King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 57 A & A



Masih di kereta Orion Express


Ruang kamar Adeline dan Adalrich.


jemari Adeline terlihat bergerak secara perlahan, mata yang terpejam tersebut di atas kasur kereta Orion Express tampak bergerak ke kiri dan ke kanan, perempuan itu seakan-akan tengah bermimpi buruk saat ini, di mana di dalam alam bawah sadarnya dia merasa seseorang berulang kali mencoba untuk membunuhnya.


bahkan samar-samar dia mendengar suara saling sahut menyahut antara satu dengan yang lainnya.


dia mencoba untuk membangunkan dirinya sendiri namun begitu sulit, perempuan itu merasa dirinya seolah-olah berada dalam satu ruangan gelap yang membuat dia begitu sangat kesulitan untuk terbangun saat ini juga.


di mana bahkan dia merasa dirinya tengah berlari dan mencoba untuk keluar dari sana secepatnya, keringat dingin terlihat membasahi kedua pelipisnya dan juga di bagian kening dan diantara bagian rambut nya.


di dalam perjuangannya begitu sulit untuk bangun tiba-tiba dia mendengar suara samar-samar yang memanggil namanya.


"Adeline... Adeline..hei..."


"Adeline"


kemudian dia merasa ada yang menepuk-nempuk pipinya secara perlahan, dan di bawah alam sadarnya Adelin merasa seseorang mencoba untuk menariknya keluar dari keadaan.


Hahhhh.


seketika perempuan itu mencoba menarik panjang nafasnya, dia langsung membuka bola matanya dengan sempurna, perempuan itu sejenak tercekat dan mencoba menatap apa yang ada di hadapannya.


"Kamu baik-baik saja?"


satu suara dari gerakan bibir yang ada di hadapannya tersebut bertanya sembari menatapnya dengan keadaan khawatir, perempuan itu seketika langsung sedikit mendongak kan kepalanya hingga akhirnya dia menyadari jika yang ada di hadapannya saat ini adalah Adalrich.


"apakah ada sesuatu yang sakit di tubuhmu?"


laki-laki tersebut bertanya dengan keadaan panik.


Adeline sama sekali tidak menjawab apalagi merespon ucapan laki-laki yang ada di hadapannya itu, bola mata perempuan tersebut seketika langsung meneliti bola mata Adalrich untuk waktu yang cukup lama hingga apa yang dia lakukan membuat laki-laki yang ada di hadapannya itu terlihat sedikit panik.


"Adeline?"


Adalrich bertanya secara perlahan, binar kekhawatiran terlihat jelas di balik bola mata laki-laki tersebut, jemari-jemari tangan kanan nya menyentuh lembut wajah Adeline untuk beberapa waktu.


laki-laki itu tidak pernah mengkhawatirkan siapapun di muka bumi ini dan satu-satunya orang yang bisa membuat dia khawatir hanya Adeline seorang.


perempuan itu tidak menjawab sama sekali pertanyaan yang dilontarkan oleh laki-laki tersebut, dia mencoba meneliti wajah Adalrich untuk beberapa waktu hingga akhirnya perempuan tersebut mulai berbicara.


"di mana laki-laki itu?"


tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dari bibir Adeline.


dan hal tersebut jelas membuat Adalrick langsung mengerutkan keningnya,seolah laki-laki itu tengah memikirkan akan sesuatu.


"laki-laki yang mana? apa kamu mengenal salah satu di antara mereka?"


kalimat pertanyaan yang dilontarkan oleh Adalrich menimbulkan satu kecurigaan yang besar, dia pikir apakah laki-laki yang ada di belakang Adeline dan yang dia tembak kepalanya itu dikenal oleh istrinya?!.


alih-alih menjawab ucapan dari Adalrich, pada akhirnya Adeline memilih untuk tidak melanjutkan ucapannya, perempuan itu pada akhirnya mencoba untuk membuang pandangannya.


"kamu belum menjawab pertanyaanku"


ucap laki-laki itu kemudian.


bola mata Adeline menatap ke sisi kanannya, dia memilih tidak menjawab pertanyaan dari laki-laki tersebut, yang terjadi saat ini adalah bola matanya menangkap salju yang semakin menderas, kali ini salju turun tidak bisa dikendalikan sama sekali oleh tangan manusia, dia pikir musim dingin kali ini sungguh-sungguh sangat luar biasa.


"Adeline?"


