King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Teman lain yang merindukan nya



Saat Anta terbangun di keesokan harinya kenyataan yang didapat semua orang mendesak agar enardo menikahi dirinya dengan alasan jika enardo telah berlaku tidak senonoh pada dirinya semalam.


"Mom ini semua tidak seperti yang mommy fikirkan"


Anta berusaha menyakinkan semua orang jika itu tidak benar ada nya, dia di jebak oleh seseorang.


"Tapi pandangan keluarga Gideon jelas telah berubah soal kamu, bahkan ada keluarga Xavier ikut masuk melihat kalian, apa itu bisa memperbaiki pandangan mereka soal kamu?"


"Mom"


"Tidak ada seorang laki-laki pun yang mau menikahi kamu kendepan nya, kamu sudah di anggap rusak oleh semua orang"


Mommy nya bicara dengan nada yang begitu tinggi.


"Tapi aku tidak pernah melakukan nya"


Anta tampak begitu kesal.


"Kenapa kalian tidak pernah mempercayai ku sejak dulu, selalu saja memandang ku dengan sebelah mata"


Anta jelas begitu benci dengan tuduhan semua orang, bahkan enardo hanya diam tanpa membuat pembelaan di ujung sana, hanya duduk di meja kerja nya di mansion mereka dengan kedua tangan memangku keningnya.


"Enardo, tidak mau kah kamu menjelaskan semuanya?"


Tanya anta dengan emosi yang meluap-luap.


Sejenak enardo melepaskan pangkuan tangan nya, laki-laki itu menatap lurus kedepan.


Kamu fikir aku tidak melakukan pembelaan semalam?


Ucap enardo dalam hati.


"Aku sudah melakukan nya"


Ucap enardo pelan.


"Kau jangan bicara, biarkan kami yang bicara"


Uncle anta bicara cepat, meminta agar enardo tidak ikut bicara di antara mereka.


"Pernikahan kalian akan tetap di langsung kan lusa"


Ucap Uncle Anta cepat.


"Mom?"


Seketika bola mata Anta memanas, dia tahu pernikahan ini akan sia-sia, dia fikir ini salah, enardo dan dia tidak punya kesamaan, yang di cintai laki-laki itu jelas Kakak perempuan nya Zaffa.


Ditambah lagi semua hanya kesalahpahaman, Anta yang salah, seharusnya Arash datang membantu nya semalam jadi dia tidak harus melibatkan enardo di dalam urusan nya dan mereka tidak harus terjun hingga sejauh ini pada akhirnya.


"Aku tidak mau"


"Anta...."


"Anta..."


Tidak lagi dia hiraukan panggilan semua orang, baginya dia butuh waktu untuk menenangkan fikiran nya, lari dari semua hal hingga orang-orang membatalkan pernikahan mereka.


Sepersekian detik kemudian Anta dengan gerakan cepat mencoba menghubungi seseorang, cukup lama hingga panggilan itu terhubung dengan cepat.


"kamu ada dimana?"


Anta bertanya dengan perasaan yang menggebu.


Dia jelas tidak punya teman berbagi, satu-satunya orang yang baru memahami nya jelas adalah zehra, tapi saat ini dia butuh seseorang yang lain yang bisa membuat dirinya tertawa.


"Aku ada di Sungai Siene"


Saat mendengar Jawaban dari seberang sana, anta dengan cekatan memutar posisi mobilnya.


"Aku akan pergi menuju ke sana".


Terdengar tawa renyah dari balik sana.


"Apa kamu merindukan ku? aku fikir kamu sudah melupakan ku"


Anta ikut tertawa.


"Aku mungkin merindukan mu, hanya hari ini atau mungkin hingga besok, selanjutnya aku tidak tahu apa aku akan merindukan mu"


Ucap Anta cepat.


"Kemarilah, aku akan menunggu mu"


Anta melajukan dengan cepat mobilnya, menuju ke arah dimana orang itu menunggu nya. 1 sosok yang selalu ada untuk dirinya dikala dia butuh seseorang untuk bersandar Beberapa waktu, tidak pernah mengeluh meskipun anta acapkali berlaku tidak adil padanya, tidak pernah lelah menungg anta bersandar didadanya.


Saat mobil itu menepi dipinggiran Sungai Siene dengan gerakan cepat bola mata Anta mencari sosok yang dia cari, begitu matanya melihat sosok itu dengan gerakan cepat Anta mendekati sosok itu.



Seketika bola mata di depan sana menatap anta, seorang laki-laki dengan wajah rupawan nya tampak melebarkan Senyuman nya, dia membentang lebar kedua tangannya, menunggu anta masuk kedalam pelukannya.



Anta memeluk erat tubuh laki-laki itu, memejamkan bola matanya dan berusaha untuk melepaskan seluruh beban yang ada didalam hatinya.


"Aku fikir kamu tidak merindukan ku, sudah hampir 2 bulan lagi-lagi kamu menghilang dari pandangan mataku"


Bisik laki-laki itu pelan sambil terus memeluk erat tubuh Anta, lantas mencium lembut leher Anta beberapa kali.