
Masih di Mansion utama Adalrich
Kamar tidur utama.
setelah berbicara dengan Frada pada akhirnya Adalrich memilih untuk segera beranjak dari tempat pertemuan mereka.
Dia memilih pergi menuju ke arah kamarnya ke dilihatnya waktu sudah cukup larut dan dia seharusnya mendapatkan tidurnya malam ini karena dalam beberapa malam terakhir dia kurang mendapatkan waktu istirahat dengan baik dan benar.
laki-laki tersebut melangkah secara perlahan menuju ke arah kamarnya, begitu tiba di kamarnya sejenak dia mematung untuk beberapa waktu hingga akhirnya laki-laki tersebut secara perlahan memegang gagang handle pintu kamar.
Klekkkkk.
begitu pintu terbuka, Adalrich terlihat masuk kedalam kamar tidur utama mereka secara perlahan, setelah membuka pintu dia menutup nya dengan gerakan yang begitu hati-hati karena takut membangunkan Adeline.
bisa dia lihat Adeline berada di atas kasur mendominasi berwarna putih milik mereka, perempuan itu telah terlelap di dalam tidurnya.
laki-laki tersebut terlihat mematung untuk beberapa waktu, dia menatap istrinya dari kejauhan di mana bola mata Adalrich terus menatap lurus kearah Adeline.
pada akhirnya laki-laki tersebut bergerak berjalan menuju ke arah di mana Adeline saat ini terlelap di dalam tidurnya.
setelah Adalrich berada tepat di samping Adeline terlelap, laki-laki tersebut secara perlahan memilih untuk duduk di sisi kanan istrinya tersebut.
dia tidak bergerak sama sekali sejak tadi, hanya menatap wajah istrinya untuk waktu yang begitu lama.
Adalrich tenggelam sejenak didalam ingatan nya, dimana setelah pertemuan pertama kali mereka, betapa Adeline benar-benar mampu menyedot perhatian dan rasa penasaran nya.
*****
Flash back
6 tahun silam.
Bola mata indah milik Adeline menata sebuah ruangan mewah yang ada di sekitarnya, dua penjaga membawanya ke sebuah rumah yang seperti istana, di mana bangunan tersebut menjulang tinggi dengan berbagai macam arsitektur dan juga warna-warna emas di sekitarnya.
di sisi kanannya terdapat sebuah tangga yang menghubungkan antara lantai pertama hingga ke lantai kedua, dimana tiap tiang tangga nya terdapat ukiran indah berlapiskan emas murni disisi kiri dan kanan nya.
gadis tersebut terlihat tidak bergeming dia masih menatap di sekeliling ruangan, bola matanya masih menikmati tiap-tiap sudut bagian ruangan tersebut.
di ujung sana di atas tangga tanpa Adeline sadari, seorang laki-laki memperhatikan gerak-geriknya sejak tadi, dia memperhatikan wajah Adeline dan juga seluruh gerakan tubuh gadis tersebut untuk waktu yang cukup lama.
wajah cantik tanpa polesan make up terlihat begitu alami dan disukai oleh dirinya, setiap lekuk wajah yang dimiliki oleh Adeline menampilkan satu kecantikan yang sangat mempesona, rambut berwarna coklat tua yang diikat naik ke atas menambah bentuk tegas rahang gadis tersebut.
Bisa dia lihat gadis tersebut tampak tidak terdiam untuk waktu yang cukup lama, seolah-olah menelisik ruangan tersebut sambil berpikir.
Dua penjaga dengan gerakan cepat menarik lengan Adeline sedikit kasar, memaksa gadis tersebut duduk di atas kursi kayu yang ada di tengah-tengah ruangan tersebut.
Adeline jelas tersentak kaget, dia mengerutkan keningnya saat diri nya di dudukkan dengan cara kasar dan paksa disana.
"Apa kalian tidak di ajarkan sopan santun terhadap seorang perempuan?"
Adeline bertanya dengan nada ketus, langsung bergerak kencang melepaskan genggaman tangan kedua orang tersebut agar lepas dari lengan nya.
Menjijikkan rasanya saat orang-orang tersebut menyentuh dan menggenggam erat bagian tubuh nya.
Dia benci manusia-manusia berpakaian serdadu, berwajah seram dan tidak berhati tersebut, dimana mereka terkadang tidak bisa melindungi perempuan dan anak-anak, hanya suka menindas nya dan membunuh kaum nya tanpa perasaan.
Mendengar ucapan Adeline, dua orang tersebut langsung melotot tajam, mereka ingin marah tapi berusaha untuk menahan kemarahan karena tahu gadis dihadapan mereka adalah pilihan sang penghancur jantung.
Tidak ada yang berani menyakiti sedikit pun milik Adalrich bahkan meskipun hanya membuat nya tergores sekalipun jika tidak nyawa mereka akan menjadi taruhan nya.
