
Dengan gerakan cepat enardo menepikan mobil nya di sudut sungai Seine, dia tahu itu adalah tempat yang acapkali dia datangi dikala kalut dan sedih melanda bahkan dulu seperti nama sungai tersebut, biasa nya ada laki-laki dengan nama serupa Seine yang seringkali datang menemani gadis itu.
Enardo fikir apa mungkin laki-laki itu ada bersama Anta saat ini, mengingat betapa putra uncle Ibra dan untie shaikha itu begitu mencintai Anta sejak mereka masih di masa sekolah dulu.
Tapi satu kenyataan lainnya, Seine baru saja menghubungi diri nya dan berkata jika Anta berada di sungai Seine seorang diri,Bisa jadi hadis itu masih ada di sana hingga saat ini.
"Bisa temui Anta di tepian sungai Seine? aku fikir dia masih disana hingga saat ini?"
Laki-laki itu bicara melalui handphone nya, bicara cepat ke arah Enardo.
"Aku fikir kamu bersama nya?"
Ucap Enardo cepat.
"Aku harus menemani tunangan ku untuk melakukan fitting gaun pengantin nya"
Seine bicara begitu santai ke arah nya.
"Ya?"
Seketika Enardo tercekat.
"Mungkin aku tidak akan punya waktu lagi untuk terus menggenggam erat tangan nya, kamu tahu? aku fikir dia benar-benar butuh seseorang untuk tempat nya bersandar"
Ucap Seine pelan.
"Mungkin kalian tidak pernah menyadari nya, betapa sebenarnya Anta kesepian dan merasa sendirian, sebab seluruh perhatian orang-orang telah berpaling sejak lama dari pandangan nya karena keadaan zaffa"
"Padahal realita nya dia berharap kalian membagi adil kasih sayang kalian secara rata agar tidak melukai perasaan nya, karena itu Anta menjadi seorang pemberontak karena terus berusaha mencari perhatian dari kalian tanpa pernah kalian sadari"
Sejenak Enardo menelan salivanya, dia diam didalam keheningan.
"Kamu melepaskan tangan mu dari nya?"
Tanya Enardo pelan.
"Aku sudah merelakannya sejak terakhir kali dia menolak lamaran ku, karena itu aku tidak lagi ingin terus memupuk harapan palsu, sebab sejatinya perasaan itu tidak bisa di paksakan bukan?"
Ucap Seine cepat.
Terdengar suara seorang gadis dari seberang sana
"Aku harus pergi sekarang"
Kemudian dalam hitungan detik Seine langsung mematikan panggilan nya.
Bola mata Enardo mencoba mencari sosok gadis itu, dibalik gelapnya malam dan deras nya air hujan, dengan cepat tangan Enardo meraih sebuah payung berwarna transparan membawa nya dengan cepat ke arah depan.
Sejenak Enardo terpaku, bola matanya menatap sesosok tubuh yang sangat dia kenal, Tampak duduk sambil melipat kedua kakinya, kedua tangannya berpangku pada lututnya, sedangkan wajahnya tampak terbenam di dalam kedua lengannya.
Enardo secara perlahan mendekati gadis itu, membuka payung yang ada di tangan nya itu dan mulai berjalan mendekati Anta.
Sejenak dia meletakkan payung itu tepat di atas kepala Anta.
Seolah sadar hujan terasa tidak lagi menerjang nya, anta tampak secara perlahan mendongakkan kepalanya.
"Kau membuat ku khawatir"
Ucap Enardo pelan.
Bola mata Anta tampak berkaca-kaca saat menyadari siapa yang ada di belakangnya, menatap laki-laki itu yang tampak memayungi tubuhnya agar tidak kembali kehujanan.
Di ujung sana tampak sang pemilik sebuah mobil BMW berwarna hitam mulai memasangkan kaca mata hitamnya, seorang gadis menyentuh pelan ujung bahunya.
"Kamu yakin akan melepaskan nya, Seine?"
Gadis itu bertanya sambil berusaha terus menatap wajah laki-laki itu, dia tahu Seine berusaha membuang semua perasaan nya.
"Aku tahu meskipun kamu bilang tidak apa-apa, realita nya dibalik sini tengah menangis tidak rela"
Gadis itu bicara sambil menyentuh pelan dada kiri Seine.
Sejenak Seine menoleh ke arah gadis itu.
"Aku tidak bisa menolak permintaan Zaffa"
ucap laki-laki itu pelan sambil mulai melajukan mobil miliknya untuk segera menjauh dari sana.