
Masih dimasa kemarin.
Edward pearl junior tampak menatap ke arah langit yang mulai menggelap, ribuan burung gagak tampak berhamburan keluar dari tempat kediaman mereka, mercusuar tertinggi milik Cullen mafia yang biasa nya gelap tiba-tiba mengeluarkan cahaya nya.
Secepat kilat Edward pearl junior menoleh ke arah Tristan dan Ahem, mereka saling memandang antara satu dengan yang lain nya.
"The Queen of Cullen telah masuk ke sarang nya"
Ucap Tristan cepat.
"Kumpulkan semua pasukan black pearl, ketika tanda berikut nya masuk, itu artinya sang ratu telah memulai misi nya"
Lanjut Tristan lagi, sambil menoleh ke arah salah satu anak buah mereka.
"Baik Tuan"
Tristan tampak mulai menyesap minumannya, tanpa banyak bicara mereka semua melanjutkan permainan kartu mereka.
******
2 hari sebelum nya.
Tristan yang baru saja menyelesaikan makan malam bersama sang istrinya Lana lan tiba-tiba kedatangan tamu yang begitu istimewa.
"Debora?"
Laki-laki itu jelas cukup terkejut, Lana lan sang istri dengan gerakan refleks langsung berhamburan memeluk Debora dengan jutaan kebahagiaan.
"Katakan pada ku ada apa? ekspresi wajah itu tidak bisa membohongi diri ku sedikit pun, seperti nya ada hal yang cukup penting yang ingin di bicarakan?"
Gadis itu terkekeh saat Tristan selalu bisa menebak ekspresi wajah nya itu.
"Cukup penting, ini soal penerus Cullen"
Sejenak Tristan diam, dia tampak duduk tanpa mengeluarkan sedikit pun suaranya dalam beberapa waktu yang cukup lama.
Tristan tampak mengetuk-ngetuk jemari nya di antara kursi yang dia duduki itu, hingga akhir nya laki-laki itu mulai angkat bicara.
"Apa ini bisa dikatakan seperti sebuah pemberontakan?"
Tanya laki-laki itu sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Kurang lebih"
Jawab Debora cepat.
Tristan tampak terkekeh.
"Aku tidak heran kenapa Cullen begitu ingin gadis itu naik menjadi penerus nya dulu"
ucapnya dengan ekspresi kagum.
Lanjut Tristan lagi.
********
Ditempat yang berbeda.
Saat Aida berdiri dihadapan Ahem, laki-laki itu jelas mengerutkan keningnya, dia fikir ada apa dengan tangan kanan nya Zaffa putri Cullen yang ke dua, tiba-tiba mendatangi diri nya di kediaman keluarga besar hillatop.
"Ini cukup menjadi sebuah kejutan besar"
Ucap Ahem sambil menatap tajam bola mata Aida.
"Ada apa?"
Sang calon istri Ahem yang baru tiba bersama Mommy nya tampak cukup terkejut melihat Aida.
"Bukankah ini anggota keluarga Cullen?"
Sang Mommy nya Nadya Bertanya sedikit terkejut.
"Ya nyonya"
Aida menundukkan kepalanya secara perlahan.
"Sepertinya ada urusan yang cukup penting, sebaiknya kita naik ke atas,hayat"
Mommy Ahem bicara sambil menggandeng tangan sang calon menantu.
Saat kedua orang yang paling laki-laki itu cintai naik ke atas, dengan cepat Ahem melesat masuk ke satu ruangan yang sering dia gunakan sebagai ruang Bekerja nya jika pulang ke keluarga hillatop.
"Kamu bisa memulai nya"
Ucap Ahem sambil duduk di atas kursi miliknya.
Aida menundukkan perlahan kepalanya, lantas menyerahkan sebuah surat kepada laki-laki itu.
Sejenak Ahem menaikkan ujung alisnya, menerima surat tersebut lantas Mulai membuka nya secara perlahan.
Ekspresi wajah Ahem jas begitu sulit untuk dijelaskan cukup lama, hingga akhirnya ekspresi itu berubah, sejenak dia menaikkan ujung bibirnya.
"Aku tidak heran kenapa Cullen lebih memilih dia ketimbang putri-putri nya yang lain nya"
Ucap Ahem sambil meraih pamatik nya, dia membakar surat tersebut lantas memasukkan surat yang masih terbakar tersebut ke dalam asbak kaca.
"Aku menerima surat serta tawaran nya"
Ucap Ahem cepat.
Aida menundukkan perlahan kepalanya, lantas dengan cepat beranjak pergi dari sana.