
Mansion tidak berpenghuni
Hutan Hamburg
Beberapa waktu sebelum acara.
Adeline mencoba menahan gerakan nya ketika sang pelayan nya membantu dirinya mengencang kan korset Busk pakaian dalam yang biasa digunakan oleh wanita dari kalangan menengah ke atas di mana mereka menggunakan pakaian tersebut sebelum menggunakan pakaian gaun di luarannya.
dihadapan sebuah cermin besar didepan nya, perempuan dibelakang Adeline terlihat terus sibuk membenahi pakaian Adeline sambil sesekali dia bertanya apakah ini merasa nyaman dengan tingkat kekencangan Korset Busk yang digunakannya.
"Nyaman?"
"masih cukup nyaman"
"jika aku menarik talinya apakah ini terasa mencekik nona?"
Perempuan tersebut terlihat khawatir, dia mencoba bertanya.
"tidak juga, aku pikir biarkan sampai di sini jangan terlalu dikencangkan kembali, aku takut ini akan terasa tidak nyaman ketika aku duduk atau mencoba untuk mengkonsumsi sesuatu"
Adeline menjawab dengan cepat, dia pikir jika terlalu kencang dia takut dia sulit bergerak dan pakaian nya akan terasa tidak nyaman digunakan.
"Baik nona"
setelah memastikan jika pakaian korset Busk yang digunakan Adeline terbentuk rapi dan pas, dia langsung membantu menggunakan gaun indah untuk Adeline secara perlahan.
sejujurnya hal ini membuat Adeline bertanya-tanya kenapa dia harus menggunakan pakaian seperti ini pada malam hari ini, tapi mempertanyakan itu kepada beberapa orang yang dia temui di sana sangat tidak menguntungkan, mereka tidak memiliki jawaban pasti akan alasannya kenapa Adalrich meminta nya untuk menggunakan pakaian seperti itu.
Dia membiarkan perempuan yang ada dihadapan nya itu untuk melayani dirinya hingga tuntas guna membantu dirinya menggunakan pakaian nya.
Terlihat gerakan perempuan yang ada di hadapannya itu saat membenahi pakaian indah yang dia gunakan, sesekali perempuan itu kembali bertanya apakah itu nyaman untuk di gunakan.
"Aku akan menarik resleting nya, nona bisa berkata pada ku jika ini terasa kurang nyaman"
"He em"
Kemudian perempuan tersebut mulai kembali mengencang kan gaunnya, menarik resleting nya dan memastikan jika penampilan Adeline telah sempurna.
"Kita sudah selesai, apakah nona menginginkan sesuatu? aku akan membantu nona untuk mencari nya.
Dia kembali bertanya kearah adeline setelah memastikan Adeline sudah tampil dengan cara yang begitu sempurna.
Alih-alih menjawab Adeline hanya mengembangkan senyuman nya, dia menggelengkan kepala secara perlahan kemudian menjawab.
"Ini sudah jauh lebih cukup, aku akan bicara dan meminta jika membutuhkan nya nanti"
Ucap nya pelan.
"Baik nona"
Dan pada akhirnya perempuan tersebut menganggukkan kepalanya lantas dia menundukkan kepalanya secara perlahan dan Bergerak mundur secara perlahan.
setelah perempuan itu mundur seorang perempuan lainnya mencoba untuk mendekat dan memperbaiki make up yang digunakan oleh Adeline.
Dia membiarkan adeline untuk duduk terlebih dahulu diatas sebuah kursi mendominasi berwarna merah yang ada di hadapan kaca besar tersebut, setelah itu perempuan itu mulai menggerakkan jemari jemarinya untuk memoles dan menyulap Adeline agar menjadi jauh lebih sempurna.
cukup lama perempuan itu menggerakkan jemari-jemari tangan nya untuk menyulap Adeline, di mana akhirnya sebuah lipstik berwarna muda yang tidak terlalu begitu mencolok menghiasi bibir indah Adeline, sebuah pemerah pipi juga di polos dengan cara perlahan, tidak lupa sentuhan terakhir yang digunakan oleh perempuan itu yaitu menyemprot kan satu aroma parfum yang begitu lembut dan disukai adeline.
setelah selesai dengan semuanya pada akhirnya perempuan itu menundukkan kepalanya.
