
Tidak ada jawaban sama sekali yang dilontarkan oleh Adeline untuk Adalrich, perempuan itu memilih diam tanpa menimbulkan suaranya sama sekali, dia memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu.
Ada berbagai macam perasaan yang menghantam dirinya saat ini, dia sebenarnya tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja, perempuan itu memilih tidak mengeluarkan suaranya lagi untuk waktu yang cukup lama.
Adalrich terlihat ikut diam, laki-laki itu sama sekali tidak ingin melepaskan pelukannya dari sang istrinya, mencoba untuk menetralisir perasaannya diantara jutaan kerinduan dan juga rasa bersalah yang menghantam menjadi satu untuk saat ini.
Dia menunggu jawaban dari Adeline, kapan perempuan tersebut mengingat soal masa lalu, dia bahkan nyaris tertipu, Cukup tidak menyangka jika perempuan tersebut telah mengingat semuanya tanpa dia ketahui sama sekali.
Diantara dengan diam mereka berdua tiba-tiba saja Adeline berkata.
"kau membunuh ayah dan ibu angkat Ku, Adalrich, bahkan kamu juga membunuh laki-laki yang sudah aku anggap seperti kakakku sendiri"
Kini suara Adeline terdengar bergetar, dia mencoba untuk menahan perasaan nya saat ini, ingatan yang menghantam nya dimasa lalu terasa begitu menyakitkan.
Di mana genangan darah membasahi lantai rumah sederhana yang ada di hadapannya, Adeline berteriak histeris saat dia melihat sosok dua orang yang dia panggil ayah dan ibu tersebut sudah tidak bernyawa dengan darah yang mengucur deras di sekujur tubuh mereka.
Luka tembak terlihat ada dimana-mana.
Akhhhhhh.
Suara teriakan dan tangisan Adeline seketika pecah menghiasai malam tanpa bintang maupun bulan.
Rasa sesak, sakit, kecewa dan marah bercampur aduk menjadi satu, membuat Adeline seakan-akan kehilangan kehidupan nya saat ini.
"Kau sedang merencanakan pemberontakan dibelakang ku?"
Satu suara bariton keluar dari bibir Adalrick kala itu, bola mata laki-laki tersebut memerah, dia menatap tajam Adeline yang bersimpuh di atas tanah sambil menangis histeris, dimana perempuan tersebut dikelilingi oleh bala tentara yang berdiri dengan mengacungkan pistol mereka kearah Adeline.
Di ujung sana terlihat seorang laki-laki yang duduk dalam keadaan tidak berdaya dengan berbagai macam luka di tubuh dan wajah nya, di sisi kiri dan kanan serta belakang laki-laki tersebut 3 orang yang serdadu tanpa siap menarik pelatih pistol laras panjang mereka masing-masing.
Hal tersebut membuat Adeline sontak berusaha untuk bergerak mendekati laki-laki tersebut.
"No Adalrich no....please... jangan lakukan itu"
Dia berteriak histeris, Adeline yang bergerak mencoba mendekati laki-laki di ujung sana di tahan oleh dua serdadu, dia sama sekali tidak bisa bergerak, hanya bisa berteriak histeris ketika pistol para serdadu siap untuk diletuskan dikepala laki-laki dihadapan nya tersebut.
"Kau mengkhianati aku, bermain dibelakang ku dengan laki-laki lain, berani nya kau"
Adeline langsung bergerak menuju ke kaki Adalrich, kedua tangan nya dengan cepat menggenggam erat kaki kiri Adalrich.
"Aku tidak melakukan nya, aku tidak melakukan nya Adalrich, kau telah salah menilai perasaan ku, aku tidak pernah mengkhianati kamu"
Alih-alih peduli ucapan istrinya, Adalrick menjongkokkan tubuhnya, dia kemudian menggenggam erat wajah istri nya kemudian menatap Adeline dengan penuh kebencian dan kemarahan.
"Tidak mengkhianati ku? Tapi kau berada di kamar yang sama dengan bajingan itu"
"Itu jebakan, aku tidak pernah melakukan nya, ada kesalahpahaman di sini"
Perempuan tersebut terus menggenggam kaki Adalrich, meminta suaminya untuk membebaskan laki-laki yang ada di ujung sana.
Adeline yakin seseorang menjebak nya, dia bahkan tidak tahu bagaimana caranya dia bisa bersama laki-laki itu malam kemarin.
