King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 70 A & A



Elena menatap wajah Adeline dengan bola mata berkaca-kaca, melihat iba pada perempuan itu yang menyalahkan dirinya sendiri, seolah-olah tragedi yang menimpa putra nya dan Petra adalah kesalahan nya.


Dia langsung memeluk Adeline secara perlahan.


"Kau tahu? Adalrich adalah laki-laki yang kuat, dia melewati banyak masa rumit bahkan dia pernah sekarat lebih dari hari ini ketika berada di medan perang, jadi jangan khawatirkan soal apapun dan ini jelas bukan kesalahan mu, adeline"


Ucap nya kemudian, sembari dia membiarkan Adeline masuk kedalam pelukan nya, dia mengelus ujung rambut perempuan tersebut secara perlahan, memastikan jika semua bukan salah Adeline.


"Seorang suami memang wajib melindungi dirinya dan menjadikan tubuh nya sebagai tameng untuk istri nya"


Saat berkata seperti itu, bola mata nyonya elena menatap dalam bola mata tuan Petra yang sejak tadi berdiri didepan pintu keluar masuk di mana putra mereka tengah dirawat.


Mendengar ucapan nyonya Elena, tuan Petra jelas mengembang kan senyuman nya.


"Jangan khawatir soal apapun, nak"


Kali ini laki-laki tersebut ikut bicara, Bergerak mendekat Adeline dan memeluk menantu nya tersebut.


*******


Setelah lewat 10 jam pasca operasi Adalrich


Kamar rawat bawah tanah.


Adeline menatap khawatir sang suaminya untuk beberapa waktu, bola matanya tidak mampu terlepas dari sosok suami nya tesebut.


Mata bengkak karena habis menangis masih terlihat di balik bola mata indah Adeline, perempuan tersebut terlihat duduk di atas sebuah Kursi kayu mahoni tepat disamping Adalrich berbaring saat ini, dia membiarkan dirinya yang tidak tidur semalaman terus terjaga dan menjaga suami nya tersebut.


Luka tembak yang terjadi berada di punggung laki-laki tersebut, karena itu posisi tidur Adalrich menyamping, hal tersebut akan sangat susah jika laki-laki tersebut dibiarkan dalam posisi terlentang.


Diluar sana bagaimana semakin diperketat untuk menjeda keadaan, mereka baru tahu orang-orang itu dikirim oleh dua orang yang berbeda Salah satunya dikirim oleh orang dalam untuk mencelakakan Adalrich dan satu nya dikirim untuk mencelakai Adeline.


Frada terus bergerak melakukan penyelidikan, memastikan dia menemukan sang dalang utamanya sebelum Adalrich bangun dari keadaan nya.


Cukup lama bola mata perempuan itu menatap sama suami, Adeline menguap sesekali sembari mencoba meraup wajahnya, dia terus menghilangkan rasa kantuk di matanya demi bisa melihat Adalrich terjaga.


Dia menggenggam erat telapak tangan Adalrich, membiarkan punggung tangan laki-laki tersebut berada di wajahnya sembari Adeline memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu.


Entah berapa lama waktu berlalu dia tidak tahu, hingga akhirnya tanpa dia sadari rasa kantuk menyerang, secara perlahan dia tertidur dan membiarkan kepalanya berada di tepian ranjang.


Menenggelamkan dirinya dalam rasa kantuk liar biasa di mana dia merasa matanya seolah-olah diberikan lem oleh seseorang.


Dia benar-benar butuh waktu istirahat sejenak saat ini, hingga akhirnya dia tenggelam di dalam tidur lelapnya untuk beberapa waktu.


Dan tanpa sadar jemari-jemari Adalrich secara perlahan bergerak secara perlahan, memberikan sebuah respon di mana tubuh itu beberapa kali bergetar.


Hingga akhirnya bola mata laki-laki tersebut terbuka dengan sempurna.


Adalrich seketika langsung terkejut saat dia melihat ada wajah siapa dihadapan nya saat ini, kehadiran Adeline di mana wajah perempuan tersebut tepat berada di depan wajahnya tengah tertidur dengan lelap menciptakan satu sensasi aneh diiringi irama detak jantung yang kacau balau.


