Sisa barisan senjata mulai ditarik satu persatu oleh orang-orang Adeline yang berada di belakang, mereka adalah sisa tentara serdadu yang dimiliki saat ini di mana para tentara lainnya telah memecah barisan diri di beberapa tempat atas perintah dirinya dan orang-orang nya.


Kini sisa daripada mereka menunggu perintah perempuan tersebut dalam keheningan malam.


Adeline masih tidak bergeming sama sekali, seolah-olah dia telah menghitung waktu sembari tangan kanannya memegang sebuah teropong untuk mengintip ke arah bangunan yang ada di hadapannya tersebut.


"Biarkan dia bergerak jauh lebih dulu"


Tiba-tiba perempuan itu membuka suaranya, dimana bola matanya terus masih menatap ke arah depan.


"Kita akan membiarkannya mendapatkan kemenangan lebih dulu di awal"


Lanjut perempuan itu lagi kemudian.


"Setelah itu baru bergerak untuk menyelesaikan semua nya"


Setelah berkata seperti itu adeline terlihat menaikkan ujung bibirnya.