King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Memang tidak pantas untuk nya



Setelah melewati sesi operasi yang cukup panjang, akhirnya Zaffa dipindahkan ke ruangan VVIP elite room di rumah sakit tersebut, beberapa tim kedokteran terus memantau perkembangan gadis itu selama beberapa waktu.


Sedang kan Aida cukup kesulitan membagi waktu antara menjaga Zaffa dan memenuhi tugas nya dari Zehra dalam beberapa hari ini, jika bisa berkata jujur tubuhnya jelas hampir melebur karena rasa lelah yang luar biasa.


Sesekali Aida menarik pelan nafasnya, mencoba memejamkan bola matanya karena rasa kantuk yang luar biasa, hingga akhirnya Aida terlelap tanpa sengaja untuk waktu yang cukup lama.


Sejenak jemari indah Zaffa bergerak secara perlahan, sedangkan bola matanya jelas terasa begitu berat untuk terbuka, mungkin karena efek banyak nya obat-obatan yang terus masuk ke dalam tubuhnya hingga masih menyisakan rasa berat di kelopak mata nya.


Setelah mencoba untuk mendapatkan banyak kesadaran nya, Zaffa dengan cepat membuka bola matanya, mencoba menelisik seluruh ruangan, Seketika dia mendapati Aida tengah tertidur lelap di sisi kirinya.


Zaffa tampak tersenyum lemah, mencoba menggerakkan tangan nya untuk menyentuh Aida, saat gadis itu menyentuh Aida, realita nya Aida sama sekali tidak terbangun, Zaffa fikir mungkin karena kelelahan hingga membuat Aida terlihat begitu lelap dalam tidurnya.


Zaffa melepaskan sentuhan tangan nya, secara perlahan dia mencoba menoleh ke arah sisi kanan nya, mencoba untuk meraih air minum yang ada di atas nakas, tidak tahu kenapa rasa haus jelas menyerang nya.


Cukup sulit bagi Zaffa, namun saat dia masih bersusah payah mendapatkan air minum itu tiba-tiba sebuah tangan berusaha untuk membantu nya.


Seketika Zaffa terkejut, menoleh ke arah sang pemilik tangan. Seketika bola mata Zaffa tampak berkaca-kaca saat menatap seine tersenyum lebar ke arah dirinya.


"Kapan kamu datang Seine? aku tidak menyadari nya"


Zaffa bertanya cepat ke arah laki-laki yang hampir jadi adik ipar nya itu.


Laki-laki itu masih tersenyum sambil menunggu zaffa menghabiskan minuman, lantas menerima gelas itu dari tangan zaffa.


"Cukup lama, kami keluar sejenak membeli beberapa makanan lantas kembali kesini"


Seine berusaha untuk menjelaskan.


"Kami?"


Zaffa tampak mengerutkan keningnya.


"Aku dan sanna"


Jawab laki-laki itu cepat.


"Sanna masih didepan, sebentar lagi akan masuk ke dalam"


Lanjut seine lagi.


"Ah"


"Dimana istri mu, Amira?"


Seine tampak diam, dia tidak menjawab sama sekali.


"Masih tidak bisa menerima kenyataan?"


Tanya Zaffa pelan, mencoba menyentuh tangan Seine pelan.


"Maaf kan aku, Seine"


Seketika air mata Zaffa tumpah.


Dia tahu telah berbuat cukup kejam pada laki-laki itu, memintanya melepas kan Anta, membiarkan Seine menerima perjodohan yang di buat keluarga de Lucas dengan keluarga Al Fattah tanpa memikirkan bagaimana perasaan kedua belah pihak demi bisa menyatukan Anta dan enardo.


Realita nya Seine dan Amira tidak saling mencintai, mereka harus sama-sama berjuang menyusun hati untuk saling menerima.


Tapi selain demi keuntungan untuk bisa menyatukan Anta dan Enardo, Mommy Seine untie shaikka memang lebih dulu datang meminta Zaffa untuk bicara jada Seine agar melepas kan mimpi nya soal Anta, sebab mereka tahu mana yang terbaik untuk putra mereka.


Image keluarga Cullen jelas terdengar buruk, keluarga de Lucas dan hillatop yang terkenal dengan keharmonisan dan penuh cinta, tyoe setia dan begitu menghargai perempuan setelah para laki-laki nya menikah jelas tidak ingin ada ikatan pernikahan yang terjadi Antara keluarga besar mereka dan Cullen, karena itu Untie shaikka berkata.


"Aku tahu tidak ada hubungan cinta boleh di larang selama kedua orang saling mencintai, tapi untie punya jutaan pertimbangan hingga bisa sampai kemari, putuskan hubungan Seine dan anta, jangan buat putra untie masih mengharapkan nya, dan Enardo jelas pantas mendapatkan Anta"


Barisan kata itu menjadi pengingat besar untuk Zaffa, Enardo jelas membutuhkan Anta begitu juga sebaliknya, dan Untie shaikka jelas begitu sayang pada adik bungsu uncle Al Fattah dan berharap gadis itu menjadi menantu nya.


"Tidak ada yang perlu di maafkan, tidak ada yang salah dengan semua ini"


Jawab Enardo cepat.


"Realita nya Anta memang lebih bahagia ketika bersama Enardo, mereka pasangan yang begitu serasi"


lanjut seine lagi.


Yah sangat serasi, dia belum pernah melihat gadis itu tertawa begitu lepas ketika bersama dengan nya, tapi tiap kali bersama Enardo jelas sekali terlihat betapa bahagianya gadis itu.


"Mungkin aku yang belum siap menerima Amira, masih butuh banyak waktu untuk memproses hati"


Seketika keheningan terjadi, Aida masih tampak terlelap dalam tidur nya, Zaffa hanya bisa menghapus perlahan air matanya, sedangkan Seine berusaha untuk menarik pelan nafasnya.