Lama dia menikmati wajah cantik tersebut yang terlelap sejak tadi hingga akhirnya laki-laki tersebut terlihat mengeluarkan senyuman lembut nya, kemudian secara perlahan laki-laki tersebut mencoba menggerakkan tangan kirinya, dia membiarkan wajah mereka saling menatap tanpa jarak dan tangannya secara perlahan menyentuh kepala istrinya tersebut.


"Maafkan aku"


Bisik Adalrich pelan sembari dia menatap dalam wajah Adeline yang terlelap.


Hingga akhirnya di detik berikutnya secara perlahan laki-laki tersebut memajukan wajahnya, dia mencium sang istrinya dengan begitu lembut dan dia nyaris tenggelam di dalam kerinduan.


Di tengah ciuman manisnya tiba-tiba saja adeline membuka bola matanya.


Bayangkan bagaimana suasana saat ini, perempuan itu seketika mengedipkan bola matanya untuk beberapa kali saat dia menyadari jika Adalrich baru saja menautkan bibir mereka untuk beberapa waktu.


Mereka diam untuk waktu yang cukup lama, saling menatap antara satu dengan yang lainnya, ini akhirnya Adeline langsung tersadar dari keadaan, dia buru-buru membenahi posisinya dan langsung duduk begitu saja.


"Apakah ada yang sakit?"


Dia bertanya dengan Rona wajah yang sedikit memerah.


"Hmmm"


Adalrich mengangguk pelan.


Mendengar jawaban Adalrich seketika Adeline menjadi panik, dia berdiri dari posisi duduknya dan menggeser kursi, secepat kilat mendekati suaminya dan bertanya.


"Katakan pada ku dimana sakit nya?"


Tanya perempuan itu dengan suara yang sedikit panik.


Adalrich sejenak menikmati ekspresi panik yang ditampilkan oleh wajah istrinya, dia sangat suka setiap kali Adeline mengeluarkan ekspresi seperti itu.


"Naiklah ke atas kasur"


Ini persis sebuah perintah di tengah keheningan menjelang pagi, laki-laki itu bicara seolah-olah tidak ingin ditolak, namun melakukannya dengan lembut agar tidak terkesan memaksa.


Membuat Adeline sejenak seperti orang bingung, hingga akhirnya dia mencoba menuruti ucapan suaminya.


Perempuan itu naik ke atas kasur dan mencoba berbaring tepat di hadapan laki-laki tersebut.


Seulas senyuman tipis terbit di balik wajah Adalrich, dia memeluk Adeline sejenak dibalik rasa sakit punggungnya.


Mendapatkan pelukan dari suaminya membuat Adeline sejenak terdiam, dia menikmati satu kerinduan yang telah lama tidak dia rasakan, membiarkan tangan kokoh tersebut memeluk dan merangkul tubuh nya


Berapa lama laki-laki tersebut tidak melakukan nya!?.


Lama, sudah sangat lama sekali.


"Maafkan aku"


Adeline mengeluarkan suaranya, bicara perlahan Sembari menikmati dekapan hangat Adalrich, laki-laki tersebut membiarkan dagunya berada tepat di puncak kepala Adeline.


"Aku lah yang seharusnya minta maaf"


Ucap Adalrich kemudian.


"Di masa lalu tidak bisa melindungimu, membuat kami tersiksa bahkan nyaris membunuh mu karena kebodohan ku"


Ucap Adalrich pelan.


Adeline terlihat diam, dia menikmati pelukan laki-laki tersebut untuk waktu yang cukup lama.


"Pada masa ini percayalah, aku akan memperbaiki semuanya tanpa terkecuali"


Tambah Adalrich lagi, kali ini dia menggeser posisi nya, mencoba menatap wajah Adeline secara perlahan


Dua pasang netra tersebut saling menatap antara satu dengan yang lainnya, menikmati masa di mana hal seperti ini telah lama tidak mereka jalani.


Adeline menatap kearah Adalrich, mendengarkan dan melihat gerak bibir yang dilakukan oleh laki-laki tersebut.


Hingga akhirnya Adalrich menghentikan ucapannya, mencoba menikmati kebersamaan mereka untuk beberapa waktu hingga akhirnya secara perlahan laki-laki tersebut melesatkan ciuman nya ke bibir perempuan itu.