Setelah pertemuan dalam diskusi panjang mereka untuk rencana besar yang akan mereka gelar, bagaimana bisa tiba-tiba seseorang memanfaatkan laki-laki yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri tersebut agar terlihat menjadi selingkuhan nya.
"kesalahpahaman?"
Adalrich terlihat mengejek.
"Kau pikir aku cukup buta untuk tidak melihat kenyataan soal kalian berdua? Kau sedang berusaha untuk menghianatiku dan kini berani bermain api dan berselingkuh dibelakang ku"
"aku tidak seperti itu, Adalrich seseorang menjebak ku"
Dan meski sekuat apapun Adalrich menjelaskan, pada akhirnya dia tidak mampu menarik balik perintah Adalrich untuk membinasakan orang-orang yang dia cintai.
"Tembak..."
Sembari menatap tajam bola mata Adeline, laki-laki tersebut memberikan perintah kepada anak buahnya tanpa menoleh kearah mereka.
Mendengar ucapan Adalrich seketika Adeline membulatkan bola matanya, dia seketika berusaha memberontak dan lari mendekati laki-laki di ujung sana, tapi lengan kiri dan kanan serta tubuhnya di tahan oleh 2 serdadu dengan yang kasar.
Dooorrrrrrrr.
Dooorrrrrrrr.
Dooorrrrrrrr.
Suara tembakan seketika memecah keheningan malam, dan laki-laki yang sudah seperti kakaknya itu terlihat langsung tersungkur dan jatuh ke atas lantai di mana bola mata laki-laki itu menatap Adeline sambil laki-laki tersebut mengembangkan senyuman nya.
Adeline langsung terhenyak, perempuan tersebut seketika membeku, di langsung menjatuhkan dirinya kelantai dan mencoba menahan tangis nya untuk beberapa waktu, namun dibeberapa detik berikutnya Perempuan tersebut langsung berteriak histeris.
"akhhhhhh"
Adeline masih memejamkan bola matanya, dia mencoba menetralisir perasaan nya atas ingatan dimasa lalu soal apa yang dilakukan Adalrich pada dia dan orang-orang yang dia cintai.
Adalrich ya mendengarkan ucapan dari Adeline seketika membisu, cukup tidak menyangka sebesar itu ingatan Adeline saat ini, itu artinya sang istrinya memang benar-benar telah mengingat semuanya.
Laki-laki tersebut tidak bergeming untuk beberapa waktu, bisa dilihat Adalrich memejamkan sejenak bola matanya sembari mencoba menetralisir perasaannya atas pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya, dia pada akhirnya kemudian berkata.
"Maafkan aku karena buta dimasa lalu dan diliputi kemarahan yang tidak masuk akal"
Ucap laki-laki tersebut pelan.
"Aku tidak pernah tahu jika itu semua adalah rencana Ilse Kock dan ibu"
Lanjut nya lagi.
Laki-laki itu sama sekali tidak menyangka jika Ilse Kock dan ibu nya terlibat dalam mensetting semua hal yang terjadi dalam kehidupan dirinya dan Adelinedi masa lalu, bahkan dia juga tidak menyangka jika wanita tersebut sengaja membuat dirinya membenci Adeline dan berusaha menghasut nya hingga bisa membuat dia menghabisi seluruh orang-orang terdekat Adeline.
Dia benar-benar tidak menyangka bahwa ibunya ikut terlibat untuk menghancurkan pernikahan mereka, laki-laki itu pikir ibunya hanya sekedar tidak menyukai Adeline, berharap jika Adalrich menikahi Ilse Kock secepatnya.
Wanita tersebut mencoba meyakini dirinya jika perasaannya pada Adeline bukan cinta melainkan satu perasaan obsesi di mana dirinya hanya sekedar menginginkan Adeline dan menginginkan tubuh perempuan tersebut.
Mendengar penuturan dari sang suaminya, Adeline sama sekali tidak menjawab, perempuan itu terlihat diam sembari masih berusaha untuk meminjamkan bola matanya, hingga pada akhirnya untuk beberapa waktu kemudian perempuan tersebut kembali berkata.
"Katakan pada ku, setelah mengetahui semuanya apa yang akan kamu lakukan? Tetap bertahan bersama ku dan diam saat aku kembali menjalankan rencana di masa lalu, atau kita akan saling membunuh saat aku dan orang-orang ku mulai bergerak dan akan melakukan satu pemberontakan secara diam-diam?"