"Kau beruntung karena Jendral besar Memilih mu secara langsung nona, jika tidak kau tahu? kami bisa saja menikmati kamu seperti beberapa gadis dan perempuan lainnya"
Satu di antara mereka bicara sedikit Mengejek, dia mendengus dan menatap Adeline dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya.
Demi apapun jenderal besar mereka memang memiliki bola mata yang begitu tajam dan bagus jika menyangkut soal Perempuan.
Dia gadis yang memiliki pesonanya tersendiri.
Mendengar ucapan salah satu laki-laki tersebut sontak membuat Adeline mencibir, dia menghembuskan nafasnya kasar dan berkata.
"Aku adalah gadis paling sial karena di pilih oleh laki-laki kejam tidak berhati seperti jenderal kalian, 10 kali kelahiran pun aku berharap tidak bertemu dengan nya lagi karena jika tidak aku akan tertimpa banyak kesialan"
Kata-kata Adeline terdengar begitu pedas, gadis itu bicara sembari menatap tajam bola mata salah satu dari kedua laki-laki terkejut.
Laki-laki tersebut ingin memaki Adeline namun tiba-tiba dari atas sana Adalrich mulai melangkahkan kaki nya, menuruni satu persatu anak tangga dengan wajah bringas dan datar nya.
Melihat sang jenderal turun, dua pengawal yang mengawal Adeline langsung buru-buru menundukkan tubuh dan kepala mereka.
Seolah-olah Adalrich memberikan perintah didalam diam, kedua orang tersebut secepat kilat langsung pergi menjauh dari sana meninggalkan mereka.
Adalrich kini berjalan mendekati Adeline, dia memilih duduk di atas salah satu kursi yang menghadap kearah di mana Adeline berdiri.
Laki-laki tersebut mengeluarkan sebuah pistol dari belakang pinggang nya kemudian meletakkan keatas meja kecil yang ada di depan dua kursi yang saling berhadapan tersebut.
Sejenak hal tersebut membuat Adeline mencoba menahan nafas nya untuk beberapa waktu ketika dia melihat pistol yang baru saja di keluarkan oleh Adalrich tersebut.
Apa dia akan membunuh ku malam ini juga?.
Hal itu menjadi baris pertanyaan penting yang menghantam diri Adeline.
detak jantung Adeline kini jelas berpacu dengan cara tidak menentu dan kegelisahan menerjang hati nya untuk beberapa waktu dimana sejak tadi bola mata nya terus menatap kearah pistol tersebut buru-buru langsung menatap kearah Adalrich.
Salah bicara dan salah melangkah dia yakin kematian pasti akan menghantam nya.
Laki-laki tersebut sengaja mengeluarkan pistol nya, memberikan tanda peringatan dalam diam agar Adeline jangan pernah membuat dia tidak senang.
Itu seperti sebuah kode dimana laki-laki itu mungkin masih memberikan toleransi terbaiknya jika Adeline tidak sembarang bicara dan bersikap.
Adeline buru-buru membuang pandangannya.
Siapa sangka kini dia menatap kearah laki-laki dihadapan nya tersebut, sejenak bola mata mereka saling menatap antara satu dengan yang lainnya, dimana kini Adalrich menyilangkan kaki nya, dia membiarkan kaki kanan nya bertumpu pada kaki kirinya, sedangkan tangan kiri nya secara perlahan membiarkan menahan kepalanya dimana posisi tubuhnya sedikit agak dia miringkan di atas kursi tersebut.
Laki-laki itu benar-benar memberikan kesan jika dia tuan di istana megah tersebut.
"Katakan'
ucapan laki-laki tersebut membuat Adeline mengernyit heran.
"Adeline Amalia, kenapa kau berpikir jika bertemu dengan ku adalah sebuah kesialan?"
Adalrich bertanya dengan bada begitu tenang, dia sana sekali tidak menampilkan ekspresi nya sama sekali.
"Ya?"
Adeline jelas Bertanya sedikit terkejut.
"kau tahu? jangan terlalu membenci sebab terkadang akan ada rasa yang membekas didalam hati"
*****
Kembali ke masa kini
Kamar tidur utama Adalrich.
Dia membebaskan diri nya dari ingatan kemarin, mencoba menghela nafasnya untuk beberapa waktu.
Alih-alih beranjak Adalrich menyentuh lembut wajah Adeline sambil mengusap nya lembut.
Kemudian secara perlahan Adalrich menundukkan kepalanya, dia membiarkan wajah nya nyaris menyatu dengan wajah Adeline.
Di beberapa detik berikutnya Adalrich secara perlahan membiarkan bibirnya menyentuh lembut bibir Adeline.
Satu.
Dua.
Tiga.
Dalam beberapa detik Kemudian dia langsung melepaskan ciuman nya dari bibir istri nya.
"Semua akan baik-baik saja"
Bisik Adalrich pelan lantas dia membenahi posisi nya, dan dalam hitungan detik laki-laki tersebut bergerak meninggalkan perempuan tersebut didalam keheningan.