
Disisi lain
Mansion utama Adalrich
Ruang kerja.
begitu kembali dari pesta pertunangan putra tuan Halogen dan nyonya Fervita Adalrich memilih untuk segera pergi ke ruangan kerjanya dan mengurus beberapa tumpukan lembaran kertas yang harus dia urus sejak kemarin.
Saat ini semua orang tahu keadaan Eropa tidak baik-baik saja, mereka harus menyiapkan banyak pasukan kemiliteran mereka dan mengirim beberapa pasukan agar tersebar di beberapa wilayah untuk berjaga-jaga.
Bahkan dia harus mengurusi pengiriman militer mereka ke beberapa bagian negara saat ini untuk sebuah kata perkembangan militer dimana hal tersebut Selain untuk mengembangkan kerjasama, mereka bisa menelisik wajah kemiliteran lain di luar sana.
Laki-laki tersebut sejenak mencoba untuk memijat kedua pelipisnya untuk beberapa waktu, dia pikir karena belakangan kurang tidur membuat kepalanya sering merasa pusing.
Adalrich Belum menemukan obat terbaik untuk rasa sakit kepalanya yang belakangan Terus menghantam.
Pelayan kepercayaan nya telah mencoba membuatkan beberapa ramuan herbal namun tidak juga berhasil untuk meredakan sakit kepalanya yang tiba-tiba datang menghantam di tengah malam.
"Katakan pada ku perkembangan nya"
Tiba-tiba Adalrich bertanya kearah seorang laki-laki yang kini berdiri tepat dihadapannya tersebut.
"Leonard dan Dalmiro tidak berada dalam satu kelompok yang sama, mereka merupakan dua kelompok dengan orang-orang berbeda yang bergerak dibelakang mereka"
Laki-laki dihadapan Adalrich bicara dengan tegas, bola mata nya menatap lurus kearah Adalrich, menyampaikan penyelidikan yang dilakukan dalam beberapa waktu ini.
Mendengar ucapan laki-laki dihadapan nya tersebut sejenak membuat Adalrick diam, dia menyandarkan punggungnya di kursi sofa bercorak kerajaan yang terbuat dari kayu mahoni terbaik, ukiran emas mengelilingi kursi tunggal yang di duduki oleh laki-laki tersebut.
"Sejak awal telah ada rencana pemberontakan agar seseorang dibelakang mereka untuk naik menjadi presiden, Leonard menggunakan nona Adeline untuk masuk mencari orang-orang yang ada diruang lingkup kerajaan yang merupakan sekutu mereka, bahkan rencana awal mendekati tuan Dalmiro termasuk dalam rencana Leonard untuk menjatuhkan laki-laki tersebut di bawah genggaman mereka melalui Adeline dan menarik orang-orang Dalmiro agar menjadi bagian dari pada mereka"
Lanjut laki-laki tadi dengan nada suara yang begitu tenang, dia kemudian menyerahkan Beberapa lembar foto hitam putih ke arah Adalrick.
"Tapi semua rencana mereka menjadi kacau Ketika anda memilih nona Adeline di malam itu, tuan"
Keheningan sejenak terjadi, Adalrich sama sekali belum mengeluarkan suaranya.
"Namun ada hal yang cukup aneh di balik identitas sesungguhnya Nona Adeline"
Sejenak laki-laki dihadapan Adalrich menghentikan ucapannya.
Bola mata Adalrich kini langsung kembali mengarah ke arah laki-laki dihadapan nya tersebut.
Laki-laki itu adalah mata-mata utusan nya, dalam beberapa waktu dia meminta orang tersebut menyelidiki soal pemberontakan yang terjadi, siapa Adeline dan apa yang melandasi pemberontakan yang dilakukan Adeline.
"Ini mungkin sedikit mengejutkan dan membingungkan, tapi nona Adeline sejak awal memang memiliki surat kelahiran di Jerman, tapi seseorang membakar nya dan membuat dia kehilangan identitas awal nya, seolah-olah nona Adeline masuk ke Jerman karena dia memang sedang mencoba merebut kembali hak nya yang pernah di rampas oleh seseorang"
mendengar ucapan laki-laki itu seketika membuat Adalrick mengerutkan keningnya.
"Istri anda bukan orang yang lahir dari kasta kelas bawah, dia memiliki satu rahasia yang membuat dia menerima tawaran Leonard untuk masuk ke Jerman selain atas dasar cinta pada laki-laki tersebut, dia memiliki satu misi lain tersembunyi yang diam-diam dia rancang bersama orang-orang nya yang hingga kini belum diketahui siapa"
Lanjut laki-laki tersebut lagi.
