
Masih di masa lalu
"Mommy...mommy..."
Zehra kecil tampak mulai menangis saat tubuhnya dibawa lari entah kemana, dia masih bisa mendengar teriakan mommy nya yang terdengar begitu mengerikan terus menggema melewati angin malam.
perempuan yang sering dia panggil Untie Vee itu terus membawa tubuh nya menembus pekatnya langit malam menuju ke arah sebuah pelabuhan, seorang laki-laki berusia sekitar 40 tahunan telah menunggu mereka disana.
Secepat kilat tubuh zehra berpindah kedalam sebuah kapal yang di Naiki oleh beberapa orang, kemudian kapal itu mulai melaju membawa mereka entah kemana.
******
Disisi yang berbeda
Cullen terus melangkah menyusuri tiap sudut ruangan rumah yang dia datangi itu, mencari sang pengawal kepercayaan nya yang tiba-tiba membawa Zehra kecil milik nya menjauh dari kehidupan nya sesuai perintah dari istri ke dua nya itu.
Dia jelas bukan type laki-laki yang suka di khianati dari belakang, dia juga bukan type laki-laki yang mau mengampuni siapapun yang telah berani mengkhianati dirinya.
"Dimana putra laki-laki itu?"
Cullen bertanya pada semua orang yang ad di ruangan itu.
"Aku tanya di mana bocah laki-laki itu? putra laki-laki yang berani mengkhianati ku?"
Teriak nya penuh kemarahan, bola matanya jelas menatap tajam semua orang yang ada disana.
"Kami tidak tahu tuan"
Seseorang menjawab Dengan suara gemetaran.
Cullen jelas mendengus kesar, dia meludah di sembarang tempat lantas meraih rokok di kantong celana nya juga pamatik nya, secara perlahan dia menyalakan rokok miliknya.
"Musnahkan seluruh keluarga nya, dan bawa bocah laki-laki itu ke hadapan ku"
Mendengar perintah laki-laki itu seketika semua orang membeku.
"Tuan...tuan...kami tidak bersalah"
"Tuan..kami tidak tahu soal apapun"
"Tuan.."
Suara teriakan, tangisan dan jeritan yang memekakkan telinga terus terdengar di seluruh penjuru wilayah itu, beberapa warga yang tahu siapa laki-laki itu lebih memilih diam, menutup pintu rumah mereka dan mencoba untuk meringkuk didalam kamar mereka masing-masing, berpura-pura tidak mendengar apapun juga tidak melihat apapun malam itu.
Siapa yang tidak tahu Betapa kejam nya komplotan mafia itu, sekali nya mencari gara-gara dengan mereka, itu artinya tidak ada kehidupan untuk mereka, dan mereka fikir kenapa 1 keluarga itu mencari gara-gara dengan laki-laki itu.
Seorang bocah laki-laki yang baru saja pulang dengan sepedanya tampak membulatkan bola matanya, dia menatap tidak percaya saat seluruh rumah milik keluarga nya terbakar tidak tersisa, dengan histeris bocah laki-laki itu mencoba menerobos masuk ke dalam rumah itu, mencari anggota keluarga nya yang mungkin masih tersisa.
Tapi seluruh warga berusaha untuk menahan tubuhnya, orang-orang berkata tidak ada satu pun yang selamat didalam sana, tidak ada yang berani angkat bicara bagaimana kejadian yang sebenarnya.
"No...no...."
Bocah laki-laki itu berteriak histeris, dia terus berusaha memberontak untuk masuk, tapi orang-orang terus mencoba menahan tubuhnya.
******
Cullen menyeret langkahnya menuju ke ranjang rumah sakit itu, menatap wajah bocah laki-laki yang ada di hadapannya itu dengan pandangan yang sulit di artikan.
Sang bocah laki-laki itu sejak semalam tidak sadarkan diri karena mencoba untuk terus memaksa masuk ke dalam kobaran api demi mencari anggota keluarga nya.
Sejenak bocah laki-laki itu membuka bola matanya, seketika Cullen dan laki-laki itu saling menatap antara satu dengan yang lainnya.
"Siapa nama mu?"
Cullen bertanya sambil menatap tajam bola mata laki-laki itu.
"Enardo, nama saya enardo tuan"
Cullen menaikkan ujung bibirnya, kemudian dia berkata.
"Bukankah kamu telah kehilangan seluruh anggota keluarga mu? bahkan kamu tidak memiliki apapun saat ini?"
Enardo tampak diam, tidak bergeming sedikitpun.
"Aku bisa membantu mu untuk memulai kehidupan yang baru, mendapatkan keluarga yang baru juga dunia yang baru"
Enardo tampak mengerutkan dahinya, menatap bingung ke arah laki-laki itu.
"Kau hanya perlu mengurusi semua urusan Cullen company dan patuh pada seluruh perintah ku hingga putri ke dua ku kembali"