King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Orang yang mengkhawatirkan diri nya



Dengan tangan gemetaran zehra mencoba membuka pakaian Arash, sebuah tembakan melesat tepat di punggung nya.


Zehra jelas panik, dalam seumur hidupnya baru kali ini dia melihat luka tembak Secara nyata, selama ini dia hanya menonton nya di drama-drama atau film-film movie Hollywood.


Dia mencoba menyambar gagang telepon rumah, mencoba membuat panggilan darurat, tapi Arash secepat kilat meraih Gagang telpon dari tangan zehra lantas menggeleng kan kepalanya.


"Bantu aku mengeluarkan peluru nya"


"Arash"


Air mata zehra jelas tumpah ruah, dia mana berani menyentuh nya, bisa dirasakan betapa menyakitkan luka itu di punggung arash.


"Ambil air hangat, pisau, kain dan kassa"


Arash tampak berbaring memunggungi zehra.


"Jangan bangunkan para pelayan"


Ucap Arash lagi.


Zehra berlarian keluar kamar, menuruni anak tangga menuju ke dapur, mencari apapun seperti yang di perintahkan Arash.


Masih dengan tangan gemetaran zehra membawa semua yang di pinta Arash tanpa berani bicara apa-apa, bahkan bisa zehra lihat wajah Arash semakin memuncat, laki-laki itu tampak tengah mencoba menancap kan selang infus ke tangan nya sendiri dengan susah payah.


"Gantungkan lah"


Arash meminta zehra menggantung kan infus ke atas dinding yang Seolah-olah memang telah Arash siapkan dan ini bukan hal baru untuk laki-laki itulah.


"Keluarkan lah"


Perintah Arash cepat.


"Ini akan menyakiti mu"


"Akan lebih menyakitkan ketika peluru nya tidak keluar sama sekali"


Setelah berkata begitu, Arash menyerahkan pada zehra pisau yang cukup lancip ke tangan zehra, meminta sang istri melakukan tugasnya.


"Jangan ragu, semakin kamu ragu, semakin aku merasa sakit dan terluka"


Arash bicara sambil menyentuh pelan wajah zehra.


"Semua akan baik-baik saja ketika peluruh nya telah di buang"


Arash langsung membaringkan tubuhnya, membiarkan zehra melakukan tugasnya.


Zehra baru sadar ada beberapa bekas luka di punggung laki-laki itu, seolah-olah benar ini bukan pertama kalinya Arash mendapatkan luka tembak.


Dengan jutaan rasa sesak zehra menuruti perintah Arash, mencoba mengeluarkan pelurunya dari punggung sang suami.


Tidak terdengar sedikit pun ringisan atau teriakan dari bibir Arash, laki-laki itu tampak diam dalam waktu cukup lama, hanya terasa tubuh Arash mengeluarkan keringat dingin dan peluh di wajah tampan nya, hingga akhirnya sebuah peluru benar-benar keluar dengan sempurna.


Secepat kilat zehra meraih alkohol, lantas membubuhi obat yang telah Arash siapkan dari kotak obat p3k yang seolah selalu standby di kamar mereka lantas Zehra membalut dengan cepat luka Arash dengan kain kassa dan plaster.


Isakan tangis zehra terdengar jelas dan menggema di dalam kamar mereka, Arash tampak mulai memejamkan bola matanya, mencoba membiasakan diri pada suara tangisan zehra yang sebelumnya tidak pernah ada di dalam kamarnya.


Bagi Arash bergelut didalam dunia mafia jelas harus sering bertaruh nyawa, tembakan seperti ini hanya menyakiti diri nya dan tidak akan membunuh dirinya.


Pergi baik, pulang terluka, di obati kemudian dalam beberapa hari akan membaik sudah terlalu sering dia lewati, tidak ada yang aneh baginya, semua sudah sangat biasa di lalui nya.


Tapi kali ini jelas terasa berbeda, ada sosok seseorang yang menangis mengkhawatirkan dirinya, merawat nya dengan penuh perasaan cinta bahkan takut terjadi sesuatu yang buruk padanya.


Zehra secara perlahan menyingkirkan semua peralatan yang digunakan nya tadi, dengan gerakan perlahan dia berbaring di samping Arash, menatap laki-laki itu dengan jutaan kekhawatiran.