King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Oh sayang



Zehra terus memperhatikan wajah Arash sejak tadi, menelisik wajah laki-laki itu dengan perasaan bahagia, meskipun caranya kaku dalam mengungkapkan perasaan nya, tapi setidaknya Zehra tahu dia cukup punya arti di hati laki-laki kaku itu.


Sangat sulit sekali menebak karakter Arash hingga membuat Zahra berfikir mungkin dia tidak penting bagi Arash sebelum nya, tapi setidaknya setelah ungkapan perasaan Arash keluar tadi, dia yakin Arash memang hanya tidak pandai mengungkapkan perasaan nya saja.


Sejatinya ada banyak type laki-laki di dunia ini, ada yang terang-terangan menampilkan perasaan nya melalui kata-kata romantis, ada yang melalui perhatian nya bahkan ada yang sifat nya dingin tapi sebenarnya begitu mencintai pasangan nya.


Ketika dia terlalu larut dalam pemikiran, tiba-tiba Zehra seolah-olah ingat akan sesuatu.


"Aku fikir ini akan cukup berbahaya jika Edgard tiba-tiba datang"


Zahra bicara sambil menatap dalam wajah Arash.


Laki-laki itu terus menyuapi dirinya sejak tadi secara perlahan, mata Zahra masih terlihat memerah karena habis menangis untuk waktu yang lama.


Perasaan sedih jelas masih bergelayut di hatinya, tapi seperti kata Arash, dia tidak bisa mengabaikan dirinya dan kandungan nya, mereka jelas butuh nutrisi cukup di awal trimester.


"Aku sudah minta uncle Oemar mengatur semuanya"


Jawab Arash cepat sambil terus menyuapi kembali Zehra dengan makanan nya.


"Ya?"


Tanya Zehra dengan ekspresi cukup terkejut, mulut nya masih terisi makanan, terlihat cukup lucu bagi Arash yang melihatnya.


Sejenak sang istri mengunyah dan menelan makanannya.


"Ini kerjasama? seperti konspirasi licik?"


Zehra memicingkan sebelah matanya, menatap Arash penuh dengan kecurigaan setelah menyelesaikan makanan nya.


Dia fikir pantas saja suaminya bisa menyelinap masuk, Arash jelas-jelas punya orang dalam di villa Edgard.


Seketika Arash tertawa melihat ekspresi Zehra, dia menyentil pelan kening sang istri sambil meletakkan piring makanan ke atas nakas.


"Dia sudah mulai main curiga-curigaan"


Ucap Arash dengan perasaan geram.


"Akhhh"


Zehra meringis pelan.


"Aku hanya menerka-nerka saja"


Ucap Zehra sambil mengelus keningnya.


"Sakit? aku fikir cukup pelan melakukan nya"


Tanya Arash panik.


"Ini sakit sekali, coba lihat? ini memerah"


Zahra merengek, memicingkan bola matanya, mencoba menggoda Arash.


"Benarkah sakit? aku benar-benar melakukan nya dengan lembut"


Arash mencoba menelisik kening Zehra, memperhatikan nya dengan seksama untuk beberapa waktu.


Sejenak Zehra mengulum senyuman, dia baru tahu bagaimana ekspresi Arash ketika terlihat panik, bahkan wajahnya jadi dipenuhi rasa bersalah yang begitu dalam.


"Maafkan aku"


Ucap Arash pelan.


Zehra bicara sambil tertawa senang, menatap bola mata Arash dalam waktu yang begitu lama.


"Aku dikerjai?"


Arash balik bertanya.


Zahra Tampak terkekeh.


"Ini benar-benar buruk"


Arash menggelengkan pelan kepala nya, menggenggam kedua pipi Zehra hingga membuat bibir Zehra membentuk huruf U.


"Dia mulai jahil pada ku"


"Uku tuduk juhul..."


Zehra mencoba bicara sambil terus menatap wajah Arash.


Tapi laki-laki itu dengan cepat mencium Zehra begitu dalam.


Seketika Zehra memukul-mukul lengan Arash, laki-laki itu melepaskan ciumannya.


"Arash aku tidak bisa bernafas"


Oceh Zehra kemudian, lantas mencoba menarik dalam-dalam nafasnya dengan rakus.


Arash tampak terkekeh.


"Oh sayang"


Ucap Arash tiba-tiba lantas memeluk erat tubuh Zehra.


"Entahlah Bagaimana aku hidup tanpa kamu dalam beberapa hari ini"


Arash memejamkan bola matanya sambil menggesek-gesekkan dagunya ke kepala Zehra.


"Sayang?"


Zehra bertanya pelan.


"Itu panggilan yang sangat manis"


Ucapnya lagi.


"Ucapkan lagi"


Pinta Zehra cepat.


"Sayang"


Bisik Arash pelan.


"Lagi"


"Sayang"


"Lagi"


"Dia mengerjai aku lagi"


Ucap Arash sambil melepas kan pelukan nya, meraih wajah Zehra lantas mencium nya kembali.