
Masih kembali ke masa kemarin
Saat Dalmiro masuk ke rumah bordil xxxxxxx
Ketika Aurora bergerak menjadi gadis pilihan Dalmiro.
Mendengar ucapan Dalmiro saat berkata dia seperti seorang perawan membuat Aurora sedikit mencoba menetralisir detak jantung nya, gadis tersebut berusaha mengembangkan senyumannya dan bersikap setenang mungkin.
Dia kembali menyesap minuman secara perlahan, sembari bola matanya tidak melepaskan pandangannya pada Dalmiro begitu juga sebaliknya laki-laki itu yang tidak ingin melepaskan pandangannya pada Aurora.
Dalmiro ikut meraih gelas minuman nya, kemudian secara perlahan menyesap minuman tersebut dengan tidak melepaskan pandangannya.
"Itu tebakan yang begitu manis dan baik, seolah-olah tuan adalah seorang petualang perempuan"
Gadis tersebut kembali bicara setelah menghabiskan minuman nya.
Dia kembali menuangkan wine di gelas milik nya, menawarkan Dalmiro kembali untuk menuangkan minuman tersebut pada gelas laki-laki itu.
"Apa kamu bisa menebak apakah aku seorang petualangan atau bukan?"
Laki-laki itu bertanya sambil menyandarkan tubuhnya di atas kursi sofa di belakangnya tersebut, memposisikan dirinya dan menyamankan dirinya saat ini.
Mendengar pertanyaan Dalmiro membuat Aurora terkekeh, dia mulai berdiri dari posisi duduknya, bergerak mendekati meja kecil yang ada di sisi kanan mereka, mencoba kartu disana dan membawanya ke atas meja mereka.
"Aku pikir seorang laki-laki yang keluar masuk ke dalam rumah bordirĀ jelas merupakan laki-laki petualang, bohong jika mereka tidak pernah menyentuh meskipun hanya satu perempuan"
Ucap Aurora kemudian, lantas gadis itu duduk tepat di samping Dalmiro, dia mulai mengacak kartu ditangan nya secara perlahan dengan gerakan yang begitu elegan.
Mendengar ucapan gadis yang ada disampingnya tersebut membuat Dalmiro langsung terkekeh.
"Jadi orang yang hilir mudik kemarin rata-rata akan mengambil kamar?"
Laki-laki tersebut bertanya sambil menaikkan ujung bibirnya.
"Apa aku salah?"
Alih-alih menjawab ucapan Dalmiro, dia balik bertanya sambil melirik kearah Dalmiro.
"tentu saja, itu bukan lah hal yang aneh dan harus menjadi perdebatan di antara para perempuan, laki-laki tinggal memilih keinginan mereka, membayar dengan uang tunai, mencari kamar kemudian melewati hubungan satu malam dengan perempuan pilihan"
jawab Aurora cepat.
"Aneh nya sebagian besar bahkan memilih perempuan berbeda dalam tiap malam nya, seolah-olah itu adalah kebiasaan seperti makan yang tidak bisa mereka tinggalkan dalam kehidupan mereka"
Kalimat yang dilontarkan oleh gadis tersebut terdengar seperti sebuah ejekan, seolah-olah dia mengutuk pada laki-laki tidak tahu diri yang mampu bergonta-ganti pasangan sesuai kemauan.
Dalmiro telah masuk kedalam rumah bordil tersebut selama beberapa kali dalam bulan ini, meskipun dia tidak tahu apa maksud dan tujuan nya, laki-laki tersebut jelas selalu mendapatkan ruang khusus untuk dirinya dan perempuan pilihan, dia pikir bisa jadi laki-laki tersebut sama saja dengan laki-laki lainnya.
Seketika rasa jijik Menghantam dirinya.
Bisa-bisanya, cihhhh.
Batik Aurora.
Gadis tersebut terus mengocok kartu, setelah itu dia mulai menyusun satu persatu kartu tersebut keatas meja secara perlahan.
Dalmiro memperhatikan gerakan gadis tersebut secara perlahan, membiarkan bola matanya terus mengikuti kemana tangan garis tersebut bergerak.
Sesekali dia menelisik wajah gadis tersebut dari arah samping, seolah-olah hatinya bertanya-tanya tentang wajah yang sangat familiar untuknya, dia pikir dia benar-benar pernah melihat wajah gadis tersebut sebelumnya.
Tapi dia cukup kesulitan untuk mengingat dan menebak.
Di mana?.
Kapan?.
Siapa?.
Berbagai macam pertanyaan seperti itu menghantui pemikirannya.
Hingga pada akhirnya laki-laki tersebut berkata.