Mendapat ciuman yang tiba-tiba membuat Adeline sejenak terdiam, didetik berikut nya Perempuan tersebut memejamkan bola matanya, membiarkan Adalrich menenggelamkan dirinya kedalam kerinduan yang telah lama mereka pendam bersama.


Entah berapa lama ciuman itu berjalan, laki-laki tersebut seolah-olah tidak ingin melepaskan ciumannya, membiarkan dirinya tenggelam menikmati bibir indah milik istrinya, dari ciuman yang begitu lembut berubah menjadi begitu menuntun.


Seolah-olah tidak peduli pada luka tembak di belakang nya, laki-laki tersebut kini dengan gerakan sedikit agresif membiarkan mulut dan lidah nya bergerak menjelajahi bibir dan mulut sang istri nya.


Adeline tenggelam, seolah-olah dimabukkan situasi, membiarkan dirinya terbawa arus permainan suaminya, seakan-akan dia juga merindukan sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh Adalrich sejak lama.


Malam ini gerakan dan perbuatan yang dilakukan Adalrich meruntuhkan keterpaksaan Dan dia benar-benar tidak bisa menolak apa yang dilakukan oleh Adalrich kepada dirinya saat ini, perempuan itu terlihat begitu pasrah dan merelakan apapun Yang terjadi.


Adeline terlihat pasrah, Membiarkan Adalrich melakukan apapun yang dia inginkan, dia merasakan gerakan Adalrich jadi sedikit lebih kasar dan penuh gairah, seolah-olah laki-laki tersebut telah berada dipuncak keinginan nya.


Mereka menikmati suasana malam dalam panas nya ciuman menuntun yang membuat gerakan tangan Adalrich mulai bergerak nakal menjelajahi punggung dan dada adeline.


Percayalah Adalrich merasa dibawah sana mulai terasa sesak, dia tidak lagi benar-benar memperdulikan sisa sakit operasi yang dia jalani.


Dia tiba-tiba menginginkan nya malam ini juga.


Adeline sedikit menegang dan menyadari hal tersebut Adalrich berbisik lembut.


"Pejamkan mata mu"


Demi apapun bisikan Adalrich seperti bisikan setan yang membawa Adeline mau menuruti perintah nya, dia memejamkan bola matanya dimana Adalrich perlahan mulai menjelajahi leher nya.


Laki-laki tersebut seolah-olah enggan berhenti, setan kecil terus berbisik dibalik telinga nya.


Tiduri dia malam ini dan tuntaskan hasrat yang tertunda 5 tahun ini.


****.


Setan benar-benar nakal karena berbisik menghasut dia dalam rasa sakit yang tidak dia pedulikan lagi.


"He em... He em..."


Satu suara mengejutkan mereka, membuat kedua orang tersebut seketika menghentikan kegiatan mereka, Adeline terbelalak kaget, dia mendorong dada Adalrich dengan cepat, wajahnya seketika memerah.


"Keadaan mu tidak sedang mengizinkan kamu bergerak terlalu banyak, itu akan membahayakan punggung mu, sayang"


Nyonya Elena bicara cepat, membàwa nampan berisi makanan sambil berjalan menuju kearah nakas kecil di sisi kiri nya.


Dia bukan bermaksud mengganggu, tapi terlanjur masuk dalam keadaan tidak disengaja, mundur kena maju kena, ada suaminya dibelakang nya dan Adalrich dengan nakal berbuat mesum terhadap menantu nya padahal jelas-jelas keadaan putranya tidak sedang baik-baik saja.


Dia pikir kenapa saat keinginan laki-laki memuncak, mereka selalu bergerak terburu-buru dan lupa dengan keselamatan sendiri?!.


Nyonya Elena melirik kearah suaminya.


Ckckckck ayah dan anak sama saja.


Dia berkeluh kesah didalam hati nya.


Tuan Petra terlihat mengulum senyuman nya, bisa menebak isi kepala Elena.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan"


Goda laki-laki tua tersebut.


"Dasar"


Nyonya Elena sedikit mengecilkan bola matanya.


"Dia putra kita, 75% sifat nya adalah sifat ku"


Tuan Petra bicara sambil mengulum senyumannya.


Dia benar-benar menyadari sifat buruknya.


Nyonya Elena mencibir dalam hati.


