
Rahang enardo jelas mengeras, gigi nya saling beradu, bola matanya menatap penuh kekecewaan terhadap zaffa.
"Kenapa kamu melakukan semua itu?"
Pertanyaan penuh dengan nada kesal dan marah menghantam dirinya.
Dia menatap tajam bola mata zaffa.
"Apa maksudmu, enardo?"
Zaffa pura-pura tuli, pura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi.
Gadis itu duduk di atas kursi roda, menatap dalam wajah enardo yang diliputi kemarahan yang menggebu.
"Kamu merencanakan semuanya dengan matang, menjebak Mark untuk mencelakakan Anta, kamu mengatur timing waktu nya dengan tepat dan kamu tahu saat anta meminta bantuan Arash laki-laki itu tidak mungkin melakukan nya, hingga aku mau tidak mau datang membantu Anta"
Enardo bicara dengan kemarahan yang membuncah, hatinya terasa sakit, bola matanya menyiratkan jutaan kekecewaan yang mendalam.
"Kamu Menjebak ku malam itu dengan Anta, kamu tahu keluarga Xavier dan Gideon membuat kunjungan ke mari untuk menemui Arash da istrinya, kamu benar-benar memperhitungkan seluruh timing nya dengan baik, zaffa"
Saat mendengar ucapan Enardo hati zaffa jelas ikut merasa sakit, tapi dia fikir bukan kah dia tidak punya pilihan lain lagi? satu-satunya cara untuk membuat mereka menikah tentu saja dengan cara seperti itu.
Enardo berusaha mengendalikan emosi nya yang menggebu-gebu, dia berusaha duduk di hadapan zaffa, bola mata nya tampak berkaca-kaca.
"Aku tanya sekali ini saja, apa kamu tidak pernah mencintai ku selama ini? meskipun sedikit saya, bahkan hanya seujung kuku mu?"
Tanya enardo sambil menatap dalam bola mata zaffa.
Gadis itu menelan salivanya secara perlahan, mencoba mengatur nafasnya agar tidak didengar oleh Enardo.
"Zaffa? jawab aku sekali ini saja, jika kamu memang tidak pernah mencintai aku, maka aku benar-benar akan melepaskan tangan ku dari mu"
Seketika zaffa berusaha menahan tangan nya yang tampak gemetaran, dia mencoba untuk menahan juga perasaan sesaknya, sejenak dia menelan kembali salivanya, lantas dia berkata dengan penuh keyakinan.
"Tidak, aku tidak pernah mencintai kamu Enardo, satu-satunya orang yang aku cintai sejak dulu hingga sekarang hanya Laki-laki itu, tidak pernah sedikitpun nama mu terukir didalam hati ku"
Zaffa bicara dengan penuh keyakinan, suara nya terdengar tegas, lugas dan mantap.
Seketika Enardo menelan salivanya, sepersekian detik kemudian laki-laki itu langsung berdiri lantas berbalik.
Air mata nya tumpah seketika, jutaan kecewa menghantam perasaan nya.
"Aku pikir kamu sudah melupakan dia"
"Aku akan menikahi Anta sesuai keinginan mu"
Setelah berkata begitu, Enardo dengan gerakan cepat langsung beranjak pergi meninggalkan zaffa, membanting pintu kamar itu dengan sedikit kasar.
Zaffa menahan gemetar tangannya sejak tadi, gemuruh didadanya kali ini pecah tidak terkendali, bola mata nya menatap ke arah kiri, Enardo tampak melesat membawa mobil nya menjauh dari sana.
Aida masuk ke dalam ruangan itu dengan cepat, berusaha meraih tubuh zaffa yang mencoba berdiri dengan jutaan kesedihan.
Sepersekian detik kemudian gadis itu menangis meraung didalam pelukan Aida.
"Bukankah itu pilihan nya? lalu kenapa rasanya begitu sakit sekali?"
Ucapnya disela tangisan nya yang terus pecah.
Aida hanya bisa menahan tangis nya, memeluk erat tubuh zaffa dengan bola mata berkaca-kaca.
******
Enardo fikir seperti biasa anta akan kabur dari rumah, membuat ke kacauan, pergi ke diskotik, minum lalu bartender yang mengenal Anta akan menghubungi dirinya agar segera membawa Anta pulang ke rumah, tapi Realita nya kali ini jauh berbeda.
Anta jauh lebih tenang, gadis itu tidak tahu berada di mana saat ini, beberapa club malam yang enardo hubungi berkata jika gadis itu sama sekali tidak terlihat masuk ke tempat mereka hingga saat ini, bahkan teman-teman anta sama sekali tidak tahu di mana keberadaan gadis itu.
Enardo jelas tiba-tiba menjadi panik dan gusar, fikiran buruk tiba-tiba menghantam dirinya.
Bunuh diri!
Sebaris kata itu membuat enardo Takut setengah mati.
Berkali-kali dia mencoba menghubungi Anta melalui handphone nya tapi tetap sia-sia, gadis itu sama sekali tidak menghiraukan panggilan nya.
"Oh shi..t"
Enardo mengumpat panik saat tahu hujan mulai membasahi bumi, bola matanya terus menatap lurus kedepan sedangkan tangannya terus sibuk mengendarai mobilnya, dia terus menyusuri jalanan untuk mencari sosok Anta dari sekian banyak pejalan kaki yang hilir mudik di sekitaran.
Cukup lama dia kesana-kemari mencari namun tidak membuahkan hasil, hingga dia ingat satu tempat yang sering gadis itu datangi di masa kanak-kanak mereka
Mungkinkah?
Tanya Enardo dalam hati.
Seketika dia memutar mobil nya menuju ke arah dimana biasanya dulu mereka ber empat sering menghabiskan waktu ketika merasa kecewa, Ditengah deras nya air hujan dan pekat serta gelapnya malam.