"Sebelum memulai permainan katakan padaku taruhan apa yang harus kita lakukan untuk permainan kartu ini?"
"Rasanya sangat tidak asik saat bermain kartu tanpa taruhan"
Lanjut Dalmiro lagi kemudian.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh laki-laki tersebut seketika membuat Aurora menaikkan ujung bibirnya.
"Aku harap kau tidak menyesal karena meminta sebuah taruhan dalam permainan kita"
Jawab gadis tersebut kemudian.
"Tentu saja tidak, itu sudah lumrah terjadi didalam permainan kartu"
Dalmiro berucap lantas menuangkan kembali minuman ke gelas nya.
Aurora menampilkan ekspresi wajah yang cukup aneh, dia menaikkan ujung bibirnya kemudian gadis itu berkata.
"Satu kekalahan, satu gelas minuman"
Ucapnya dengan penuh tantangan.
Mendengar ucapan gadis disampingnya membuat Dalmiro menaikkan ujung bibirnya.
"Itu terdengar baik, aku harap kamu tidak meyesal bertaruh dengan ku"
Ucap Laki-laki itu kemudian.
"tentu saja tidak, aku malah takut kamu yang menyesal bertaruh denganku"
Ucap gadis itu cepat, Dalmiro mengerutkan keningnya.
"Kita bisa memulainya"
Setelah berkata seperti itu Aurora mulai menutup kartu terakhir yang dia bagikan kepada Dalmiro, lantas dengan gerakan yang begitu dia meletakkan sisa kartu tersebut ke tengah meja, kemudian gadis tersebut mulai menarik kartu miliknya secara perlahan diikuti oleh delmira sendiri yang menarik kartunya setelah dia meletakkan gelas yang ada di tangannya.
Sejenak mereka fokus pada kartu masing-masing, mencoba bermain adil tanpa melakukan sedikitpun kecurangan, satu, dua hingga tiga kartu terlepaskan satu persatu hingga pada akhirnya berakhir pada kekalahan Dalmiro.
"Oh ****"
Laki-laki tersebut menatap cukup tidak percaya pada gadis dihadapannya itu, dia mendengus lantas langsung menunggu Aurora menuangkan wine di dalam gelas nya.
Tatapan bola mata mata mereka bertemu sejenak, Dalmiro tidak memperhatikan Aurora yang menuangkan minuman untuk dirinya, membiarkan gadis tersebut bergerak sesuai kemauan nya.
Laki-laki tersebut membiarkan dirinya terus menatap ke arah Aurora, mencoba mengejar ingatan soal bola mata dan wajah tidak asing tersebut sejak tadi.
Secara perlahan laki-laki tersebut meraih gelas minuman yang ada di tangan Aurora di mana garis tersebut menyerahkan gelas minuman tersebut ke arah dirinya.
Pada akhirnya laki-laki itu mulai menikmati minumannya dengan satu kali tegukan, sejenak dia memejamkan bola matanya sambil mengeluarkan ekspresi aneh nya.
Laki-laki tersebut pikir dia cukup banyak minum malam ini karena gadis disamping tersebut.
Dia lupa telah menghabiskan berapa banyak Minuman sejak tadi, yang jelas sudah bergelas-gelas tanpa henti, kepalanya mulai berdenyut-denyut tidak menentu, membuat dia mulai merasakan satu efek aneh didalam tubuhnya.
Dalmiro kembali melanjutkan permainan nya, membiarkan gadis di Samping nya terus bergerak membagikan kartu.
Entah hingga berapa lama permainan mereka terus dilakukan Dalmiro tidak tahu, dan dia kalah dalam beberapa ronde permainan hingga pada akhirnya tiba-tiba saja saat dia menatap kembali kearah Aurora, laki-laki tersebut mengerutkan keningnya dan seakan-akan dia ingat dengan sesuatu.
"Aku pikir benar-benar mengenal mawar hitam "
ucap Dalmiro kemudian.
Mendengar ucapan laki-laki tersebut seketika membuat Aurora menghentikan gerakan tangannya, dia menoleh kearah Dalmiro dimana di luar sana di ruangan berbeda orang-orang yang mmantau suara rekaman percakapan mereka seketika menegang dan saling menatap antara satu dengan yang lainnya.
Jangan ditanya bagaimana perasaan semua orang saat ini, semua nya tampak mulai meraih senjata masing-masing.
Aurora terlihat bersiap untuk meraih senjata api di sisi kanan paha nya.
"Mengenalku? Benarkah?"
Gadis tersebut bertanya cepat kearah Dalmiro sambil masih berusaha mengembangkan senyuman nya.