King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Rencana Sang Ratu



Dimasa kemarin


Debora menatap tajam ke arah depan, di antara pekatnya langit malam serta dingin nya udara malam, tampak terlihat ribuan burung gagak berhamburan keluar dari salah satu menara tua di pinggiran kota Paris.



Selang beberapa waktu kemudian Sebuah kilatan api mencuat menembus cakrawala dari arah mercusuar milik Cullen mafia.



Ingatan Debora pada pesan zehra di masa kemarin tiba-tiba kembali hadir.


"Jika para burung gagak telah keluar dari tempat asal nya, maka itu artinya aku telah kembali ke sarang mafia"


"Ketika mercusuar ditembakkan di menara cullen, itu artinya edgard berhasil membawa ku masuk dan itu berarti waktunya kita melakukan perubahan besar-besaran"


"Tapi ini jelas beresiko besar, tidak semua anggota Cullen setuju ada nya perubahan, maka itu berarti akan ada pro dan kontra yang terjadi"


Debora jelas merasa keberatan, sebab itu artinya nyawa Zehra akan teramcam bahaya.


"Untuk yang setuju mereka pasti mengikuti langkah mu, berdiri di belakang serta di sisi kiri kanan mu zehra, tapi untuk yang membenci perubahan yang kamu lakukan itu artinya mereka akan bersiap menghancurkan diri mu, berlomba-lomba untuk membunuh kamu, bahkan bisa jadi akan ada perang besar-besaran antara sesama klan Cullen"


Debora menggelengkan kepalanya.


"Itu artinya akan ada banyak sekali nyawa yang akan melayang"


Zehra yang diperingatkan terlihat begitu tenang, hanya mengulas senyuman sambil menyentuh lembut tangan Debora, perempuan itu dengan gerakan perlahan menggenggam erat tangan Debora"


"Karena itu aku akan meminta bantuan kakak untuk melancarkan semuanya, mengurangi kemungkinan buruk yang terjadi"


Ucap Zehra pelan, meskipun ingatan nya telah mulai kembali, Zehra tetaplah menjadi perempuan yang begitu lembut, tidak gegabah dan terlihat begitu tenang.


Debora mengerutkan keningnya untuk waktu yang cukup lama.


"Apa yang bisa aku lakukan?"


Alih-alih menjawab zehra malah balik bertanya.


"Apa yang paling diinginkan seorang ibu terhadap para anak-anak nya?"


Zehra bertanya sambil menatap malam bola mata Debora.


"Aku belum lah menjadi seorang ibu, karena itu tidak paham apa sebenarnya keinginan seorang ibu"


Zehra masih mengulas Senyuman.


"Kakak tahu? setiap orangtua punya satu keinginan yang sama untuk setiap anaknya, jadilah orang yang bahagia. Hiduplah dengan bahagia, karena itu akan mendamaikan hati orangtua, terutama ibu. Orangtua mana yang tega melihat anaknya kesusahan? Satu hal yang ibu kita inginkan lebih dari apa pun, bukan hadiah mahal atau rumah baru, melainkan merasa lah bahagia dengan hidup anak-anak.


"Kebahagiaan anak-anak nya adalah kebahagiaan ibu nya, Saat hidup anak-anak bahagia, ibu tidak pernah meminta anak-anak nya untuk membagi kebahagiaan mereka kepadanya, tapi saat anak-anak terluka ibu selalu datang untuk menerima bagian dari luka anak-anak nya."


Debora masih tidak paham ke mana arah pembicaraan Zehra.


"Saat sistem Daddy ku berjalan, ada banyak ibu dan anak-anak yang tidak bahagia di bawah naungan nya, termasuk kami putri-putri nya, aku ingat Mommy Zaffa pernah menangis memeluk ku dan Zaffa, satu bisikan yang pernah mommy zaffa berikan kepada kami saat itu"


"Berbahagialah,satu hari berbahagialah"


Bola mata Zehra tampak berbinar-binar, dia mencoba menahan perasaan sesak di dadanya.


"Sudah terlalu banyak yang menderita, seandai nya mengorbankan diri ku bisa membuat banyak orang bahagia, aku jelas tidak merasa di rugikan"


Seketika Debora memeluk erat tubuh Zehra, dia jelas kehilangan kata-kata.


"Lalu jika sesuatu terjadi pada diri mu, bagaimana aku menjelaskan nya pada Arash?"


Tanya nya dengan suara parau.


"Karena itu, aku akan melepaskan nya Secara Perlahan"


"Zehra"


Debora kembali tercekat.


"1 nyawa cukup sebanding dengan kebahagiaan banyak orang bukan? jadi bantu aku untuk menyelesaikan misi nya"


Seolah tersadar dari lamunannya, Seketika Debora meraih handphone nya dan mencoba untuk menghubungi seseorang.


"Ratu sudah masuk ke tempatnya, Bersiap masuk ke rencana A"


Setelah berkata begitu Debora menutup panggilan nya.