
Stasiun utama Berlin
07.45 AM.
Adeline menatap lurus depannya di mana dia kini duduk di kursi tunggu stasiun kota Berlin, perempuan tersebut terus menatap barisan kereta Orion Express yang mendominasi berwarna hitam dihadapan nya tersebut dengan pandangan takjub.
seperti kata Adalrich, dirinya pasti akan menyukai perjalanan menggunakan kereta api dari stasiun Berlin menuju ke Hamburg karena dia pasti akan terpesona pada kecantikan kereta Orion Express mewah tersebut.
Tidak dipungkiri, Adeline memang menatap takjub pada kereta api yang ada dihadapan nya itu, meskipun sebenarnya dia tidak tahu apakah dia pernah menaiki kereta tersebut di masa lalu ketika dia memiliki ingatan yang kuat, tapi setidaknya untuk di masa kini dia baru melihat kereta api ini hanya kali ini.
Adalrich Berkata kemegahan Orient Express telah memikat banyak orang sejak tahun 1883. Meskipun perusahaan telah berpindah tangan beberapa kali, Orient Express menjadi perjalanan termewah saat ini.
Adaline Masih menatap kearah depan nya untuk beberapa waktu, kemudian dia melirik kearah Adalrick yang saat ini berdiri di sisi kanan depan nya, laki-laki tersebut terlihat berbincang-bincang dan berbicara dengan seorang laki-laki yang berusia sekitar 45 tahunan yang Adeline tidak tahu siapa.
namun dilihat dari pakaian yang digunakan oleh laki-laki tersebut bisa Adeline tebak laki-laki tersebut pasti merupakan salah satu anggota kerajaan.
obrolan serius terjadi pada Adalrich dan laki-laki yang ada di hadapannya itu untuk menghitung cukup lama, mengingat jadwal keberangkatan Masih sekitar 25 menit lagi, jadi Adeline pikir itu wajar untuk seorang Adalrich menghabiskan waktunya dan berbincang-bincang dengan orang yang dia temui.
Beberapa kali Adeline mencoba melirik ke kiri dan ke kanan, mencoba menatapi kerumunan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar area stasiun. Bunyi mesin yang cukup
menderu terdengar bersamaan dengan sayup-sayup suara ricuh orang-orang
di sekitar dekat peron panjang keren api.
Sejenak Perempuan tersebut menggosokkan tangan nya dia pikir musim salju semakin menggila saat ini, pergi dalam keadaan musim salju jelas cukup tidak menguntungkan, dia takut dia terlelap disepanjang perjalanan mengingat bagaimana beberapa hari ini di mansion dia tidak berhenti menguap setiap kali dia selesai menyantap sarapan pagi.
Entah berapa lama waktu berlalu hingga akhirnya Adalrich beranjak meninggalkan laki-laki yang ada di hadapannya itu dan berpisah arah, kemudian laki-laki tersebut langsung pergi mendatangi Adeline.
Begitu Adalrich mendekati Adeline, perempuan itu pikir mungkin ini adalah waktunya mereka naik ke salah satu peron kereta api yang ada di depan sana, mengingat bagaimana waktu saat ini semakin menyempit dan kereta api tidak lama lagi akan berangkat, Maka dari itu dia dengan cepat langsung berdiri dan beri posisi duduknya kemudian mencari tas kulit asli mendominasi berwarna coklat yang diletakkan oleh Adele ring tepat di sisi kanan kursi kayu memanjang yang dia duduki.
namun realitanya baru saja dia berdiri dari posisinya Adalrich juga tahu-tahu sudah berdiri tepat di hadapannya, laki-laki itu tiba-tiba menaikkan sedikit sekali ujung bibirnya, Adeline pikir setiap kali dihadapan banyak orang, Adalrich selalu hampir tidak pernah menampilkan ekspresi senyuman ramah nya kepada siapapun tanpa terkecuali.
Satu-satunya orang yang di izinkan menikmati senyuman Adalrich adalah dirinya.
