
Anta Sejak tadi terus meringkuk didalam selimut nya, selain menahan rasa perih setelah pergumulan panjang di antara dia dan Enardo, rasa malu jelas mendominasi didalam dirinya.
Anta jelas malu menatap wajah laki-laki itu.
Ahhhhh
Anta merengek didalam hati, mencoba tidak keluar dari dalam selimut tebalnya.
Suasana gelap nya malam didalam pesawat serta rasa dingin yang terus menyapu kulit tubuh Anta yang hanya menggunakan lingerie sesudah mandi setelah usai melakukan sesi panas tadi menambah syahdu keadaan di dalam kamar itu pesawat jet pribadi tersebut.
Beberapa pelayan pramugari khusus terlihat masuk membawa menu makan malm untuk mereka, melirik ke arah Enardo sejenak lantas melirik ke arah nona mereka yang mereka kira masih tertidur lelap.
Mereka tampak saling melirik beberapa waktu, merek fikir gosip soal hubungan tidak baik dalam pernikahan tuan mereka seperti nya tidak benar, toh buktinya sang tuan tampak tersenyum begitu bahagia menatap ke arah nona merek yang masih terlelap ditutupi selimut.
Yah Enardo tampak mengulum senyumannya melihat ekspresi Anta yang Masih malu-malu, laki-laki itu masih menggunakan jubah mandi nya, berjalan mendekati Anta lantas secara perlahan menarik selimut Anta, mencoba untuk bicara pada sang istri.
"Come sayang, Mari mendapatkan makan malam"
Ucap Enardo sambil mencium lembut kening Anta.
Beberapa pramugari Tampak tersenyum malu melihat kemesraan sang tuannya terhadap sang istri.
"Hmmm sudah jam makan malam?*
Tanya Anta dengan wajah memerah, menatap malu-malu ke arah bola mata Enardo.
"He em"
Laki-laki itu mengangguk, menarik seluruh selimut Anta yang masih menutupi seluruh wajahnya, membiarkan selimut itu hanya menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Sudah cukup terlambat"
Enardo bicara lantas menunggu semua orang selesai menyusun makanan mereka.
Selang beberapa waktu kemudian semua nya Tampak menundukkan kepala mereka, Lantas langsung melesat pergi keluar dari kamar itu.
Enardo meraih sebuah menu makanan, duduk disamping Anta lalu mulai menyuapi Anta Secara perlahan.
"Aku bisa makan sendiri"
Ucap Anta pelan.
Buru-buru Enardo menggeleng.
"Malam ini nyonya Anta Morgan adalah ratu nya"
Seketika Anta tertawa kecil.
Pada akhirnya Obrolan panjang terjadi di antara mereka di sela-sela makan malam, suasana benar-benar mencair dengan sempurna bahkan Enardo begitu pandai membuat suasana hati Anta berbunga-bunga.
"Berapa kali kamu pernah ke Indonesia?"
Tanya Anta cepat sambil menerima minum yang diberikan Enardo kepada dirinya, dia secara perlahan mulai meminum minumnnya.
"Hmmm cukup sering, aku pernah pergi bersama Tristan, Seine, Eliot dan Gao Untuk melakukan perjalanan bisnis, dan pernah pergi bersama Arash untuk beberapa urusan kecil".
Enardo bicara sambil mengingat-ingat.
"Ahhh jadi sering rupanya"
Jawab Anta pelan.
"Bersama perempuan?"
Anta Bertanya sambil memicingkan sebelah matanya.
"Ini pertama kali nya"
Jawab Enardo mantap, laki-laki itu sempat mengulum senyumannya saat mendengar Anta mengajukan pertanyaan itu.
"Kenapa?"
Enardo tampak paham ke arah mana pembicaraan sang istri.
"Aku bukan type laki-laki yang suka membawa perempuan asing atau membawa perempuan yang bukan milik ku"
Ucap Enardo pelan, mengelus lembut rambut Anta untuk beberapa waktu.
Anta sejenak menundukkan kepalanya, sedikit merasa malu karena menanyakan hal bodoh seperti tadi.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, hanya bertanya saja kok"
Ucap Anata cepat seolah-olah dia baru saja ketahuan karena merasa cemburu.
Enardo terkekeh kecil, menyentuh kedua wajah Anta secara perlahan.
"Bertanya lah selama kamu Merasa ada yang mengganjal"
Ucap laki-laki itu pelan sambil menatap dalam bola mata Anta.