Adalrich cukup terkejut mendengar ucapan laki-laki dihadapan nya itu, namun dia memilih untuk tidak juga membuka suara nya sejak tadi.
Suara Frada terdengar ikut masuk di antara mereka, gadis itu sejak tadi duduk di atas kursi yang berbeda, menjadi pendengar setia tanpa bicara.
Kali ini dia mengeluarkan suara nya.
"Bukankah aku sudah bilang sebelumnya? kalung yang dia gunakan seperti milik Anggota kerajaan di masa lalu, tapi kamu bilang dia bisa jadi mencurinya dan kata-kata mu terdengar begitu mengerikan saat menuduh nya kala itu"
Frada kembali bicara, mengingatkan Adalrich soal kecurigaan dirinya.
Dulu dia beberapa kali berpikir jika Adeline pasti bukan orang biasa, ada rahasia yang disimpan gadis tersebut dimasa lalu, sebab sejatinya orang-orang memiliki masa lalu dan identitas kekuarga yang ingin ditutupi.
Dia menyakinkan dirinya jika Adeline merupakan gadis keturunan dari keluarga kerajaan, dimana dia benar-benar pernah melihat Adeline menggunakan sesuatu yang pernah dia lihat digunakan oleh istri presiden terdahulu sebelum masa turun nya presiden kemarin berganti pada presiden masa kini.
Meskipun kecurigaan nya merajalela, Adeline berkata dia bukan anggota kerajaan, dan Adalrich menyetujui nya, laki-laki tersebut bahkan bicara dengan nada yang begitu kasar dan mengerikan dikala laki-laki tersebut belum benar-benar jatuh cinta pada Adeline.
Namun kala itu kemarahan Adalrich tengah menjadi-jadi karena hasutan Ilse Kock dimana dia melihat Dalmiro dan Adaline berada di kamar yang sama ketika di pagi buta.
"Seseorang yang hidup di kasta rendah tidak mungkin bisa merangkak naik di kasta tinggi, kecuali dia pelacur kerajaan mana mungkin dia adalah bagian dari kerajaan"
Frada benar-benar jijik dan marah pada ucapan Adalrich yang menghakimi Adeline dimasa itu tanpa mau mencari tahu soal kenyataan kenapa dia bisa ada di kamar yang sama dengan Dalmiro.
Semua terjadi karena jebakan siluman rubah, yang sejak awal ingin agar Adalrich membuang Adeline dan menghukum nya dengan cara yang begitu mengerikan.
Mendengar ucapan Frada, sejenak Adalrich menoleh kearah gadis tersebut.
"Yang menjadi pertanyaan besar ku, siapa sebenarnya ayah Adeline? rasanya cukup aneh ketika ayah ku menyakinkan diri semua orang jika Adeline adalah putri tuan George, tapi sebelumnya dia berkata kepada ku dan ibu ku jika Adeline adalah putri tuan Halogen dan nyonya Fervita"
Ucap Adalrich sembari berusaha mencerna dan menyambung benang kusut yang belum juga bisa dia urai satu persatu.
Ucapan ayah nya kemarin dan malam ini membuat dia mulai mencurigai keterlibatan ayah nya sendiri bersama Adeline, sebab dia baru sadar, sejak awal laki-laki tersebut begitu melindungi dan menyayangi Adeline bagaikan putri nya sendiri.
Bahkan ketika dia pernah mencoba untuk memberikan hukuman cambuk 100 kali atas kesalahan yang di perbuat Adeline, ayah nya malah menamparnya dan membebaskan Adeline hari itu dari api Kemarahan nya.
kini semua hal yang diperbuat oleh ayahnya membuat dia berpikir ada hubungan apa sebenarnya antara Adeline dan ayahnya.
semua seketika menjadi teka-teki besar yang harus dia pecahkan satu persatu secepatnya sebelum ingatan istrinya tersebut kembali.
"Cari tahu kembali semua nya, termasuk soal nyonya Aurora, istri wakil presiden"
ucap Adalrich kepada laki-laki yang ada di hadapannya tersebut tiba-tiba, dia seolah-olah ingat akan sesuatu soal perempuan tersebut.
Gadis yang di ambil dari dunia malam?!.
Pandangan mata ayah nya yang menyiratkan kerinduan pada perempuan tersebut didalam Pesta pertunangan putra tuan Halogen dan nyonya Fervita.
Mungkinkah?!.
Satu kecurigaan menghantam dirinya.
"Baik tuan"
Jawab sang mata-mata kepercayaan nya tersebut dengan cepat.