
Enardo memejamkan sejenak bola mata nya, mencoba bersandar di kursi sofa di sudut kamar milik Anta, kondisi kamar yang gelap membuat dia cukup bisa mencoba menenangkan perasaan nya, sejenak sana dia ingin mencoba menyendiri sambil menunggu keberuntungan siapa tahu gadis itu pulang ke mansion mereka malam ini.
Saat jam di dinding mengeluarkan suara berisik nya tiada henti, menandakan jika waktu tengah malam telah memasuki masa nya, enardo berusaha beranjak dari duduknya.
Sejenak jemarinya menekan perlahan bola matanya, sisa air mata jelas terasa di Jemari nya, dia menghela nafasnya berat lantas mencoba menghidupkan lampu kamar lantas secara perlahan beranjak pergi dari kamar itu.
Namun saat tangannya baru mencapai knop pintu,rupanya dari arah luar seseorang lebih dulu memutar kenop pintu nya.
Sejenak Enardo terpaku begitu juga Anta.
Enardo Fikir mungkin Anta tidak akan pulang ke mansion, seperti biasa anak itu akan pergi kemanapun dia suka, tapi tidak tahu kenapa belakangan Anta mulai mengubah kebiasaan nya.
"Kamu sudah pulang?"
Enardo bertanya pelan, mencoba meraih jaket yang dikenakan Anta, gadis itu awalnya ingin melepaskan jaketnya, tapi saat enardo mencoba menyentuh nya, dengan gerakan kasar Anta menarik tubuh nya dan menghindar dari laki-laki itu.
"Berhenti berpura-pura baik pada ku"
Ucap Anta dengan nada tidak suka, dia menuju ke arah kasurnya, mulai membuang sandal dan jaket nya.
Alih-alih peduli dengan ucapan Anta, enardo mencoba bertanya.
"Apa kamu sudah makan?"
Seketika Anta merasa kesal dengan sikap enardo, secepat kilat dia meraih apa pun yang ada di atas nakas dan mencoba melemparkan nya ke arah laki-laki itu.
Pranggg
Praangg
Praangg
Beberapa benda melesat ke arah enardo, laki-laki itu tidak banyak bergerak, hanya mencoba menahan benda-benda yang Anta lempar dengan tangan nya.
Tapi lemparan berikut nya tepat melewati pipinya, tampak darah segar mulai menetes di sana.
Anta kembali menangis, di mencoba melempari enardo dengan beberapa benda lainnya dan banyak yang ada di hadapan nya.
"kenapa kamu tidak pernah bicara, membantah atau memberontak setiap kali semua orang memberikan mu perintah, breng..sek?"
Pekik Anta kesal.
Air matanya jelas tidak mampu dia bendung, tangis nya pecah bersamaan dengan rasa marah dan kecewa.
Enardo membiarkan Anta melepaskan kemarahan nya, membiarkan gadis itu menangis sejadi-jadinya Hingga rasa puas menghinggapi gadis itu.
Sejenak Enardo membalikkan tubuhnya, dia sama sekali tidak ingin Anta melihat ekspresi wajahnya.
"Kamu ingin tahu kenapa aku diam dan tidak pernah membantah? Aku hanya anak pungut yang di ambil oleh Daddy mu juga oleh keluarga Cullen, yang di rawat dan di besarkan dengan baik, selain balas Budi apa yang bisa orang seperti aku lakukan?"
Enardo mencoba menarik pelan nafasnya.
"Siapapun yang menjadi anak pungut pasti tahu bagaimana rasanya menjadi diri ku"
"Mari berpura-pura bahagia menjalani pernikahan ini, carilah laki-laki baik yang mencintai kamu,yang bisa mengurus Cullen company dengan baik, hingga hari itu tiba aku akan men talak mu dalam satu tarikan nafas"
"Aku juga hanya menunggu hingga zaffa mendapatkan pendonor nya, setelah semua tugas ku usai, aku akan pergi dari tempat ini tanpa pernah menoleh lagi ke belakang"
Setelah berkata begitu, enardo dengan perlahan membuka pintu kamar Anta, dia menutupnya Secara perlahan lantas bersandar di belakang pintu itu sambil berusaha menarik nafasnya pelan.
Sejatinya laki-laki tidak pernah menangis bukan? tapi Realita laki-laki akan menangis ketika dia mencintai seseorang.
Kau tahu siapa yang acapkali membuat ku menangis sejak dulu Anta?
Kamu, hanya kamu!
Enardo secara perlahan melangkahkan kakinya dan beranjak pergi dari sana, membawa perasaan nya yang sejak dulu entah terbang kemana.
Dari balik kamar terdengar tangisan dari Anta, gadis itu terus menangis sambil menjatuhkan dirinya ke lantai, suara tangis nya memecah keheningan malam, beberapa waktu tanpa bisa dia hentikan.