"Ini semua sudah selesai nona"
mendengar ucapan perempuan yang ada di hadapannya, Adeline langsung bertanya.
"apakah acaranya masih cukup lama untuk di mulai?"
dia bertanya sambil sembari menatap perempuan yang ada di hadapannya itu untuk beberapa waktu.
"kami rasa masih punya banyak waktu untuk nona beristirahat sejenak, tuan berganti pakaian di ruangan yang berbeda"
perempuan menjawab perlahan sembari menundukkan kepalanya.
mendapatkan jawaban seperti itu Adeline kemudian berkata,
"bisa tinggalkan aku sejenak? aku pikir aku butuh istirahat untuk beberapa waktu sebelum keluar dan mengikuti acaranya"
mendengar permintaan sang nyonya kedua perempuan itu menganggukan kepalanya, mereka bergerak secara perlahan keluar dari ruangan tersebut dan membiarkan Adeline mendapatkan informasinya sejenak sebelum Adalrich membawa nya dari sana.
begitu pintu tertutup dan ke dua perempuan itu telah menghilang dari pandangan Adeline, dia terlihat mematung untuk beberapa waktu sembari menatap daun pintu yang telah tertutup rapat.
Adeline berjalan mendekati daun pintu secara perlahan, dia mengunci pintu tersebut dengan gerakan yang begitu hati-hati dan memastikan gerakan nya tidak terdengar sama sekali dari luar sana.
Setelah selesai mengunci pintu tersebut, Adeline mencoba merapatkan telinga nya ke daun pintu untuk beberapa waktu Sembari perempuan tersebut memejamkan bola matanya, dan dalam beberapa detik perempuan itu membuka bola matanya dan berbalik menoleh ke arah sebuah jendela mendominasi berwarna gelap di sisi kirinya, bola mata perempuan itu manatap tajam kearah jendela untuk beberapa waktu.
Adeline terlihat bergerak menuju ke arah tas pakaian milik nya, dia membuka tas tersebut secara perlahan kemudian mulai mencari sesuatu disana, gerakan perempuan itu terlihat begitu hati-hati.
Percayalah sebuah pistol kini terlihat Keluar dari tas tersebut dan sudah berpindah ke tangan Adeline dengan cepat.
di detik berikutnya perempuan itu secara perlahan bergerak mendekati jendela, dia mencoba merapatkan telinganya ke sisi dinding mendominasi berwarna putih di samping jendela tersebut, seolah-olah Adeline mencoba untuk mendengarkan suara dalam langkah kaki seseorang di luar sana.
cukup lama dia menempelkan telinganya di dinding tersebut, memasang pendengarannya dengan sebaik mungkin dan setajam mungkin, dan kemudian listrik berikutnya ada yang seolah Allah telah memasang kewaspadaan nya ketika dia mendengar satu suara gemerisik di ujung sana, dan kini sebuah langkah kaki terdengar bergerak mendekati dirinya.
Adeline sengaja mencoba menahan nafasnya untuk beberapa waktu, dimana bola matanya masih menatap awas pada bagian lantai ruangan kamar tersebut, kedua tangan nya bersiap siaga dengan senjata api ditangan nya, sedangkan dia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya.
Entah bagaimana waktu berlalu, pada akhirnya tiba-tiba satu sosok menyeruak masuk kedalam sana secara perlahan.
Begitu sosok tersebut masuk melalui jendela,
Klatakkkkk.
Adeline mengarahkan senjatanya dengan gerakan cekatan kearah sosok tersebut.