Melihat ekspresi Elena membuat tuan Petra seketika menjadi gemas melihat nya.


"Tidak kah kamu tahu sayang? Banyak bergerak akan membuat punggung mu cindera, 3 hari puasa ibu rasa itu bukan ide yang buruk"


Wanita tersebut bicara sambil menatap wajah Adalrich.


Dia dan Adeline telah membenahi posisi mereka, Adeline telah turun dari atas ranjang Adalrich, wajah cantik perempuan tersebut memerah.


"Ibu"


Adeline bicara pelan dengan wajah memerah.


Tidak menyangka jika mereka harus kepergok dalam keadaan yang tidak mengenakkan, adeline pikir Adalrich bisa-bisanya berbuat seperti tadi, padahal benar polisi laki-laki tersebut tidak baik-baik saja.


Dan bodohnya dia sangat menikmati apa yang dilakukan oleh Adalrich.


Oh Itu sangat memalukan.


"Tidak ingin beristirahat? Ibu pikir kamu belum tidur sejak kemarin"


Mendengar ucapan nyonya Elena membuat Adeline menggelengkan kepalanya.


"Aku belum mengantuk"


"Makan lah lebih dulu, jangan dengarkan dan turuti setan kecil ini, dia dan ayah nya terkadang tidak sadar situasi"


Meskipun pura-pura marah, nada bicara wanita itu selalu begitu, penuh canda dan tawa, membuat Adeline mengulum senyuman nya karena malu.


Sedikit banyaknya dia juga mau terbuai ajakan setan kecil itu, dia benar-benar payah.


"Aku baik-baik saja"


Adalrich mencoba menyakinkan diri, dia beringsut dari posisinya, mencoba duduk namun benar rasa sakit dan perih menghantam punggung nya.


"Dia keras kepala seperti ayah nya"


Oceh wanita itu pelan, memilih menerima nampan berbahan stainless ditangan tuan Petra, dia kini berdiri tepat disamping Adalrich, memeriksa kondisi punggung putra nya untuk beberapa waktu.


Adalrich terlihat menaikkan ujung bibirnya, dia tahu ocehan Elena bukan karena marah, tapi rasa sayang ibu untuk anak nya, wanita tersebut selalu cerewet soal keselamatan nya dan kesehatan nya.


"Luka nya cukup dalam, apa kamu sudah tahu siapa yang melakukan nya?"


Wanita tersebut mulai bicara, dia meletakkan nampan berisi obat dan berbagai macam perlengkapan nya ke atas kasur kemudian dia menyentuh Adalrich dengan perasaan khawatir.


"Seperti nya aku tahu, Alima tidak bisa diremehkan saat ini, dia bergerak dibelakang semua orang untuk menyingkir kan siapapun yang mungkin menjadi batu sandungan"


Adalrich bicara cepat, membiarkan ibu nya membersihkan punggung nya.


Bisa dirasakan gerakan tangan ibu nya begitu cekatan dalam mengobati dirinya, wanita tersebut pernah sekolah di kedokteran, bahkan berhadapan dengan berbagai macam jenis luka telah menjadi tradisi nya dan kebiasaan nya.


"Belakangan situasi semakin memanas"


Tuan Petra bicara cepat, laki-laki tersebut memilih duduk di kursi kayu yang ada di samping kanannya, ada yang sendiri memilih duduk di atas kursi sofa yang ada di ujung ruangan.


"Alima sedang bergerak untuk bersekutu dengan orang lain, dia mulai kembali ke sifat aslinya di mana dia akan mengkhianati orang yang pernah menjadi bagian dari dirinya, Tuan presiden mulai merasa jika Alima akan menghianati dirinya"


Ucap tuan Petra kemudian.


"Mereka sedang bersedekah dengan posisi masing-masing, saling awas dan waspada, ini akan menjadi kesempatan dan cela untuk kita masuk diantara mereka berdua"


Lanjut laki-laki tersebut kemudian sembari bola matanya melihat bulan mengganti kain kasa dan obat di punggung putra mereka.


"Kamu harus pulih dengan cepat, setelah itu kita akan kembali dan mulai menjalankan rencana A"


Mendengar ucapan laki-laki tersebut semua orang terlihat diam, mereka tahu ini adalah saatnya mereka bergerak dengan cepat.