
Kembali kemasa ini.
"hallo Ilse kock"
Sosok itu mengejutkan Ilse Kock, perempuan tersebut seketika langsung membulatkan bola matanya seperti tidak menyangka dengan pandangan yang ada di hadapannya.
Ekspresi wajah perempuan itu benar-benar berubah, desakannya pada sang sopir membuatnya mengetahui sebuah kenyataan besar.
Tidak mungkin.
Itu yang ada di dalam hatinya saat ini.
"Frada hahahaha"
Ilse Kock terlihat berusaha untuk tertawa terbahak-bahak, cukup tidak menyangka dengan pandangannya, dia pikir bagaimana bisa perempuan di hadapannya itu kini berdiri dihadapan nya.
"Aku pikir kau pasti merindukan ku"
Frada berjalan melangkahkan kaki nya yang menggunakan sepatu Brogue Boots hingga menimbulkan suara ketukan di lantai yang begitu kasar.
Bisa dipastikan ujung sepatu Brogue Boots tersebut jika menendang seseorang akan menyakiti sang lawan.
Ilse Kock mendengus, menatap Frada yang bergerak mendekati nya.
"Semua orang sedang bersekongkol menjebak kami?"
Tanya Ilse Kock kemudian,dia langsung menghentikan tawa mengerikannya, menatap Frada dengan penuh kemarahan dan kebencian.
"Bahkan kau dan Adalrich juga?"
Bayangkan bagaimana kebencian Ilse Kock saat ini semakin menjadi-jadi pada Adalrich.
Frada terlihat begitu tenang, mengembangkan senyuman nya kearah Ilse Kock, gadis tersebut masih terus berjalan mendekati Ilse Kock, begitu dia telah mendekati Ilse Kock, dengan gerakan yang sangat kasar Frada mencengkeram wajah perempuan tersebut dengan begitu erat.
"Mau aku beritahukan soal sesuatu?"
Tanya Frada kemudian, pandangan mata perempuan tersebut terlihat berkilat penuh dengan api kamarahan dan juga kesenangan.
"Aku akan menceritakan satu rahasia manis agar kau tahu soal sesuatu"
Bisik gadis itu lagu kemudian.
Beberapa detik berlalu ketika bibir gadis tersebut bergerak dibalik telinga nya, Ilse Kock seketika membesarkan bola mata.
"Apa?"
Dia jelas terkejut setengah mati atas apa yang di bisikkan Frada kepada diri nya.
******
Kembali ke masa kemarin.
Beberapa waktu sebelum pernikahan Adeline dan Adalrich.
Adeline menatap lurus kearah depan nya saat dia melihat beberapa orang telah berdiri menunggu kedatangan nya, Adalrich terlihat berdebar-debar menanti dirinya diiringi oleh tuan Petra yang membawa Adeline secara perlahan kearah depan.
"Cukup panik dan takut?"
Tuan Petra bertanya cepat kearah Adeline, melirik ke arah perempuan itu sembari mengembangkan senyumannya.
Adeline buru-buru menoleh kearah tuan Petra, menatap laki-laki paruh baya lebih itu untuk beberapa waktu.
"ayah bisa melihat nya"
Ucap adeline sambil menggenggam erat telapak tangan tuan Petra.
"Aku pikir seperti nya hanya aku yang tidak tahu soal persiapan acara pernikahan ku sendiri?"
Adeline bertanya cepat kearah tuan Petra.
Mendengar ucapan perempuan tersebut membuat tuan Petra sedikit menyesal.
"Sangat sulit untuk menyakinkan kamu jika Adalrich begitu mencintai kamu, ayah hanya ingin kalian saling mengikat janji suci tanpa ada halangan dari siapapun'
Laki-laki tersebut bicara dengan cepat.
"Apakah kamu meragu dan ingin membatalkan pernikahan nya? Kamu bisa Mundur sekarang juga"
Lanjut tuan Petra lagi.
Mendengar ucapan laki-laki tersebut sejenak membuat Adeline diam, perempuan itu menundukkan kepalanya sejenak.
"Masih begitu meragukan Adalrich?"
Tanya tuan Petra lagi.
Adeline masih tidak bersuara, menatap tangan nya yang digenggam oleh laki-laki tersebut untuk beberapa waktu.