Satu suara bariton laki-laki terdengar memenuhi kamar tersebut, dia bicara kemudian menoleh cepat ke sisi kanannya, dimana adeline mengacungkan moncong pistol nya tepat di pelipis kanan laki-laki tersebut.
"Aku cukup terkejut kamu bisa sampai disini"
Jawab Adeline cepat dengan bola mata yang menatap tajam laki-laki tersebut.
Alih-alih menjawab, laki-laki tersebut kemudian bertanya.
"Katakan pada ku, sejak kapan ingatan mu mulai kembali?"
*******
Kembali ke Kereta Orion Express
Kamar tidur Adalrich dan Adeline
"bagaimana jika di masa lalu aku ternyata bukan orang yang baik, di mana sebenarnya tugasku hanya memanfaatkanmu dan memaksamu untuk masuk ke dalam kehidupanku hingga berakhir pada kata cinta yang sebenarnya mungkin tidak akan berhasil di antara kita"
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Adeline, seketika membuat Adalrick diam sejenak untuk beberapa waktu, dia menelisik wajah Adeline sembari Adalrick mencoba untuk berpikir soal apa yang di ucapkan oleh Adeline.
"Bagaimana jika sejak awal sebenarnya kita saling memanfaatkan antara satu dengan yang lainnya?"
Kali ini Adalrich melemparkan pertanyaan rumit kepada Adeline, seolah-olah sebenarnya pertanyaan tersebut memiliki makna yang sama tapi dari sisi yang berbeda.
Bagaimana jika dia juga melakukan hal yang sama, dia jelas bukan orang yang baik sejak di masa lalu bahkan di masa kini, memanfaatkan Adeline hanya demi sebuah misi dan keuntungan, namun pada akhirnya mereka terjebak pada pusara permainan sendiri yang menyiksa diri mereka masing-masing.
"Apa yang akan kamu lakukan jika aku juga melakukan hal yang sama dimasa lalu?"
Tanya Adalrich lagi.
Mereka diam untuk waktu yang cukup lama, membiarkan keheningan terjadi dimana suara kereta Orion Express terus menebarkan kebisingan nya di antara pertanyaan rumit yang dilontarkan dari bibir masing-masing mereka.
Dua orang itu seolah-olah mencoba memikirkan jawaban pasti atas pertanyaan sama yang jelas terasa begitu rumit dan berat, membuat mulut mereka sama-sama bungkam tanpa mengeluarkan jawaban yang di harapkan.
Bola mata mereka beradu untuk beberapa waktu, seolah-olah masing-masing dari mereka memasukkan bayangan masing-masing didalam netra mereka.
Kebisuan mereka menyiratkan makna yang cukup Sulit dijelaskan, seolah-olah sebenarnya dimasa lalu mereka memiliki rahasia tersendiri dalam misi tersembunyi masing-masing.
"Aku tidak merasa heran ketika kamu bisa memimpin banyak pasukan kemiliteran di usia semuda ini"
tiba-tiba Adeline mengeluarkan suaranya.
"kamu sangat pandai dalam memainkan emosi seseorang, mencoba memutar pertanyaan yang jelas di anggap penting oleh lawan namun berakhir menjadi pertanyaan yang diputar balik kembali untuk lawan, itu terdengar cukup tidak adil"
Netra mereka kembali bertemu, menyimpan satu cerita tersendiri dalam tatapan penuh arti.
"Aku melakukan itu dalam banyak misi, tapi dalam hubungan kita, aku tidak bilang ini misi atau untuk membuat kamu bingung atas pertanyaan balik yang aku berikan"
Adalrich menjawab cepat dari pertanyaan Adeline.
"Tapi tetap saja pada akhirnya aku terjebak pada pertanyaan ku sendiri"
Adeline mencibir, dia mencoba tertawa kecil tapi lucu nya itu palsu, perempuan tersebut kemudian membuang pandangannya.
Melihat ekspresi Adeline, membuat Adalrick diam untuk beberapa waktu.