Tiba-tiba perempuan itu bertanya kepada sang suaminya, dan mendengar penuturan dari Adeline, bisa dilihat laki-laki itu terdiam untuk beberapa waktu.
Mansion utama keluarga presiden
Ruang pertemuan.
Tuan Presiden terlihat mencoba untuk memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu, dia kemudian langsung membuka bola matanya kemudian menatap kearah seorang laki-laki yang terlihat berdiri tepat dihadapan nya.
"Pemilihan nya sebentar lagi, pastikan semua berjalan sesuai rencana"
Sang tuan presiden kini bicara pada seorang laki-laki yang berdiri tepat di hadapannya itu.
"Aku ingin Adalrich yang mengatur semua pergerakan dalam pemilihan, Pastika para pengacau tidak berusaha membuat kekacauan"
Ucap laki-laki tersebut lagi.
Mendengar ucapan sang tuan presiden, membuat laki-laki didepan nya terlihat diam untuk beberapa waktu.
"Aku pikir ada sedikit persoalan dengan nyonya Alima, tuan"
Ucap nya tiba-tiba.
Mendengar laki-laki di hadapannya menyebutkan nama Alima, seketika membuat tuan presiden mengerutkan keningnya.
"Apa yang terjadi?"
Dia bertanya sembari menatap tajam kearah laki-laki tersebut.
"Beberapa tim penyidik Berkata, dia bergerak sendiri belakangan di belakang semua orang, bahkan Ilse Kock melakukan hal yang sama dan mencoba untuk menjalin kerjasama dengan seseorang yang belum diketahui identitasnya, tidak kah tuan curiga? Mereka seolah-olah sedang berusaha untuk membuat kesepakatan di belakang kita semua dan mencoba untuk memberontak?"
Tanya laki-laki tersebut cepat kepada sang tuan presiden.
"Kau bicara apa?"
Tanya nya sambil membulatkan bola matanya.
"Merpati membawa sebuah pesan semalam, memberikan peringatan jika seseorang sedang berusaha untuk menghianati tuan"
Bayangkan bagaimana ekspresi sang tuan presiden mendengar ucapan laki-laki dihadapan nya tersebut.
"Mereka menggunakan kode sandi kriptografer, membuat sebuah peringatan dibelakang semua orang, tidak tahu betul orang-orang yang sedang mencoba untuk memecahkan kode sandi kriptografer adalah nyonya alima dan Ilse Kock, meskipun mereka pernah meminta Adalrich melakukan nya, Adalrich jelas menolak karena dia harus mengawal pasukan bergerak dan tidak sempat untuk melakukan hal tersebut"
Dia mencoba menjelaskan sesuatu yang terasa sangat mengganjal, menatap sang tuan presiden agar mencoba mencerna ucapan nya dengan seksama.
"Tidak kah tuan curiga jika mereka tengah berusaha untuk melakukan pemberontakan dan menggeser posisi tuan dengan orang yang lain? Apalagi kita tahu ada calon yang lainnya yang saat ini berdiri melawan tuan?"
Sang tuan presiden terlihat Diam dia sama sekali tidak bicara, menatap laki-laki di hadapannya tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan, dia yang tengah duduk di atas sebuah kursi kayu mahoni, berkatakan warna emas gimana itu mari-marinya terus bergerak mengetuk-ngetuk bagian pinggir kursi, seketika secara perlahan berisik dari kursinya dan mencoba untuk berdiri dari posisi nya, laki-laki tersebut berjalan menuju ke arah depan sembari dia mendekati sebuah meja dari lemari kecil yang berdiri kokoh di depannya.
"Aku sudah mulai merasa curiga sejak awal, dimulai dari kasus kesalahpahaman dimasa lalu soal pernikahan yang direncanakan untuk Adalrich, tidakkah Tuhan merasa nyonya Alima memaksa Ilse Kock untuk bisa menikah dengan Adalrich agar dia bisa semakin mengendalikan putranya sendiri di bawah kita?"
Laki-laki tersebut kembali bicara, berjalan di belakang sang tuan presiden sembari menatap punggung laki-laki tersebut, gimana bisa dilihat calon presiden mengeluarkan sesuatu yang merupakan sebuah Mam mendominasi berwarna coklat.
