
Adeline terlihat mematung dimana di depan nya seorang laki-laki terlihat berdiri di ujung sana Sembari menatap balik kehadiran nya.
Sama seperti dirinya, laki-laki tersebut seperti baru keluar dari gerbong di ujung sana, bergerak maju menuju kearah nya.
begitu melihat Adeline laki-laki tersebut menghentikan gerakannya, dia ikut menghentikan langkah kakinya dan papaku menatap Adeline yang berdiri di ujung gerbong.
"Maaf?"
seketika suara Adeline memecah keadaan, sedikit ragu untuk mengajak sosok laki-laki di hadapannya tersebut bicara, tapi dia pikir dia tidak mungkin membeku dengan keadaan.
"Bisa memberitahukan aku sesuatu?"
Adeline bertanya sembari menatap sosok yang ada di hadapannya tersebut sembari dia melangkah dengan sedikit ragu-ragu karena depan ketika dia telah menonton peran penghubung kereta api antara di mana dia berada menuju ke kereta api yang lain nya.
"Aku cukup bingung karena tidak menemukan satu orang pun sejak tadi, bisakah aku menemukan beberapa orang setelah dari tempat ini?"
Tanya Adeline dengan suara yang sedikit keras lantas dia mencoba berpegangan pada sisi kiri kereta, dia belum memiliki beranjak dari posisi nya.
bola mata Adelin melihat sosok di depannya untuk beberapa waktu, seorang laki-laki yang mematung menggunakan tongkat di tangan kanan nya, wajahnya tidak bisa dikategorikan sebagai wajah yang ramah, usianya mungkin sekitar 38 tahunan, tubuh kurus dan juga jangkung itu menatapnya dengan tatapan yang Adeline tidak mengerti.
pakaian yang digunakan oleh laki-laki tersebut tidak dikategorikan sebagai pakaian dari kalangan kelas atas, dia menggunakan kemeja berwarna putih di mana di luarnya menggunakan balutan jaket kulit mendominasi berwarna hitam yang di bagian lehernya terlihat sedikit berbulu-bulu dengan warna yang sedikit lusuh.
celana yang digunakan laki-laki tersebut berwarna krim tua, dan sepatunya merupakan sepatu boot yang biasa digunakan oleh orang-orang kalangan kelas menengah.
kepala laki-laki tersebut menggunakan topi wool lidah berwarna hijau tua.
namun yang sedikit mengganggu Adelineadalah tongkat di tangan laki-laki tersebut, untuk laki-laki seusia itu menggunakan tongkat untuk berjalan jelas sedikit membuat seseorang mengerut kan keningnya.
hanya orang-orang tua yang menggunakan tongkat seperti itu dan tidak untuk orang muda.
saat Adeline berkata dia sedikit bingung tidak menemukan satu orang pun di sana, sebenarnya dia berusaha untuk ingin melewati pintu di mana laki-laki tersebut kini berdiri, tapi dia cukup takut untuk melangkahkan kakinya mendekati laki-laki tersebut karena penampilan laki-laki itu membuat Adeline sedikit bergidik ngeri.
hujan salju yang terlihat dari kaca kiri kanan kereta api yang dia naiki jelas semakin deras, meskipun hari mulai beranjak siang namun matahari tidak akan pernah berpengaruh pada musim dingin.
"Anda bisa melewati pintu ini dan melihat ke arah belakang di sana akan ada banyak orang-orang yang berkumpul untuk menikmati makanan siang"
laki-laki di ujung sana menjawab dengan cepat, dia memberikan pernyataan jika pintu yang akan dilewati di belakangnya tertuju kepada satu gerbong kereta makan yang diisi oleh banyak orang, dia bisa memastikan gadis dihadapannya itu akan mendapatkan sekumpulan orang di sana tanpa takut sendirian.
sebenarnya ada sedikit keraguan di balik bola mata laki-laki tersebut saat dia menjawab pertanyaan Adelin, seolah-olah laki-laki tersebut menyimpan satu tanda tanya besar di dalam dirinya.
mendengar jawaban laki-laki tersebut Adeline terlihat menganggukkan kepalanya, dia sebenarnya tidak begitu peduli dimana tempat keramaian, yang Adeline inginkan hanya mencari tempat yang ingin dia cari dimana hati nya menuntun untuk bergerak melangkah maju.