Laki-laki tersebut tiba-tiba saja mengeluarkan mantel bulu berwarna putih bersih dan merapatkan mantel tersebut ke tubuh nya.
Dan percaya lah rasa dingin karena hembusan angin yang terasa menusuk tulang dalam suasana musim salju seketika mengubah sedikit hangat suhu tubuhnya berkat mantel yang diberikan oleh Adalrich kepada dirinya.
Setelah itu laki-laki tersebut meraih sebuah topi pascinator yang terletak di atas tas pakaian mereka, dimana topi model tersebut yang selalu digunakan oleh para bangsawan dan para istri bangsawan dimasa ini.
Topi dengan warna mendominasi berwarna hitam tersebut dimana di bagian depan nya terlihat bentuk yang seperti jaring menutupi bagian wajah Adeline diletakkan oleh Adalrich dan di benahi nya tepat di atas kepala Adeline.
Laki-laki tersebut memandang takjub ke arah Adeline, mencoba membuat pujian sendiri didalam hati nya atas pesona luar biasa'yang dimiliki berlian dihadapan nya.
Sejenak Netra Adeline bertabrakan dengan
netra Adalrich yang berada tepat dihadapan nya itu,dimana bisa Adeline lihat betapa gagah nya Adalrich dengan tubuh tegapnya menggunakan mantel kulit hitam dengan topi visor militer kehijauan, demi apapun laki-laki tersebut benar-benar mengeluarkan kesan maskulin tak main-main. Belum lagi laki-laki tersebut menggunakan salah satu lencana yang terpasang di antara kerah seragam
Adalrich, kian membuat perempuan manapun akan berebut puncak untuk memiliki laki-laki dihadapan nya tersebut.
Sebuah medali Ritterkreuz Des
Eisernen Kreuzes tersemat rapi di sana.
Tahu makna dari medali tersebut?!.
Itu adalah Salib Kesatria dari Salib Besi atau Knight's Cross of the Iron Cross (bahasa Jerman: Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes), atau hanya Salib Kesatria (Ritterkreuz), dan variannya adalah penghargaan tertinggi di militer dan paramiliter pasukan Nazi Jerman selama Perang Dunia II.
Dan jika seorang jenderal telah mendapat penghargaan tertinggi nya, maka tidak akan ada yang meragukan kemampuan nya dalam menghadapi dan menghabisi lawan-lawannya.
Penghancur jantung.
Itu benar-benar kata paling cocok diberikan pada Adalrich, beberapa desas-desus dari beberapa pelayan di mansion mereka berkata, jika laki-laki tersebut bisa membunuh hampir 20 musuh nya dengan menembak tepat sasaran. Gilanya, jarak tembaknya mencapai 500 kaki atau sekitar 150 meter, hanya dalam waktu satu menit.
Itu benar-benar membuat Adeline bergidik ngeri mendengar nya.
Dia pikir laki-laki seperti apa yang kata nya adalah suami nya di masa lalu dan akan menikahi nya di masa kini, bagaimana bisa dia menjadi istri seorang Adalrich Ben Petra?!.
Dia pasti sudah gila.
"Maaf karena tidak bisa membawa Chaddrick dalam perjalanan ini"
Tiba-tiba suara Adalrich memecah kebisuan mereka berdua, seolah-olah dia menyesali keputusan nya yang hanya membawa Adeline kedalam perjalanan mereka saat ini.
"Dia akan datang diwaktu yang berbeda, menyusul kita dan tiba tepat waktu sebelum acara, terlalu berbahaya membàwa dia bersama kita disaat kondisi kerajaan tidak begitu baik-baik saja menjelang pemilihan umum berikut nya"
Lanjut laki-laki tersebut lagi
Sebenarnya Adeline sedikit kesal karena Adalrich berkata mereka tidak bisa membawa Chaddrick kecil, dia terlanjur jatuh cinta pada bocah kecil tersebut saat ini, jauh dari Chaddrick seolah-olah dia merasakan sesuatu Sesuatu terasa kurang dan tidak pas.
