King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 50 A & A



Mereka berada di dalam keheningan untuk beberapa waktu, sibuk dalam pemikiran masing-masing setelah Adalrick menjawab pertanyaan Adeline.


Perempuan itu memilih diam dan memalingkan wajahnya, memutuskan untuk tidak melanjutkan pertanyaan nya, tatapan mata Adeline saat ini tertuju kembali pada barisan pohon yang ada di sisi kanan nya.


Dia menguap untuk beberapa waktu, mencoba menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang dimana dirinya duduk saat ini.


Asap cerobong kereta api terlihat dengan jelas dari depan sana ketika jalan yang mereka lewati berkelok-kelok disepanjang hutan belantara, Adeline pikir seperti nya dia pernah melewati masa ini sebelum nya.


Dimana?!.


Sejenak dia mengerutkan keningnya.


Beberapa suara terasa mengganggu gendang telinga nya, Adeline berusaha untuk menyentuh kepalanya yang tiba-tiba sakit.


"Bergerak maju atau mundur sekarang juga?"


"Kita sudah sejauh ini berjalan, Adeline"


"Kita bisa saling melepas kan genggaman, bertahan lah sebentar lagi di samping Adalrich, setelah ini aku akan menjemputmu"


"Hingga rencana nya berhasil, buat dia jatuh cinta pada mu"


"Kau bisa menghunuskan pedang mu ke jantung nya ketika kalian melewati sesi bercinta untuk terakhir kalinya"


"Atau berikan racun bunga Nerium Oleander, bunga Lily of the valley atau bahkan Autum Corcus hingga dia meregang nyawa di hadapan mu setelah kemenangan kita"


Suara langkah kaki orang-orang berlarian terdengar semakin kencang di balik telinga nya, hari berubah menjadi diiringi potongan demi potongan kepingan peristiwa masa lalu menghantam dirinya.


"Tarik pelatuk mu Adeline, sekarang"


Suara Adalrich memecah keadaan.


Hahhhhhh.


Adeline seketika membuka bola matanya dengan paksa.


"Apakah ada sesuatu yang sakit?"


Tiba-tiba dia melihat Adalrich sudah duduk tepat dihadapan nya, tatapan mata syahdu Adalrich memecah keadaan, membuat Adeline terlihat bingung dengan keadaan.


Dia pikir sejak kapan dia tertidur dan terbaring lelap di atas kasur kereta api tersebut?!.


"Kamu mimpi buruk hmmm?"


Sentuhan tangan itu menyibak lembut rambut Adeline yang menutupi wajahnya karena basah akan keringat.


bola mata Adeline sama sekali tidak berkedip, dia menelisik wajah yang ada di hadapannya tersebut untuk beberapa waktu.


Mimpi barusan terasa begitu nyata.


"Aku sebenarnya siapa?"


Satu baris pertanyaan meluncur dari balik bibir Perempuan tersebut.


mendengar pertanyaan yang meluncur dari balik bibir istrinya, membuat Adalrick terlihat diam untuk beberapa waktu.


"aku pikir kau dan aku saling menyimpan rahasia dimasa lalu"


Lanjut Adeline lagi.


"apa yang saling kita cari di diri kita masing-masing, Adalrick?"


Tanya nya lagi sambil terus menelisik bola mata laki-laki dihadapan nya tersebut.


Begitu pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari balik bibir Adeline, Adalrich terlihat tidak mengeluarkan suaranya sama sekali, dia lebih memilih menikmati wajah di bawahnya tersebut untuk beberapa waktu, kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Adeline yang terlontar untuk nya tadi.


"Aku sedang mencari tahu"


Satu baris jawaban meluncur dari bibir Adalrick.


"Kau terlalu banyak menyembunyikan jati diri mu dimasa lalu"


lanjut laki-laki itu lagi.


mereka Diam tidak lagi melanjutkan kata-kata mereka, hingga akhirnya tidak berapa lama terdengar ketukan dari arah pintu kamar depan diiringi suara kereta api yang kencang.


Adeline yang sadar akan keadaan langsung mendorong dada Adalrich, dia memikirkan tubuhnya dan berusaha untuk membenahi posisinya.


