
Udara pagi dalam balutan musim dingin dimana salju semakin terlihat menebal di pukul 5 pagi cukup membuat tubuh siapapun meremang dan bergetar merasakan dinginnya ketika diterpa angin pagi dan hujan salju dari berbagai penjuru, semua orang beranjak dari posisi masing-masing untuk kembali ke kediaman besar keluarga Ben Petra.
Setelah Adalrich menyelesaikan beberapa urusan nya dalam beberapa hari ini di tengah penyembuhan punggung nya yang terkena luka tembak yang di anggap orang-orang tidak baik-baik saja tapi di anggap Adalrich itu bukan persoalan berat yang harus di besar-besarkan karena dia sudah terbiasa terluka seperti ini, mereka benar-benar bergerak dari Hamburg dan kembali ke Berlin.
Ada tugas berat yang akan mereka selesai kan setelah hari ini dan Adalrich ingin semua selesai tanpa Harus memperpanjang persoalan di antara banyak hal.
Netra tajam laki-laki tersebut menatap kearah sosok Adeline yang di bawa oleh pelayan kepercayaan nya dimana wanita tersebut membiarkan Adeline naik ke mobil berkuda besi mendominasi berwarna hitam yang juga di naiki Adalrich, melihat itu Adalrick secepat kilat langsung mendekati Adeline dan mengulurkan tangannya agar perempuan tersebut secepat kilat meraih tangan nya untuk naik dengan bantuan nya.
Sejenak bola mata indah Adeline menatap dirinya, seulas senyuman terbit dibalik bibir indah perempuan tersebut,dia Meraih tangan Adalrich dan membiarkan laki-laki tersebut membàwa nya masuk ke dalam mobil tersebut.
Chaddrick kecil Memilih tidak ikut di mobil yang sama dengan mereka, bocah kecil tersebut lebih suka berdekatan dengan nenek nya, karena bagi nya sang nenek seperti malaikat tak bersayap, sangat menyayangi nya dan selalu mengabulkan semua keinginan nya tanpa harus menunggu seperti menunggu pada Adalrich yang sering sibuk dengan urusan nya.
Adeline sebenarnya cukup sedih Chaddrick kecil lebih memilih ikut bersama ayah dan ibu mertua nya dari pada ikut mereka, tapi bagi Adalrich itu jelas satu kelegaan, putra mereka tidak akan mengganggu mereka sejenak selama diperjalanan, dia tidak perlu berbagi perhatian Adeline pada Chaddrick kecil hingga perempuan cantik tersebut lagi-lagi mengabaikan dirinya.
Dia terlihat kekanak-kanakan karena cemburu pada putranya sendiri.
Manusia seperti bongkahan es bagi semua orang tersebut ternyata begitu pencemburu dan sedikit kekanak-kanakan sekali.
Begitu mereka telah masuk ke dalam mobil tersebut, Adeline langsung menduduki pantatnya ke salah satu kursi di mobil tersebut dan diikuti oleh Adalrich.
Tiba-tiba laki-laki itu secara perlahan memasangkan jaket miliknya pada Adeline, hal tersebut sontak membuat Adeline sedikit terkejut dengan keadaan.
"Aku telah menggunakan jaket ku"
Ucap Adeline Pelan.
"Udaranya semakin mendingin di suhu seperti ini, tidak ada perapian didalam mobil dan aku takut kamu terkena demam"
Kalimat Penuh perhatian tersebut meluncur dari balik bibir Adalrick, dia tahu adeline akan sangat kesulitan menghadapi dingin nya musim salju mengingat bagaimana hal dimasa lalu menjadi hal paling sulit untuk Adeline.
Udara dingin akan membuat tubuh perempuan tersebut sedikit tidak bebas untuk bergerak dan melakukan banyak aktivitas, bahkan istrinya sering merasa kram kulit saat musim dingin menerjang.
"Lalu bagaimana dengan mu?"
Bola mata Adeline menatap dalam wajah Adalrich, mereka duduk bersebelahan di atas mobil tersebut namun saling berhadapan saat berbicara.
"Saat di kereta, akan ada selimut yang membuat ku hangat dan juga perapian"
Lanjut laki-laki itu lagi hingga membuat perempuan itu seketika langsung mengulum senyuman nya.
