
Zehra mundur beberapa langkah kebelakang saat Arash berusaha untuk menyentuh wajah nya.
Sumsum tulang belakang? penerus mafia? perpecahan 2 mafia? bungsu Cullen, putri Cullen?
Otak Zehra saat ini masih tidak berfungsi dengan baik, masih mencoba mencerna maksud kata-kata semua orang, masih mencoba menelisik wajah Arash yang ada di hadapannya saat ini.
"Zehra?"
Arash terus berusaha untuk menyentuh nya, mencoba untuk bicara dengan nya.
"Bisa beri aku waktu sejenak?"
Tanya Zehra pelan, mencoba mengontrol perasaannya, berusaha meminta Arash untuk tidak mendekati dirinya.
"Aku hanya butuh waktu berfikir"
Lanjut Zehra lagi.
"Aku bisa menjelaskan semuanya"
Arash bicara cepat, mencoba tidak beranjak.
"Apa aku sedang di manfaatkan?"
Tanya Zehra dengan bola mata berkaca-kaca.
Arash menggeleng-geleng kan kepalanya dengan cepat.
"Untuk saat ini, tidak"
Jawab laki-laki itu penuh keyakinan.
"Lalu kemarin? persis yang aku fikir bukan? aku berusaha untuk berbaik sangka, meminta kamu dengan cara yang baik agar menjelaskan semuanya lebih dulu!"
Segurat kekecewaan jelas tercetak di balik wajah cantik zehra.
"Aku berharap mendengar nya sendiri dari bibir suami ku"
Zehra mencoba tertawa sumbang.
"Tapi rupanya aku mendengar nya dari bibir orang lain"
"Zehra... "
"Biarkan aku sendiri dulu"
"Arash?"
Tiba-tiba seseorang mencoba mengetuk pintu, sejenak Arash dan zehra Saling menatap.
"Itu saudara perempuan ku"
Ucap Arash pelan seolah-olah meminta zehra untuk tidak terbawa Amarah nya didepan keluarga nya.
Beberapa waktu kemudian tampak sesosok perempuan cantik dengan aksen wajah Eropa kental & timur tengah menyembulkan kepalanya.
"Ah. adik ipar sudah bangun?"
Suara ramah perempuan itu menatap zehra dengan penuh kehangatan.
"Saudara perempuan ke -2 ku, kamu bisa memanggil nya Lana Lan"
Ucap Arash cepat saat Lana lan mulai menyeruak masuk ke dalam, mendekati zehra lantas memeluk hangat dirinya.
zehra balik memeluk perempuan muda itu.
"Semoga Allah berkahi mu beserta semua orang yang ada di sekitar mu"
Bisik Lana lan pelan lantas mencium lembut pipi zehra.
"Maafkan kami karena terlambat membuat kunjungan, aku dan suami ku sudah mencoba mendatangi kalian di Indonesia, tapi rupanya kita berselisih jalan"
Sejenak zehra diam, menatap wajah iparnya itu begitu dalam.
"Zehra?"
Arash mengejutkan pemikiran zehra.
"Apa ada masalah sayang?"
Lana Lan bertanya ke arah zehra sambil mengerutkan dahinya.
Dengan gerakan cepat zehra menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada, kak"
Lana Lan mengembangkan senyuman nya.
"Aku fikir kita butuh mendapatkan makan malam bersama, sudah cukup terlambat"
Lana Lan bicara sambil menatap Zehra dan Arash secara bergantian.
Zehra mengangguk pelan, dia fikir mereka memang belum mendapatkan makan malam saat di BUSTRONOME karena kedatangan seseorang di antara mereka tadi, bahkan Zehra malah tertidur dikala mereka kembali pulang.
Secara perlahan mereka keluar dari arah dalam kamar, sejenak bola mata zehra terpaku pada laki-laki yang tengah berdiri di ujung tangga.
Zehra hanya melihat punggung laki-laki tersebut sejenak, tampak laki-laki tua itu di temani sebuah tingkat di tangan kanan nya, seperti sedang bicara dengan seseorang melalui handphone nya.
"Itu daddy ku"
Saat Arash berkata seperti itu, sejanak zehra menelan salivanya.
Sepersekian detik kemudian tiba-tiba laki-laki itu berbalik, sejenak bola mata mereka saling menatap antara satu dengan yang lainnya, niat hati zehra ingin menyapa Laki-laki itu tapi saat dia melihat dengan jelas wajah laki-laki itu, tiba-tiba sebuah ingatan menghantam fikiran nya.
Tapak langkah kaki banyak orang terdengar memenuhi seluruh ruangan, bangunan besar dan tua terlihat begitu suram di temani lampu yang temaran.
2 perempuan saling berlarian dengan gerakan cepat, di ujung sana ada banyak sekali orang-orang yang mulai mencari keberadaan mereka.
perempuan yang menyeret tubuh zehta muda dengan cepat memasukkan zehra kedalam dinding rahasia.
"Mommy..."
"Ingat kata-kata mommy, jangan pernah keluar dari tempat ini meski apapun yang terjadi."
Mommy nya bicara cepat ke arah dia, lantas meminta seorang perempuan muda menahan tubuh zehra muda.
"Tutup mulutnya, jangan biarkan dia mengeluarkan sedikit pun suara"
Yang diberi perintah tampak gemetaran.
Secepat kilat dinding rahasia tertutup, hanya meninggalkan suara nyaring yang bisa didengar dengan jelas dari luar sana, tampak sebuah lubang kecil masih bisa digunakan untuk mengintip.
Seseorang berusaha menyeret sang mommy untuk menjauh dari sana, dengan gerakan yang begitu kasat dan memaksa.
Terdengar suara teriakan sang mommy yang begitu memekakkan telinga, zehra ingin berteriak menangis histeris, masih bisa dia lihat dari celah lubang disana ketika seseorang berusaha mematahkan tangan sang mommy.
Lalu sebuah siksaan demi siksaan terlihat dengan jelas di balik pandangan zehra.
No...no....
Tidak tahu berapa lama waktu berjalan hingga zehra seperti kehilangan nafasnya, kemudian tiba-tiba Sebuah wajah tampak mendekati mereka, zehra dapat melihat dengan jelas wajah orang tersebut.
Dia.
kepala zehra jelas terasa ingin pecah, ingatan-ingatan kacau menghantam fikiran nya.
"Zehra?"
Arash mengerutkan keningnya saat melihat ekspresi zehra yang terlihat aneh.
Zehra mundur beberapa langkah saat melihat laki-laki di hadapannya itu, semakin laki-laki itu melangkah maju, semakin zehra berusaha memundurkan langkah nya, sepersekian detik kemudian tiba-tiba tubuhnya ambruk Seketika.