Adalrich buru-buru berdiri, bergerak dengan cepat dari atas kasur tersebut, laki-laki terkini berjalan menuju ke arah pintu depan secara perlahan.


dia bertanya dibalik pintu untuk beberapa waktu dan memastikan itu adalah orangnya.


"katakan?"


"Ini aku tuan"


satu sahutan yang terdengar dari ujung luar sana hingga akhirnya membuat Adalrick langsung membuka pintu tersebut sembari tetap bersiap dengan senjata di tangan kanannya, dia selalu memasang angka waspada didalam dirinya.


begitu pintu terbuka dia bisa melihat salah satu orang-orang yang tampak berdiri di ambang pintu dan menundukkan kepalanya.


satu kode diberikan dari balik mata laki-laki yang ada di hadapan Adalrick, hingga akhirnya membuat Adalrick melirik ke arah Adeline.


"aku akan keluar dan kembali dalam beberapa puluh menit"


ucap laki-laki tersebut lantas segera beranjak dari sana.


melihat Adalrich pergi dari hadapannya, Adeline langsung turun dari tempat tidurnya dengan cepat.


satu kata hati nya berkata agar menuntunnya segera keluar dari sana, dia pikir dia benar-benar mengenali kereta tersebut saat ini dan mencoba untuk mencari tahu serta menelusuri area di mana dia bermimpi tadi.


perempuan itu mencoba membuka pintu secara perlahan, memastikan jika laki-laki yang katanya adalah suaminya itu sudah pergi menjauh dari sana.


Adeline memperhatikan di sisi kiri dan kanannya, ketika dia merasa tidak ada orang di sana sama sekali perempuan tersebut buru-buru berjalan melangkah ke sisi kirinya sembari dia menutup pintu kamar bilik kereta api mereka tersebut.


perempuan itu berjalan secara perlahan menyusuri setiap koridor jalanan ruang kereta api, bola matanya menyusuri sekitaran di sana tanpa henti.


dia mencari satu tempat yang ada di kepalanya saat ini, sembari bola matanya terus awas meratap orang-orang yang mungkin akan terlihat di hadapannya saat ini.


rasanya cukup aneh karena dia tidak mendapati satu orang pun di tiang koridor jalanan, tapi rasa penasaran dan ingin tahunya menuntunnya pada satu arah.


Adeline, siapa kamu sebenarnya?!.


barisan pertanyaan itu benar-benar mengganggu dirinya, dia benar-benar ingin tahu siapa dirinya yang sebenarnya.


ketika dia bisa dan berhasil mendapatkan identitasnya, maka dia bisa membaca teka-teki soal masa lalunya dan juga laki-laki yang ada bersamanya saat ini.


dia yakin ada sesuatu yang disembunyikan semua orang saat ini kepada dirinya, bahkan dia yakin beberapa orang mengenalnya dengan baik tapi dia sama sekali tidak bisa mengenal balik orang-orang itu.


Adeline terus bergerak menuju ke arah depannya, dengan langkah cepat dia mengikuti arah bola matanya sembari suara kereta api terus terdengar memecah keheningan keadaan.


beberapa kali bola matanya menatap ke sisi kiri dan kanannya,tapi tetap dia tidak temukan satu orang pun di sana, hingga akhirnya satu hatinya menuntun dirinya menuju ke arah satu ruangan penghubung kereta api di tempat di mana dia berdiri saat ini.


Adelin jelek membeku untuk beberapa waktu, hingga akhirnya dia mencoba melangkahkan kakinya kembali ke arah depan,. melangkah bergerak menuju ke arah pintu penghubung gerbong di mana dia berdiri dan melangkah saat ini menuju ke gerbong lain yang dia tidak tahu apakah mengarah ke arah depan atau sebenarnya mengarah ke arah belakang.


saat pintu terbuka sejenak bola matanya terpaku ada sesuatu yang ada di seberang sana, seketika perempuan tersebut menghentikan gerakan kakinya saat ia menyadari ada seseorang yang berdiri tepat di hadapannya saat ini.