
Sejenak Anta menarik pelan nafasnya saat dia telah tiba di depan mansion kakaknya, dia fikir berapa lama dia tidak berkunjung ke tempat ini? 3 tahun yang lalu kali terakhir dia datang menginjak kan kaki nya di tempat ini.
Tidak tahu kenapa dia hanya marah pada semua orang, marah pada siapapun yang ada disekitar nya, dia hanya marah, marah, marah dan marah tanpa ada kejelasan.
"Sudah sampai non"
Sang sopir berkata cepat ke arah Anta.
Gadis itu hanya mengangguk kan pelan kepala nya lantas secara perlahan dia turun dari dalam mobilnya, melangkah perlahan masuk kedalam mansion Tersebut.
Sang kakak zaffa tampak duduk di kursi roda dalam posisi memunggungi dirinya.
Saat mendengar derap langkah kaki seseorang memasuki ruangan, zaffa secara perlahan membalikkan posisi kursi rodanya, sepersekian detik kemudian tampak senyuman hangat zaffa mengembang dari bibirnya.
"Kamu datang, Anta?"
Tanya zaffa sambil membentangkan kedua tangannya.
"Kapan kali terakhir aku memeluk bocah bakal ini"
Ucap Zaffa sambil melebarkan senyumannya.
Anta secara perlahan mendekati sang kakak, lantas dengan cepat dia memeluk zaffa dalam beberapa waktu.
Zaffa menepuk-nepuk lembut punggung Anta kemudian berbisik pelan.
"Semoga Allah memberkahi kamu, sayang"
"Begitu juga dengan kakak"
Jawab Anta pelan kemudian perlahan Anta melepaskan pelukannya.
"Mau makan siang bersama?"
Tanya zaffa kemudian.
Anta sejenak diam, dia menatap bola mata sang kakak nya untuk beberapa waktu.
"Kita sudah lama tidak makan bersama"
Ucap kakak nya lagi.
Anta mengangguk kan kepalanya.
*********
"Semua baik-baik saja?"
Zaffa bertanya pelan ke arah Anta, setelah sesi makan siang mereka memutuskan untuk duduk santai di dalam kamar zaffa.
"Baik kak"
Zaffa menarik nafasnya pelan.
Anta cukup banyak berubah, sejak perjodohan yang Daddy nya atur untuk diri nya dan Enardo, sejak saat itu Anta berubah total, gadis itu tidak lagi begitu banyak bicara pada nya, menjadi tidak begitu dekat lagi bahkan cukup canggung untuk bicara bersama dirinya.
"Kamu tahu sayang? "
Tanya Zaffa tiba-tiba.
Sejenak bola mata Anta menatap Sang kakak untuk beberapa waktu, dia mengerutkan dahinya.
Saat kak zaffa nya mengatakan hal itu, Anta masih mengerikan dahinya menatap tidak mengerti.
"Enardo bukan type laki-laki yang gampang mengekspresikan diri nya, bahkan orang-orang tidak pernah paham apa yang sebenarnya dia inginkan"
Zaffa menarik pelan nafasnya, mencoba mengingat sosok laki-laki itu dimasa kecil mereka.
"Sejak awal masuk ke keluarga Cullen dia sudah menjadi kaku dan tertutup, bahkan aku cukup kesulitan untuk bisa berkomunikasi dengan dirinya, 2 tahun pertama tatapan bola matanya terlihat begitu dingin dan tidak bersahabat, saat itu kamu ada di Manhattan, tinggal bersama mommy sesuai perintah Daddy"
Anta menelan salivanya, dia fikir apa kakak nya sedang curhat soal Enardo? merasa kecewa jika laki-laki itu menikah dengan nya.
"Kak!"
Anta berusaha untuk meminta maaf.
"No, dengarkan kakak hingga selesai"
Ucap Zaffa lagi.
Anta tampak terdiam.
"2 tahun berikutnya dia mulai sedikit mau di ajak bicara, namun enardo jelas sangat sulit sekali bicara banyak dan terbuka, aku selalu berfikir sebenarnya bagaimana isi kepala laki-laki itu, kenapa begitu kaku dan menegang"
Zaffa mencoba mengulas senyuman ke arah Anta.
"Tapi di tahun ke 5 saat kamu kembali dari Manhattan, tiba-tiba laki-laki itu sedikit berubah, menjadi suka tersenyum dan bola mata nya menatap seorang Anta penuh dengan cinta"
"Ya?"
Sejenak Anta menatap sang kakak nya.
"Tak sedikit laki-laki menutupi perasaan sebenarnya pada Perempuan yang disukainya. kadang karena beberapa faktor laki-laki memilih menutupi perasaan cintanya selain ketakutan akan ditolak dan rasa khawatir perempuan yang disukainya akan menjauh atau pergi jika dia berterus terang tentang perasaannya"
"Sulit memang memahami apa yang sebenarnya dirasakan seorang laki-laki, terlebih beberapa laki-laki begitu pandai menutupi perasaan cinta"
"Tapi satu kali aku pernah bertanya pada nya soal sesuatu, Siapa gadis yang membuat mu merasa cukup nyaman dengan keadaan dan membuat mu jatuh cinta?"
Zaffa menatap dalam bola mata Anta.
"Kamu tahu jawaban enardo saat itu?"
Anta menggelang pelan kepalanya.
Mungkin Zaffa.
Ucap Anta dalam hati.
"Anta"
Tiba-tiba sang kakak memberi kan jawaban di luar ekspektasi nya.
"Ya?"
Anta jelas menaikkan alisnya.
"Tapi perasaan itu kemudian berubah saat Daddy memaksa enardo untuk menikahi ku"
Zaffa terus bicara sambil menatap dalam bola mata Anta.
"Apa?"