"Kita tahu hubungan ibu dan anak tersebut tidak baik sejak di masa lalu, mereka memiliki visi dan misi berbeda juga jalan pemikiran yang berbeda, sejak awal untuk menaikkan tuan menjadi tuan presiden itu adalah ide dari Alima, ide pemberontakan dimasa 5 tahun lalu juga dari Alima, namun pemilihan kali ini wanita itu berusaha untuk sedikit membuat jarak dengan berbagai macam alasan"
"Bayangkan bagaimana kecurigaan menghantam, ketika tiba-tiba A5 terlihat begitu baik kepada putranya dan memaksa laki-laki itu untuk menikah dengan Ilse Kock, di mana kita tahu merupakan wanita yang seperti apa, bukan kah Sangat aneh jika tiba-tiba pernikahan tersebut akan digelar?"
Laki-laki tersebut seolah-olah berusaha untuk mengarahkan pembicaraan agar sang tuan presiden mulai bisa merangkai urutan keadaan saat dari sejak dulu hingga sekarang.
Sejak awal mereka tahu jika kenaikan jawaban laki-laki tersebut menjadi presiden karena rencana yang di atur oleh Alima, mereka menyingkirkan satu kandidat besar di masa lalu, Alima mengkhianati calon presiden terpilih dan menaikkan presiden saat ini dengan cara yang licik, bukankah ada besar kemungkinan Alima bisa menyingkirkan mereka saat ini dengan kandidat yang lainnya?!.
Apalagi wanita tersebut belakangan mulai melihat gelagat aneh nya, bergerak sendiri didalam diam tanpa diketahui apa yang tengah direncanakan oleh nya.
Beberapa orang-orang nya berkata wanita tersebut mulai sering hilir mudik berurusan dengan bagian petinggi negara lainnya, bahkan kabar nya wanita tersebut mulai mendekati salah satu kandidat terbaik dalam pemilihan.
Hal tersebut menambah kecurigaan mereka saat ini.
Sang tuan presiden terlihat mengambil sebuah cerutu mendominasi berwarna coklat yang ada di hadapannya, dia mematik fanatik dan menyulitkan api ke dalam cerutu tersebut secara perlahan.
Laki-laki tersebut menghisap cerutunya tanpa banyak bicara, mencoba untuk kembali bergerak kedepan mendekati kursi nya tadi sembari tangan kirinya membawa Map
yang dia ambil dari dalam lemari yang ada di hadapannya tadi.
Laki-laki tersebut membuang asap dari cerutunya secara perlahan, dia mulai kembali duduk ke atas kursinya dan membenahi posisinya dengan cara yang paling nyaman.
Alih-alih menjawab ucapan laki-laki penasehat didepan nya, sang tuan presiden berkata.
"Apakah Adalrick telah kembali?"
Tanyanya sembari menatap laki-laki di hadapannya itu untuk beberapa waktu.
Laki-laki tersebut menundukkan kepalanya sejenak.
"Mereka dalam perjalanan kembali"
Jawab nya cepat.
"Aku tahu seperti nya akan ada pemberontakan"
Tuan presiden bicara tiba-tiba, dia kembali menghisap cerutu nya secara perlahan.
"Tapi aku belum tahu siapa sebenarnya yang akan melakukan pemberontakan, mencoba melengserkan diriku dari jabatan dan berusaha menaikkan salah satu calon dari 2 kandidat lainnya"
Tuan presiden mulai bicara sembari menghela pelan nafasnya.
"Alima terus mondar-mandir dikediaman Hilda, aku pikir sepertinya dia bersekutu dengan mereka, sebab bukan tanpa alasan jika dia membuat kunjungan Tiba-tiba dengan pihak lawan, sejak dulu aku tahu betul bagaimana sifat wanita, dia mampu menjilat siapapun juga mampu menyingkirkan siapapun sesuai dengan keinginannya"
Ucap laki-laki tersebut lantas kembali menghisap cerutu nya.
"Kandidat satunya aku pikir cukup tidak berguna, karena sejauh ini tidak ada hal yang mencolok atau sesuatu yang membuatku khawatir dikalahkan olehnya"
Lanjut nya lagi kemudian.
"Begitu Adalrich kembali pastikan laki-laki itu menemuiku, dan terus awasi langkah Alima, kita akan membuat sebuah perencanaan untuk menyerang balik mereka secara perlahan"
Setelah berkata seperti itu sang tuan presiden memberikan Map yang ada di tangan kanannya kepada laki-laki yang ada di hadapannya tersebut.
"Susun strategi baru dan pastikan tidak ada seorangpun yang berani menghianati kita, jika ada yang berkhianat maka habisi mereka tanpa sisa"