Perempuan tersebut mencoba untuk melangkah kedepan, dia pikir mungkin dia akan melewati laki-laki dihadapan nya tersebut.
dia bergerak membawa langkah kakinya secara perlahan menuju ke arah laki-laki yang ada di depannya tersebut, sembari bola mata Adeline tetap menatap awas ke arah laki-laki itu.
dia jelas memasang tatapan awas serta tindakan awas di dalam dirinya sembari kakinya terus melangkah semakin mendekati sosok laki-laki yang ada di hadapannya itu.
ketika Adeline melangkah laki-laki tersebut ikut melangkah menuju ke arah dirinya, bisa perempuan itu lihat laki-laki itu berjalan menggunakan tongkatnya gimana kaki kiri laki-laki itu tidak bergerak dengan begitu sempurna.
entah apa yang terjadi kepada laki-laki itu atas kakinya sebelumnya apakah itu cacar bawaan lahir atau itu terjadi karena satu buah kecelakaan dan lain sebagainya.
semakin Adeline menyeret langkahnya laki-laki itu juga ikut menyeret langkahnya secara perlahan, mereka tidak mengeluarkan suara mereka hanya saling menentang awas antara satu dengan yang lainnya diiringi suara kereta api yang terus bertahun-tahu di antara mereka ditambah dengan suara cerobong asap yang menambah keadaan menjadi sedikit tidak tenang m
jarak mereka semakin lama semakin dekat antara satu dengan yang lainnya, diiringi goncangan kereta api yang kini berbelok ke arah sisi kiri, bisa Adeline rasakan tubuhnya ikut sedikit bergerak ke sisi di mana kereta api itu berbelok karena melewati sedikit tikungan.
seketika saat mereka sudah mendekati jarak antara satu dengan yang lainnya dan Adeline berniat untuk melangkah melewati laki-laki tersebut seketika satu gerakan yang diciptakan oleh laki-laki itu membuatnya refleks langsung bergerak mundur kebelakang.
Adeline langsung mengerut kan keningnya.
"Maaf?"
Laki-laki itu bicara cepat, dia menatap Adeline untuk beberapa waktu, ini mereka saling menatap antara satu dengan yang lainnya.
bisa dilihat bagaimana wajah laki-laki yang ada di hadapannya tersebut saat ini, wajah laki-laki itu tidak bisa dikategorikan sebagai wajah yang cukup bersahabat, satu luka memanjang di pipi kiri laki-laki itu menambah kesan seolah-olah laki-laki itu bukan sosok yang baik.
bisa Adeline tebak luka di wajah itu bukan luka bawaan lahir melainkan luka yang diciptakan oleh seseorang menggunakan belati atau benda tajam lainnya.
mendengar kata maaf dari bibir laki-laki itu Adeline menundukkan perlahan kepalanya, dia berniat berbalik dan kembali melangkah menuju ke arah depannya.
Namun satu hal tidak terduga terjadi karena tiba-tiba laki-laki tersebut menunaikan tongkat yang ada di tangannya dan berusaha untuk menyerang Adeline hingga membuat adik yang bergerak dengan refleks untuk kedua kalinya.
entah bagaimana kejadiannya semua terasa begitu cepat dan sepertinya kilatan angin yang tidak bisa dihindari.
lagi-lagi tersebut menangkap tubuh adenin dan mencoba untuk menahan tangan Adeline, tapi Adeline dengan cepat berbalik hingga membuat laki-laki tersebut meletakkan pisau yang tiba-tiba keluar dari tangan laki-laki tersebut dan mengarahkan pisau nya tepat di leher depan Adeline.
Klatakkkkk.
Hal tidak terduga lainnya, Adeline tiba-tiba mengacungkan pistol ditangan nya tepat di depan kepala laki-laki tersebut.
"Miss Adeline Monac... ini aku zero-zero one"
Ucap laki-laki tersebut cepat.
Apa? Adeline Monac?!.
Mendengar nama Adeline Monac seketika membuat perempuan tersebut membeku.