
Seketika Aida terjaga dari tidurnya saat mendengar beberapa Suara berbisik-bisik di balik telinga nya.
Saat Aida sadar Seine mengunjungi Zaffa bersama adik nya sanna, secepat kilat Aida bangun dari tidur nya, dengan kepala yang masih pening dia mencoba menetralisir kesadaran nya.
"Tuan"
Aida menundukkan pelan kepalanya.
Seine tampak tersenyum ramah, kemudian tiba-tiba Seine melempai kunci kearah gadis itu.
"Bantu aku ambilkan beberapa barang hang dititiy mommy untuk Zaffa"
Aida tampak terkejut secepat kilat menangkap kunci mobil yang Seine berikan padanya, gadis itu menundukkan kepalanya lantas langsung beranjak dari hadapan mereka.
Saat Aida keluar dari kamar itu, Zaffa langsung menoleh ke arah Seine.
"Aku dengar Aida akan berhenti dari pekerjaannya?"
Tanya Seine cepat.
Zaffa mengangguk pelan.
"Dia ingin kembali ke Manhattan, katanya dia ingin menjaga Daddy nya yang sudah tua"
Jawab Zaffa pelan.
Seine tampak mengangguk-angguk kepalanya.
"Tapi ini agak aneh"
Ucap Zaffa tiba-tiba.
Seine menaikkan ujung alisnya.
"aku pernah melihat nya bersama seorang laki-laki sambil menggendong bayi beberapa kali, Apa mungkin dia menyembunyikan status pernikahan nya demi melindungi keluarga nya dari kebijakan Cullen company?"
Hanya zaffa tiba-tiba.
"Aku tidak begitu tahu"
Jawab Seine cepat.
"Bukankah tidak aneh jika dia menyembunyikan status pernikahan nya, mengingat Daddy ku begitu ketat soal orang-orang nya? bisa jadi dia berusaha untuk menyembunyikan semua nya agar tidak diketahui orang-orang kepercayaan Cullen"
Zaffa terus bicara.
Bola matanya menatap nanar ke depan, ingatan soal hubungan dia dimasa lalu kembali menghantam tiba-tiba.
Yah, seketat apapun mereka bersembunyi dari Cullen, pada akhirnya mereka pasti ketahuan juga, saat semua diketahui yang jelas kematian akan mendekati salah satu dari mereka.
Sama seperti dia dulu, satu di antara mereka pada akhirnya harus meregang nyawa dan Zaffa kehilangan anak mereka. Siapa yang paling berjuang menyelamatkan nyawa nya saat itu? Aida, gadis itu mati-matian menyelamatkan dirinya, bersumpah tidak akan meninggalkan dirinya.
Aida terus berlarian disepanjang laboratorium Doktor Hans, mengejar langkah kaki para doktor yang membawa tubuh Aida dengan branker dorong rumah sakit.
Kepanikan terlihat jelas di bola mata gadis itu, dia terus menggenggam erat tangan Zaffa.
"Nona aku mohon bertahanlah, aku mohon"
Tangis Aida pecah sejak tadi, sekujur tubuhnya dipenuhi darah dari tubuh Zaffa, dia tahu kehidupan didalam sana telah musnah sejak Cullen memukul dengan keras perut sang nona tadi.
"Aku akan terus disamping anda Hingga akhir, jadi aku mohon bertahanlah, bertahanlah"
Pandangan mata Zaffa jelas telah mengabur sejak tadi, hanya sayup-sayup terdengar suara Aida yang terus menangis sambil berteriak histeris.
Hingga pegangan tangan mereka terlepas dan pintu ruangan operasi mulai tertutup dengan sempurna.
"Aku mohon selamatkan dia uncle, aku mohon"
"Tenangkan diri mu Aida"
Doktor Hans bicara sambil berusaha menggenggam erat tangan Aida, seorang laki-laki tampak diam terpaku di belakang doktor Hans.
"Apa salah nya dia jatuh cinta? bagaimana mungkin seorang kakek tega membunuh cucunya sendiri?"
Aida memukul berkali-kali dada doktor Hans berkali-kali, doktor Hans hanya bisa mencoba untuk menenangkan Aida, dia tahu tidak ada yang tidak gila dibawah perintah Cullen, tanpa terkecuali bahkan dirinya.
"Aku mohon berhentilah melakukan ini semua, cukup diam dan jangan katakan apapun, aku tidak ingin di antara kalian ada lagi yang terluka"
Dokter Hans terus bicara sambil menenangkan Aida, lantas menoleh ke belakang meminta laki-laki muda yang berdiri di belakangnya untuk pergi menenangkan Aida.
*******
Aida tampak berlarian menuju ke arah parkiran sambil menelisik dimana mobil milik Seine, seketika senyuman nya mengembang saat dia menemukan mobil laki-laki itu, secepat kilat Aida mendekati mobil yang mendominasi berwarna merah itu lantas membuka nya dengan gerakan tergesa-gesa.
Seketika dia masuk kedalam lantas menutup.
"Maafkan aku terlambat?"
ucap Aida tiba-tiba, lantas sesosok laki-laki yang tengah tertidur didalam mobil itu secepat kilat bangun dan menoleh kearah Aida.
"Sayang?"
Seorang bayi mungil tampak berada didalam gendongan laki-laki itu.
"Kenapa lama sekali?"
Laki-laki bertanya pelan, menyerahkan bayi nya pada Aida.
"Ohhhh sayang maafkan Mommy"
Aida bicara sambil menggendong dengan lembut sang bayi, seketika bayi mungil itu menangis.
Laki-laki Tampak mengulas senyuman.
"Dia cukup kesal menunggu"
Mendengar penjelasan laki-laki itu seketika Aida menelan Saliva nya.
"maafkan Mommy hmm"
Aida bicara sambil menarik nafasnya pelan.
"masih sabar terpisah?"
Tanya Aisa pelan.
Laki-laki itu tertawa renyah.
"Aku selalu sabar menunggu kamu, sayang"
Jawabnya pelan.
"tunggu lah Hingga Zehra merobohkan sistem Cullen, sebentar lagi hmm"
Aida memeluk Sang putra sambil memejamkan bola matanya.
Laki-laki itu bersandar di bahu Aida, ikut memejamkan bola matanya.
Dia jelas tidak bisa membuka statusnya, sebab dia tidak ingin mengambil resiko yang sama seperti orang-orang yang mengabdi didalam Cullen.
Seperti perjanjian awalnya dengan doktor Hans dan putranya, mereka berjanji untuk tidak saling membuka diri hingga waktu nya tiba nanti.
"Berjanjilah kalian akan menyembunyikan pernikahan kalian hmm, Daddy tidak ingin ada kematian yang terjadi di antara kalian"