"kamu belum menjawab pertanyaanku"


Ucap Adalrich cepat.


"aku tidak tahu apakah aku mengenal laki-laki tersebut atau tidak di masa lalu"


tiba-tiba Adeline membuka suaranya kemudian perempuan tersebut langsung menoleh ke arah Adalrick.


"tapi laki-laki yang ada di belakangku tadi memberikan aku sebuah peringatan jika seseorang telah mencoba untuk membunuhku beberapa kali"


lanjut perempuan itu lagi.


"dan ucapan terakhirnya cukup membuatku terkejut, ibumu katanya berkali-kali mencoba untuk membunuhku"


setelah berkata seperti itu bola mata Adeline menangkap bola mata Adalrich untuk beberapa waktu.


mendapati pertanyaan dari sang istri seketika membuat Adalrick sedikit membulatkan bola matanya, dia cukup terkejut laki-laki yang dia bunuh tadi memberikan satu informasi kepada Adelin.


"aku tidak pernah tahu bagaimana sebenarnya hubungan kita di masa lalu mengingat aku tidak memiliki banyak ingatan atau bahkan lebih tepatnya tidak memiliki sedikitpun ingatan diantara kita berdua dan masa lalu, tapi terkadang ada hal-hal yang membuatku penasaran soal diriku atau dirimu dan juga ibumu mengingat bagaimana tatapannya saat pertama kali aku bertemu dengannya di dalam mansion ketika aku tersesat di jalan belakang untuk mencari kamarku sendiri"


entahlah Kenapa Adeline ingin sekali mengeluarkan suaranya seperti apa yang diucapkan barusan, dia ingin tahu soal sesuatu karena itu dia berani mengucapkan kata-kata seperti yang dia ucapkan tadi kepada Adalrich.


"tidak tahu kenapa tapi aku meyakini jika ibumu tidak pernah menyukaiku sama sekali"


lanjut adeline lagi sembari perempuan tersebut terus meneliti bola mata Adalrich untuk waktu yang cukup lama.


Adeline tahu meskipun harus disembunyikan tapi perempuan itu bisa merasakan jika nyonya Alima sama sekali tidak menyukainya sedikitpun.


"aku tidak bisa memberikan penjelasan yang panjang lebar atau bahkan berusaha untuk meyakinimu soal ibuku, tapi tidak aku pungkiri hubunganmu dengan ibuku di masa lalu tidak baik-baik saja"


pada akhirnya laki-laki tersebut menjawab ucapan dan pertanyaan dari Adeline, dia pikir cepat atau lamban perempuan yang ada di hadapannya itu akan mengingat banyak hal di masa lalu satu persatu, dia tidak bisa mencegah ingatan seseorang untuk kembali ketika mereka menginginkannya.


"aku harap kamu bisa menjaga jarak dengan ibuku dengan sebaik mungkin"


setelah berkata seperti itu Adalrick mencoba meneliti dan menelisik bola mata adeline untuk beberapa waktu.


mereka seolah-olah kini larut di dalam keheningan di mana pikiran mereka masing-masing tengah berkelana entah ke mana.


hingga pada akhirnya Adeline kembali bicara kepada laki-laki yang ada di hadapannya tersebut.


"aku ingin bertanya kepadamu soal sesuatu"


ucap perempuan itu dengan tiba-tiba.


"Kamu bisa menanyakan nya"


Jawab Adalrich dengan begitu santai.


"bagaimana jika di masa lalu aku ternyata bukan orang yang baik, di mana sebenarnya tugasku hanya memanfaatkanmu dan memaksamu untuk masuk ke dalam kehidupanku hingga berakhir pada kata cinta yang sebenarnya mungkin tidak akan berhasil di antara kita"


Barisan demi barisan pertanyaan yang diberikan oleh Adeline seketika membuat laki-laki yang ada di hadapan perempuan tersebut tanpa sedikit terkejut, dia menelisik bola mata Adeline untuk beberapa waktu.


"itu terdengar sedikit mengerikan"


pada akhirnya Adalrich menjawab dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Adeline.


Alih-alih peduli dengan ucapan Adalrich yang terdengar begitu datar, Adeline kembali berkata.


"berikan satu jawaban atas pertanyaanku tadi, aku hanya ingin tahu apa yang akan kamu lakukan jika seandainya aku sejak awal memang benar-benar hanya ingin memanfaatkanmu namun kemudian perasaan itu berubah seiring berjalannya waktu"