King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
masih dibawah aturannya



Dimasa kemarin.


"Aku fikir akan bicara pada Cullen soal hubungan kalian"


Ucap doktor Hans cepat sambil tangan nya masih sibuk berkutat dengan pekerjaan nya.


"Daddy yakin?"


Elan bertanya sambil melepaskan jas dokter nya, cukup merasa lelah setelah melewati masa tegang melakukan beberapa operasi pada pasien di Cullen hospital.


"Cukup yakin"


Jawab Doktor Hans sambil melepas kan kaca mata nya, laki-laki itu berjalan kesisi kiri mencoba mencari sesuatu di dalam lemari kerja nya.


Elan tampak Diam, dia menggantung pelan jas nya sambil menarik berat nafasnya.


"Aku fikir ini akan sulit, temperamental Cullen jelas sedang buruk, belakangan terus mempermasalahkan hubungan terlarang putri-putri nya"


Ucap Elan cepat, berbalik ke arah daddynya agar berfikir kembali untuk membicarakan persoalan dia dan tangan kanan putri Cullen itu.


"Aku fikir cukup mustahil dia menentang hubungan kalian, cukup menarik Aida keluar dari Cullen tanpa ada ikatan di antara dia dan Cullen lagi dan biarkan dia tinggal di mansion kita"


Dokter Hans masih bicara dengan penuh keyakinan.


"Aku akan bicara dengan Aida nanti"


Ucap Elan pelan, masih menatap ragu sang Daddy nya.


****


Masih di masa lalu.


Plakkkk


Plakkkk


Saat dua tamparan mendarat di pipi zaffa di pipi kiri dan kanannya oleh Cullen seketika Aida memejamkan bola matanya dan tubuhnya jelas membeku, ingin sekali dia maju kedepan untuk membantu sang nona tapi realita nya dia jelas tidak Punya kemampuan apa-apa, maju berarti kematian ikut menjemput nya.


Aida meremas ujung tangannya, mencoba menahan diri melihat aksi sang tuan terhadap putri nya sendiri.


Teriakan demi teriakan, kemarahan demi kemarahan yang Cullen pecahkan di tengah kediaman keluarga besar mereka jelas terus memecah keheningan malam, Aida bahkan mencoba terus bertahan ketika Cullen memukul Edgard kekasih sang nona nya dengan cara yang brutal.


Namun hingga akhirnya Aida ingin sekali bergerak saat Cullen tiba-tiba memukul perut Zaffa, tapi Doktor Hans menahan Aida dengan kuat, pada akhirnya Aida hanya bisa membuang wajahnya, dia menangis didalam diam sambil menatap wajah laki-laki yang selalu dia panggil Daddy itu.


Aida memohon agar Doktor Hans membantu Zaffa, tapi laki-laki itu hanya bisa menggelengkan kepalanya secara perlahan.


1 kali pukulan.


2 kali pukulan.


3 kali pukulan.


Jelas membuat ngilu perut aida, seolah-olah dia bisa merasakan rasa sakit yang teramat sangat itu.


"Lakukan seperti yang aku perintahkan"


Ucap nya cepat, lantas menoleh ke sisi kirinya, menatap doktor Hans dan dirinya.


"Lenyapkan anak nya secepat mungkin"


Suara Cullen benar-benar membuat Aida muak dibuatnya.


Dia fikir ayah macam apa yang tega melakukan hal seperti itu? iblis pun mungkin masih punya hati, tapi laki-laki ini....???


Tanpa banyak bicara doktor hans hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Baik tuan"


******


Seketika doktor Hans dan Elan membeku saat mendengarkan kata-kata Cullen.


"Aku ingin Enardo menikah dengan Zaffa,Arash akan menikahi Anta,saat Arash berhasil menemukan Zehra,aku ingin putra mu elan menjadi menantu keluarga Cullen, menikahi putri ke dua ku secepat nya"


Cullen bicara sambil menyesap wine miliknya.


"Ya?"


Elan bertanya dengan suara tercekat.


"Apa kamu keberatan? Bernard junior?"


Cullen bertanya sambil menatap tajam bola mata Elan.


Seketika Elan menelan Saliva nya.


"Aku fikir Elan mungkin tidak pantas menikah dengan putri mu, putra ku tidak paham soal dunia mafia"


Doktor Hans berusaha untuk menolak keinginan Cullen.


"Dia cukup pantas untuk putri ku, sejati nya seorang mafia memang tidak butuh pendamping seorang mafia, itu akan mempersulit penerus cullen untuk mengatur jika 2 orang memiliki kekuatan yang sama"


"Sebaiknya ..."


Belum sempat doktor Hans menyelesaikan maksud dari kata-kata nya, Cullen langsung memotong ucapan nya.


"Kau tahu Hans? aku tidak suka dibantah"


Suara dingin Cullen seketika membekukan suasana saat itu.


Elan hanya bisa menggenggam erat telapak tangannya, sedangkan doktor Hans berusaha untuk mengembangkan senyuman nya.


Dibalik pintu Aida tampak terdiam, berusaha untuk menahan perasaan nya serta air matanya yang akan tumpah.