"Kamu bisa melepaskan genggaman tangan ayah jika kamu masih ragu untuk melangkah"
Tuan Petra mencoba menyakinkan adeline, dia berbalik kekanan, meminta Adeline menatap wajahnya.
Mendengar ucapan laki-laki tersebut seketika membuat Adeline menatap wajah tuan Petra.
"Kamu bisa mengapa ibu kandung Adalrich jika mau, dia menunggu di barisan kursi depan"
Ucap laki-laki tersebut sambil mengembangkan senyuman nya.
Adeline terlihat diam.
"Ada banyak hal yang terjadi di masa lalu bukan? Setiap orang bahkan memiliki masa lalu yang rumit dan sulit tanpa terkecuali kita"
Setelah berkata begitu, tuan Petra melepaskan tangan nya dari adeline, dia kemudian berkata.
"Berbelok lah ke kiri saat kamu ragu Bergerak maju, tapi berbeloklah ke kanan saat kamu yakin jika pilihanmu tidak salah"
Setelah berkata seperti itu laki-laki tersebut meluruskan tubuhnya ke arah depan dia kemudian menetap kearah Adalrich yang masih menunggu Adeline di ujung sana.
"Aku tidak bilang Dalmiro buruk, tapi kebersamaan kalian di masa lalu hanya karena keuntungan yang diharapkan dari masing-masing hubungan, Dalmiro telah jatuh cinta pada kakak perempuan mu, namun dengan mu dia hanya membuat kesepakatan dalam keuntungan"
Ucap tuan Petra kemudian.
Adeline diam untuk beberapa waktu, kemudian dia menoleh kearah tuan Petra sejenak.
"Kamu hanya takut Adalrich tidak mempercayai dirimu seperti dulu bukan? Dia kini sudah banyak berubah"
"kapan ayah sadar jika aku telah mendapatkan kembali ingatan ku?"
Tanya adeline kemudian.
*****
Setelah pernikahan nya dengan Adalrich.
Adeline sejenak diam mematung untuk beberapa waktu, menatap gadis dihadapannya tersebut dengan bola mata berkaca-kaca.
"Jangan mengeluarkan air matamu, adeline"
Ucap gadis yang ada di hadapannya tersebut, gadis itu melangkah mendekati Adeline sembari bola matanya ikut berkaca-kaca, dan di titik berikutnya gadis itu memeluk Adeline dengan erat.
"Aku sangat merindukanmu, kak"
Bisik Adeline kemudian.
"Kau tetap cengeng seperti sebelumnya"
Ucap gadis tersebut lantas mencium hangat puncak kepala Adeline.
"Itu respon wajar seorang adik ketika bertemu dengan kakaknya"
Ucap adeline pelan, dia langsung melepaskan pelukannya dari gadis di hadapan tersebut.
"Katakan padaku apa rencana selanjutnya?"
"Tetap bergerak dengan rencana awal, aku akan membuat Ilse Kock dan Alima saling menyerang"
Ucap gadis itu cepat.
"Aku tidak bisa terlalu lama di sini, aku harus kembali ke Berlin sekarang juga"
Setelah berkata begitu, gadis tersebut berusaha untuk beranjak dari sana.
Tapi buru-buru Adeline bicara dan menghentikan langkah gadis tersebut.
"Katakan pada ku, apakah pernikahan kakak dan tuan wakil presiden benar-benar terjadi?"
Dia bertanya cukup penasaran ke arah gadis tersebut, dia baru ingat jika kakaknya telah menjadi istri seorang pejabat tinggi saat ini.
Dia pikir apa kamu mungkin kakaknya benar-benar menikahi laki-laki tua itu? Meskipun dia tahu tidak begitu tua tapi usia 40 keatas jelas.
Gadis tersebut langsung menghentikan langkahnya, dia berbalik lantas kembali menatap ke arah Adeline.
"Apakah kau percaya aku akan melakukan pernikahan atas dasar tanpa cinta?"
Gadis itu malah balik bertanya kepada dirinya.
"Aku tentu saja tidak percaya"
Jawab Adeline kemudian.
Mendengar ucapan adiknya seketika membuat gadis itu mengembangkan senyumannya.
"Tentu saja pernikahan itu tidak sungguh-sungguh terjadi, kami berdua saling mengambil keuntungan dan berlindung diantara satu dengan yang lainnya"
Jawab nya lagi.
"Aku lega mendengar nya, Kak Aurora"
Adeline menjawab lantas balik mengembangkan senyuman.