King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 38 A & A



Begitu Adeline naik ke atas panggung sembari membawa putranya, Adalrich terlihat menatap punggung sang istrinya untuk beberapa waktu, pada detik berikutnya laki-laki tersebut lebih memilih untuk membuang pandangannya kemudian dia bergerak beranjak dari sana secara perlahan.


tidak tahu apa yang akan diputuskan oleh Adeline, Adalrich lebih memilih untuk tidak melihat ataupun mendengarnya.


karena dia tahu kemungkinan besar perempuan tersebut bisa jadi menolak pernikahan mereka.


sebab tidak dipungkiri selain Adeline mengalami lupa ingatan, perempuan tersebut jelas merasa risih dengan kehadirannya, belum lagi kisah percintaan mereka pada masa lalu yang membuat Adalrick merasa begitu bersalah kepada Adeline.


seperti katanya tadi kepada Adeline, dia menyerahkan seluruh keputusan terhadap perempuan tersebut, apapun yang diputuskan oleh istrinya itu dia akan menerimanya.


meskipun tidak dipungkiri mereka adalah sepasang suami istri, namun tidak ada yang tahu satupun soal hubungan mereka selama ini, ditambah lagi kondisi adalah yang seperti itu tidak mungkin membuat dia harus memaksa perempuan tersebut menerima dirinya.


dia tahu, siapa nama Adeline mungkin akan mengingat soal jati dirinya sendiri dan juga kisah masa lalu mereka, pada saatnya tiba kan ada masa di mana Adelin juga ingat bagaimana perlakuannya terhadap Adeline dan juga kedua orang tuanya.


di masa lalu dia bukan laki-laki yang baik juga bukan suami yang baik untuk Adeline, dia tahu betapa besar kekecewaan perempuan tersebut kepada dirinya, karena itu kenapa Adelin sampai memilih untuk menerjunkan dirinya di tepian jurang penghubung di pinggiran desa di Jerman.


apapun keputusan Adeline dia akan menerimanya, sebab dia tahu dia tidak lagi bisa memaksa perasaan Adeline saat ini, hati perempuan itu bisa terjadi telah mati untuk dirinya, sebab dia tahu respon yang diberikan oleh adimin kepada dirinya sejak perempuan tersebut bangun dari tidur panjangnya jelas sangat berbeda seolah-olah dirinya adalah satu penyakit atau bahkan hama pengganggu yang begitu mengganggu hidupnya.


sebelum dia melangkah beranjak pergi, laki-laki tersebut Masih sempat melirik ke arah Adeline untuk beberapa waktu hingga akhirnya dia benar-benar memilih menjauh dari sana.


selain untuk menghindari tatapan mata Adeline, dia jelas memiliki tugas yang lain untuk mengawasi laju keamanan pesta pertunangan putra tuan Halogen dan nyonya Fervita.


namun ketika Adalrich baru akan mencoba beranjak menjauhi tempat tersebut, tiba-tiba saja bola matanya menangkap satu sosok yang ada di ujung sana.


bola mata laki-laki tersebut seketika membulat, rahangnya seketika ikut mengeras.


Kau...!.


Dia berseru didalam hati nya.


dalam hitungan detik seketika bola mata Adalrich langsung bertemu pandang dengan bola mata sosok yang ada di depannya itu, bisa dilihat bagaimana ekspresi orang yang ada di ujung sana saat melihat dirinya.


seulas senyum tipis dan juga licin mengembang dari sosok tersebut, alih-alih membiarkan bola mata mereka beradu pada akhirnya sosok itu langsung membuang pandangannya lantas dia langsung menoleh ke arah panggung yang ada di sisi kirinya.


awalnya ekspresi sosok tersebut biasa saja namun detik berikutnya bola matanya langsung membulat dengan sempurna saat dia menyadari siapa yang ada di atas panggung itu.


sosok itu buru-buru bicara pada laki-laki yang ada di sisi kirinya, entah apa yang mereka bicarakan untuk beberapa waktu, seolah-olah dia bertanya apa yang terjadi saat ini sebab ada wakil presiden dan juga seorang perempuan yang sangat dia kenal tengah berdiri di atas panggung tersebut.


laki-laki yang berada di samping sosok tersebut tanpa membisikkan sesuatu dan memberikan jawabannya dengan cepat, bayangkan bagaimana ekspresi sosok tersebut saat ini dia seketika mengharapkan keningnya untuk beberapa waktu namun di detik berikutnya sosok tersebut dengan langkah cepat langsung berjalan menuju ke arah depan sebelum dia melihat Adelin membuka mulutnya dan berbicara di atas panggung tersebut.


