King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Tidak pantas untuk dirinya



Zehra secara perlahan melepaskan perban yang menempel di tubuh Arash, membersihkan sisa-sisa luka yang mulai mengering di punggung sang suami dengan gerakan lembut.


"Sakit?"


Tanya zehra pelan.


"Tidak"


Arash menjawab pelan, laki-laki itu tampak berbaring hanya menggunakan handuk nya saja, dia baru selesai membersihkan diri dan membiarkan Zehra mengganti perban nya.


"Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"


Tanya Arash tiba-tiba pada Zehra.


Sejenak zehra menghentikan gerakan tangannya, dia tampak diam beberapa waktu.


Tiba-tiba Arash membalikkan tubuhnya.


"Itu menyakitkan, jangan berbalik Seperti itu"


Ucap zehra cepat dengan perasaan khawatir.


Arash Seolah-olah lupa jika ada bekas luka di punggung nya, laki-laki itu langsung menoleh ke arah zehra sambil terus membalikkan tubuh nya.


"Ini hanya luka kecil"


Ucap nya pelan lantas dengan gerakan cepat tangannya meraih tangan zehra.


"Kemarilah"


Arash bicara sambil memiringkan tubuhnya ke kanan, dia menepuk pelan lengan nya dan meminta zehra tidur disana.


Zehra Tampak diam sejenak.


"Kamu masih merasa canggung saat bersama dengan ku"


Ucap Arash sambil menatap dalam bola mata zehra.


"Bahkan kita sudah saling menyatu, apa masih harus takut padaku?"


Zehra diam Sejenak, kemudian dia menggeleng.


"Maafkan aku"


Ucap nya pelan.


Laki-laki itu menaikkan sudut bibirnya, Dengan gerakan cepat Arash mencium lembut kening zehra.


"Kita akan mengambil liburan besok, aku akan membawa mu ke satu tempat"


Arash berkata sambil memejamkan perlahan bola matanya.


Zehra menatap dalam wajah laki-laki itu, secara perlahan tangan kanan nya mencoba menyentuh ujung hidung Arash, dia baru tahu betapa mancungnya hidung laki-laki yang ada di hadapannya itu.


Arash tidak bergeming, membiar kan Zehra mengukur seluruh rahang wajahnya dari kening, pipi, hidung, bibir hingga ke dagunya satu persatu.


"Kamu menyukainya hmm?"


Tanya Arash pelan sambil mencoba memeluk erat tubuh zehra setelah sadar perempuan itu mulai menghentikan gerakan tangannya.


"Saat di Indonesia aku mengenal beberapa anak-anak tuna netra, kami sering berbicara atau mengobrol bersama untuk waktu yang lama, berbulan-bulan hingga bertahun-tahun hingga saling mengakrabkan diri"


Kenang zehra


"Lalu satu hari mereka pernah berkata pada ku 'Boleh aku menyentuh wajah kakak?' kemudian mereka mencoba menghapal wajah ku dengan cara seperti apa yang aku lakukan tadi"


Zehra tampak menatap dalam bola mata Arash saat laki-laki itu mulai membuka bola matanya.


"Lalu aku mencoba melakukan nya, mencoba menghapal wajah seseorang dengan cara seperti itu"


Zehra menarik pelan nafasnya.


"Dari sana baru terasa betapa beruntungnya kita yang memiliki penglihatan secara normal, tapi sering kali mengeluh atas berkah kesehatan yang Allah berikan, padahal mereka sama sekali tidak pernah mengeluh dan terus menjalankan hari-hari mereka penuh dengan rasa syukur"


Mendengar ucapan Zehra sejenak Arash membeku, lantas tiba-tiba sebuah pertanyaan panjang keluar dari bibir laki-laki itu.


"Jika seandainya orang yang kamu cintai mengalami kebutaan, satu-satunya pendonor yang bisa memberikan matanya adalah kamu, apa yang akan kamu lakukan?"


Zehra tampak mengembang kan senyumannya.


"Selama itu bermanfaat untuk nya, di gunakan sebagaimana mestinya, mampu membawa kebaikan untuk aku dan dia, aku dengan ikhlas akan melakukan nya"


Jawaban Zehra jelas terdengar begitu yakin tanpa rasa ragu di balik telinga Arash, seketika Arash menelan kasar salivanya, tidak tahu kenapa bagi nya perempuan itu seolah-olah memang tidak pantas tercipta untuk nya.


Benar kata Debora, harusnya zehra layak bahagia hidup dengan laki-laki baik yang mencintai nya dan mampu membahagiakan zehra, bukan dengan dirinya yang sama sekali tidak pantas untuk menggenggam tangan perempuan bak malaikat itu.


Mereka jelas seperti langit dan bumi, yang tercipta dengan jutaan perbedaan bahkan dengan dinding pembatas kaca yang sulit sekali untuk pecah.