Dia lupa di kereta nanti akan ada perapian dan juga selimut yang bisa membantu menghangatkan tubuh Adalrich.
Mereka sengaja memilih pulang di jam seperti ini karena ini sedikit membuat aman mereka dan tidak terlihat terlalu mencolok, karena pulang di pagi hari hingga matahari terbit jauh lebih aman daripada kembali pada malam hari hingga menimbulkan kecurigaan besar dan kurang amannya dalam perjalanan.
Ditambah lagi mereka tidak mungkin menunda waktu kepulangan karena saat ini ada banyak hal yang harus mereka selesai.
Adalrich cukup berpacu dengan waktu, dia harus menyelesaikan semuanya secepatnya sebelum pemilihan, dia tahu kekacauan besar akan terjadi tidak lama lagi dimana semua orang telah bergerak diam-diam dalam kubu mereka masing-masing.
Apa yang dia rencanakan? Sejauh ini kewaspadaan, sebab dia tidak mendukung kubu mana pun, dia lelah untuk menjadi serakah karena urusan orang lain.
Perjalanan cukup panjang yang harus mereka tempuh, jangan berharap menunggu matahari terbit akan terjadi disepanjang perjalanan menuju ke Berlin, karena ini musim salju sebab hanya ada langit terang tanpa benar-benar ada sinar matahari,dimana aroma dan rasa dingin semakin menjadi-jadi.
Begitu tiba di kereta Orion Express mewah mereka bergerak cepat masuk ke gerbong kelas khusus yang memang disediakan untuk Adalrich dan keluarga, mereka sengaja memilih berada di gerbong terpisah agar tidak menimbulkan satu kecurigaan mendalam.
Percayalah didalam kamar gerbong kereta Adeline mulai gusar dengan rasa dingin nya, dia mulai membaringkan tubuhnya di kasur mendominasi berwarna merah dan mencoba mengamankan tubuhnya dalam rasa dingin yang menerjang.
Cuaca dingin semakin menjadi-jadi.
Melihat hal tersebut sontak membuat Adalrick langsung mendekati adeline, dia Sengaja naik ke atas kasur dan merapatkan tubuhnya sambil memeluk tubuh sang istri, gerakan laki-laki tersebut membuat Adeline sedikit terkejut, tapi dia mengembangkan senyuman nya saat Adalrick memilik untuk menggosok-gosok punggung adeline secara perlahan, membiarkan tubuh perempuan itu masuk ke dalam pelukannya.
"Aku pikir aku mulai merasakan hiportemia"
Bisik Adeline pelan, dia menenggelamkan wajahnya kedalam dada Adalrich, cuaca kali ini jauh lebih dingin dari saat mereka pergi kemarin.
Adeline benar-benar kalah dalam cuaca dingin sejak dulu, dia jelas rentan bergerak dalam kondisi seperti ini.
"Ada aku disini, tidurlah"
Bisik Adalrich perlahan.
Adeline tidak bergeming, hanya mengangguk kan sekali kepalanya, membiarkan dirinya tenggelam salam kehangatan suami nya.
Entah berapa lama waktu berlalu, yang jelas adeline mulai tenggelam didalam tidur nya, membiarkan tubuhnya semakin tenggelam dan merapat dalam dekapan Adalrich, perlahan rasa hangat menyelimuti tubuh nya, membuat perempuan tersebut benar-benar masuk ke alam mimpi terbaiknya.
Adalrich terlihat mengulumkan senyuman nya untuk beberapa waktu, mencoba membenahi rambut istri nya secara perlahan.
Laki-laki menatap dalam wajah Adeline untuk beberapa waktu, menikmati keindahan yang telah lama tidak dia nikmati selama kebersamaan mereka beberapa waktu ini, menahan banyak kerinduan didalam hati nya yang nyaris meledak tanpa batas.
Hingga akhirnya secara perlahan Adalrich menyentuh lembut wajah Adeline, lantas secara perlahan pula dia mendekati wajahnya pada wajah cantik yang terlelap dihadapan nya itu.
Sepersekian detik kemudian dengan gerakan lembut dia menautkan bibir mereka secara perlahan, menikmati satu moment yang membuat dia rindu pada keadaan ini.