Disisi lain Adeline masih membeku sembari memegang pengeras suara yang ada di tangannya, dia terlihat bingung harus bicara apa saat ini.


"Anastasya?"


Tuan George bicara sembari menatap dalam bola mata Adeline, laki-laki tersebut menunggu putrinya untuk bicara.


meski tidak dipungkiri dia cukup takut mendengar jawaban Adelin saat ini, namun tidak bisa didustai semua orang tengah menunggu jawabannya yang akan menerima pernikahannya dengan Adalrich.


di ujung sana Nona Aurora menunggu dengan perasaan was bola matanya menatap ke arah Tuhan George sembari dia menganggukkan kepalanya secara perlahan, setelah itu kini bola matanya langsung menatap ke arah tuan Petra.


di mana bisa dilihat laki-laki tersebut berdiri tepat di samping istrinya nyonya Alima, sejenak bola mata mereka saling beradu temu untuk beberapa waktu.


selang beberapa detik tuan Petra menganggukan kepalanya dengan gerakan yang sangat lambat sembari memejamkan bola matanya kemudian membukanya kembali dengan gerakan yang begitu lembut.


seolah-olah ada kode tersendiri yang mereka lakukan saat ini.


Nyonya Fervita terlihat berjalan secara perlahan dari sisi kanan bawah panggung di mana Adeline dan tuan George berdiri, wanita tersebut terlihat mencari sebuah sosok diantara semua orang, seolah-olah semua orang yang berada di ruangan tersebut telah memiliki rencana yang tidak pernah diketahui oleh orang lain sebelumnya.


pandangan bola mata semua orang tanpa memiliki rahasia mereka masing-masing, di mana tidak ada yang pernah tahu yang mana sebenarnya sosok yang jahat dan juga yang mana sebenarnya sosok yang baik.


semua orang jelas punya rencana tersendiri di Balik perjodohan pernikahan yang dilakukan di antara Adeline dan Adalrich.


Adeline sendiri masih tidak bergeming, dia menatap tuan George kemudian melirik kearah Chaddrick.


Dia masih cukup ragu untuk berkata iya atau tidak, bola matanya terus menatap ke arah bocah kecil yang ada di hadapannya tersebut yang berada di dalam pelukannya.


Chaddrick kecil terlihat mengembangkan senyuman termanisnya, membuat siapapun yang melihatnya pasti merasa begitu bahagia.


wajah tampan dan juga sama angkuh nya dengan seseorang, tatapan bola mata bocah tersebut bahkan tidak dipungkiri benar-benar mirip seperti tatapan Adalrich.


Namun senyuman bocah itu mengingatkan Adeline pada seseorang, yaitu....


dirinya sendiri.


"Ibu...."


Chaddrick kecil bicara sambil mengalungkan kedua tangan nya ke arah leher Adeline, super sekian detik kemudian tiba-tiba bocah kecil tersebut membisikkan sesuatu dibalik telinganya .


sejenak Adeline membulatkan bola matanya ketika dia mendapat bisikan dari bocah laki-laki di hadapannya tersebut, untuk beberapa waktu Adeline terdiam dan membeku, hingga pada akhirnya perempuan tersebut menganggukkan kepalanya.


dia lantas mulai menaikkan micropon yang ada di tangannya, dan dalam bentuk berikutnya Adeline berkata,


"Aku.... ini cukup membuatku sedikit deg-degan, aku berharap semuanya datang di acara pernikahan kami"


hanya barisan kalimat tersebut yang diucapkan Adeline saat ini.


namun siapa sangka di detik berikutnya tiba-tiba terdengar suara seseorang memecah keadaan.


"Tidak, kamu tidak bisa menerima pernikahan nya, sayang"


dan bayangkan bagaimana kehebohan terjadi, bola mata semua orang langsung menoleh ke arah asal suara.