Adeline sedikit berburuk sangka, apakah laki-laki tersebut ingin membawanya seorang diri agar bisa melakukan apa saja tanpa gangguan Chaddrick kecil.
Tapi setelah Frada mencoba menjelaskan maksud dari ucapan Adalrick, akhirnya dia mengalah.
Tunggu dulu dia bilang apa?!.
Adeline mengerut sedikit keningnya.
Menyusul kita tepat waktu sebelum acara?!.
Apakah mereka akan menghadiri acara penting lagi? seperti pertunangan atau acara kenegaraan?!.
Adeline bertanya-tanya didalam hati nya, tidak mengeluarkan langsung pertanyaan tersebut dari bibirnya.
"Apa kamu masih marah?"
Adalrich bertanya cepat sembari dia menatap dalam wajah Adeline, laki-laki tersebut ingin menyentuh lembut wajah Adeline,namun dia berusaha untuk menahan nya mengingat ini adalah tempat umum yang mengharuskan dirinya menjaga tangan nya sebelum pernikahan mereka.
Dia tidak ingin banyak gosip berkata jika Adeline menikahi dirinya nanti karena telah lebih dulu menjual tubuhnya, mulut orang-orang jelas selalu berkata pedas untuk menjatuhkan seseorang.
Mendengar pertanyaan Adalrich, membuat Adeline menggelengkan kepalanya, dia memilih diam tidak banyak Bicara.
"Mari kita pergi"
Adalrich kemudian Meraih tas milik mereka setelah mereka mendengar suara tanda jika kereta akan segera berangkat dalam 5 menit.
Laki-laki tersebut kemudian menunggu Adeline agar menerima tangan nya.
Sejenak Perempuan tersebut mengerutkan keningnya, dia terlihat cukup ragu untuk menerima uluran tangan laki-laki tersebut.
"Masih merasa canggung? setelah menikah kita akan terbiasa melakukan nya"
Adalrich tiba-tiba bicara sembari membuang pandangannya, laki-laki tersebut tidak menunggu Adeline menerima uluran tangan, dia malah dengan cepat menggenggam erat telapak tangan kanan Adeline dengan tangan kirinya.
Eh?!.
Hal tersebut sontak membuat Adeline cukup terkejut, dia ingin melepaskan genggaman erat telapak tangan laki-laki itu, namun tiba-tiba saja Adalrich berkata.
"Ketika masuk ke dalam kereta, jangan bersikap ramah kepada siapapun pada orang-orang yang mencoba bersikap ramah pada mu"
Adalrich bicara kemudian menoleh kearah Adeline, laki-laki tersebut menggenggam erat telapak tangan Adeline sembari bola matanya menatap dalam bola mata perempuan disampingnya itu.
"Ya?"
"Berjanji lah tidak akan melepas kan genggaman tangan mu, aku berjanji akan memastikan kamu baik-baik saja, kali ini sebelum tiba di tujuan biarkan aku menyelesaikan sedikit urusan dimasa lalu yang pernah tertunda"
Saat Adalrick berkata begitu, seketika Adeline langsung membulatkan bola matanya, perempuan itu agak terkejut mendengar ucapan laki-laki tersebut.
"Maksud nya?"
Alih-alih menjawab keterkejutan dan kebingungan Adeline, laki-laki tersebut langsung kembali memfokuskan pandangannya ke arah depan, dia membawa Adeline secara perlahan untuk naik kedalam kereta gerbong dua dimana didalam nya di naiki oleh orang-orang kelas atas.
Di ujung sana beberapa pasang bola mata menatap awas Kearah Adeline dan Adalrich, mereka memisah arah Sembari mulai ikut naik keatas kereta sembari menganggukkan kepala mereka masing-masing di Kejahuan.
Di ujung tempat yang berbeda seorang jurnalis tampak bergerak cepat, mengejar kereta agar dirinya tidak tertinggal, namun bola matanya mencoba menangkap sosok Adalrick yang menggenggam erat telapak tangan perempuan disamping nya.