"Aku melihat kamu seolah-olah kembali menjadi Adeline dimasa lalu saat ini"
"Benarkah? itu artinya aku telah banyak mengingat masa lalu"
Adeline masih memalingkan wajahnya.
"Itu bagus, aku berharap kamu mengingat banyak hal soal kita dimasa lalu"
Jawab Adalrich cepat.
"Dengan begitu kita bisa menuntaskan banyak hal di masa lalu soal kita, kau tahu Adeline? 5 tahun menunggu kamu bangun bukan waktu sebentar, ada banyak permintaan maaf yang ingin aku ucapkan dimulai dari hari pertama kamu bangun, tapi realitanya aku sama sekali tidak bisa melakukan nya"
Adeline langsung kembali berbalik menatap Adalrich.
"Apa kamu menyakiti ku begitu banyak dimasa Kemarin?"
Dia bertanya sembari mengerutkan keningnya.
"Aku tidak berani membela diri, tapi kita selalu saling menyakiti"
Seketika Adeline diam, dia menelisik wajah tampan di ujung sana untuk beberapa waktu, ucapan Adalrich cukup membuat dia kehilangan banyak kata-kata.
Pada akhirnya Perempuan tersebut kembali membuang pandangannya, dia mengapa la nafasnya sembari menatap hujan salju yang tidak ingin berhenti.
Adalrich terlihat diam tidak melanjutkan ucapannya, bola matanya terus menetap ke arah Adeline dimana kini perempuan tersebut memilih diam 1000 bahasa.
Cukup lama hingga akhirnya Adalrich beringsut dari duduknya, dia berdiri kemudian berjalan secara perlahan mendekati dimana posisi Adeline duduk, laki-laki tersebut bergerak perlahan menuju ke arah sang istri nya.
Begitu tiba dihadapan Adeline, laki-laki tersebut Secara perlahan menjongkokkan tubuhnya tepat dihadapan Adeline, membiarkan kedua kakinya menjadi penumpu tubuh nya.
Dia duduk tepat dihadapan adeline, membuat perempuan tersebut cukup terkejut, dia menatap balik kearah Adalrich, menelisik wajah penuh kharismatik dan mempesona laki-laki tersebut.
"aku bukan laki-laki yang baik di masa lalu, menyakiti perasaan kamu dengan berbagai macam cara tanpa sadar, mungkin benar semua perasaan awalnya hanya dimulai dari sebuah kebohongan, aku Dan kamu mungkin melakukan hal yang sama di masa lalu dan kita sama-sama tahu itu, tapi dimasa kini aku ingin bilang padamu soal sesuatu, aku benar-benar tidak siap kembali kehilangan kamu karena aku mencintai kamu, adeline, aku mencintai kamu"
itu mungkin adalah kalimat yang paling sakral dan paling tidak ingin Adalrich ucapkan di masa lalu untuk Adeline, tapi kini dia mengucapkannya dengan sungguh-sungguh, dia mencintai perempuan itu bahkan melebihi rasa cintanya kepada apapun yang ada di dunia ini bahkan dirinya sendiri.
mendengar ucapan laki-laki yang ada di hadapannya tersebut membuat Adeline Diam seribu bahasa, bola mata indah perempuan itu menelisik wajah Adalrich untuk beberapa waktu, tidak tahu sebenarnya ada perasaan apa di dalam hatinya tapi dia merasa ada satu desiran yang menyiksa dirinya saat ini, bahkan dia juga merasa seolah-olah ada beban tersendiri yang menghantam dirinya.
perempuan itu sama sekali tidak mengeluarkan suaranya, bahkan saat Adalrich menggenggam orang kedua telapak tangannya, dia merasa seolah-olah sentuhan itu memang benar-benar tidak asing untuk dirinya.
cinta?.
kata-kata itu terasa menghunus jantungnya, meskipun tidak dipungkiri dia berdebar-debar mendengarnya, tapi terasa ada satu beban lain yang menghantam dirinya.