
Setelah beberapa bulan berlalu
setelah kekayaan Alima runtuh bersama antek-antek nya.
Adeline menatap langit indah di atas kepalanya, membiarkan diri nya duduk di bagian kursi halaman belakang menikmati pemandangan langit dan danau di belakang sana.
Chadrick kecil terlihat berlarian di atas hamparan rumput Jepang yang ada dihadapan mereka, bermain dengan seorang pelayan dan juga anjing kecil milik mereka. kebahagiaan terlihat jelas di balik wajah putranya tersebut di mana dia terus berlari-lari kesana kemari menikmati udara sore yang perlahan menyingsing menggeser matahari.
setelah kejadian malam itu sudah beberapa bulan waktu berlalu hingga pada akhirnya kejayaan daripada Alima hancur melebur menjadi satu, dan para pengikutnya ikut terjerumus juga tertangkap bersama dengan wanita tersebut, perjuangan panjang mereka hingga bertahun-tahun pada akhirnya selesai juga meskipun tidak dipungkiri ada banyak drama yang terjadi di antara dirinya dan juga Adalrich.
belum lagi peristiwa lalu yang dia anggap tidak pernah terjadi pada mereka dimana kala itu dia terjebak pada Alima dan juga Ilse kock hingga membuat Adalrich begitu membenci dirinya atas hasutan dari kedua orang tersebut.
karena itu dia pikir Alima dan ilse kock pantas mendapatkan hukuman dan ganjaran atas perbuatannya baik pada orang tuanya maupun kepada dirinya dan juga pada keluarga korban lain nya seperti Dalmiro dan lain sebagainya.
"Ada apa?" satu suara mengejutkan dirinya membuat Adeline langsung menoleh ke asal suara di sisi kanannya.
Adalrich memilih duduk tepat di sampingnya ketika laki-laki tersebut melihat sang istrinya terlihat menetap langit kemudian memandangi danau yang ada di hadapan perempuan tersebut, dia duduk dan bertanya apakah ada sesuatu yang dipikirkan oleh sang istrinya.
"tidak ada yang aku pikirkan, hanya saja menikmati pemandangan danau dan juga langit dalam cuaca seperti ini membuat kita terkadang mengingat kenangan di masa lalu." jawab Adeline cepat pada suaminya.
Adalrich menatap ke depan beberapa waktu kemudian dia melirik ke arah istrinya sejenak.
"mau mengambil waktu liburan? aku pikir seperti yang mungkin kita membutuhkan sedikit liburan bersama chadrick kecil setelah pekerjaan ku selesai nanti" Adalrich bertanya dan bicara cepat kepada istrinya, entah tidak tahu kenapa tapi dia memikirkan soal mungkin sebaiknya mereka mendapatkan liburan setelah hari ini mengingat padatnya jadwal dirinya saat ini.
Karena pada pemilihan terjadi kemarin dia harus memperjuangkan banyak hal dalam memperjuangkan presiden terbaru untuk menang dan naik hingga membuat dia kehilangan waktu yang cukup banyak untuk bisa bersama dengan keluarganya.
Aurora naik menjadi presiden berikutnya bersama Dalmiro.
Wajar, karena Aurora adalah putri Monac, raja yang begitu dicintai pada masa nya, diruntuhkan Alima atas pengkhianatan nya. Rakyat menginginkan laki-laki tersebut kembali naik, nyata nya Alima benar-benar menghancurkan kehidupan keluarga Monac karena keserakahan nya untuk bisa mengendalikan para pemimpin berikutnya.
Orang tua Adeline jelas mas kalau tidak bisa dikendalikan oleh nya karena itu Alima meruntuhkan kejayaannya tanpa perasaan pada masa itu, dan membuat keluarga Adeline hancur nyaris tanpa sisa.
pada banyak periode saat presiden lain naik rakyat tidak pernah dipikirkan, yang orang-orang di atas tahu mereka hidup berkelimpangan harta tanpa harus melihat ke arah rakyat yang kesulitan, semua rakyat jelas berharap akan ada pemimpin baru yang mampu membuat mereka merasakan kebahagiaan tanpa aturan dan juga kekurangan, hingga pada akhirnya ketika Alima jatuh rakyat jelas menyambut dengan sangat suka cita dan bahagia, memilih penerus Monac berikutnya untuk memimpin negeri.
Tapi Aurora dan Dalmiro.....!.
Sebenarnya ini cukup berat karena Aurora memilih berpisah dengan Jovovich. realitanya di masa lalu Aurora memiliki kesepakatan pernikahan dengan Jovovich, mereka tidak benar-benar saling mencintai antara satu dengan yang lainnya namun memiliki kesepakatan yang saling menguntungkan antara satu dengan yang lainnya.
setelah semua rencana berhasil mereka mengajukan kesepakatan perceraian atas pernikahan mereka, dan itu adalah perjanjian yang telah mereka buat jauh sebelumnya sejak dulu.
Meskipun tidak dipungkiri banyak orang merasa kecewa dan juga menyesali keputusan kedua orang itu yang harus memilih berpisah begitu saja.
dan kini ada kegelisahan yang mengancam karena sepertinya Dalmiro cukup tertarik pada Aurora, jadi dia dan Adeline pikir hubungan kedua orang tersebut menjadi cukup rumit dan sulit.
Mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya membuat Adelin menoleh ke arah Adalrich untuk waktu yang cukup lama.
"Apakah tidak masalah untuk kita mendapatkan liburan bersama?" Adeline akhirnya bertanya.
"tentu saja tidak masalah, kita memang butuh liburan setelah masa panjang ini, cukup stres dengan urusan pemerintahan dalam waktu yang cukup lama, butuh sedikit rekreasi dan juga istirahat untuk menghilangkan tingkat stress yang mulai meninggi" Adalrich menjauh dengan cepat dan penuh semangat.
"ditambah lagi aku pikir kita butuh menambah bayi lagi untuk menemani chadrick kecil " Lanjut Adelrick lagi kemudian, melirik kearah Adeline sambil menaik turunkan ujung alisnya.
Adeline yang awalnya sangat serius mendengarkan ucapan suaminya seketika langsung mengubah ekspresi wajahnya.
"Ishhhh dasar" dan percayalah Rona wajahnya langsung berubah menjadi merah mendengar ucapan dari suaminya soal adik kecil untuk Chadrick kecil mereka
Adeline langsung mencubit lengan suami nya dengan perasaan malu, hal tersebut seketika membuat Adelrick terkekeh,dia meraih tubuh adelen kemudian langsung merangkul dan memeluknya dengan erat.
"bukan kah kita butuh sedikit candaan di dalam hidup? cukup lelah ketika kita menjadi begitu serius sayang, sesekali bercanda seperti ini bisa membuat kita awet muda" Ucap laki-laki itu dengan cepat kemudian dia merangkul Adeline, mencium puncak kepala istrinya berkali-kali.
"He em baiklah bercanda, tapi dia belakangan selalu serius ketika bekerja, tidakkah kamu sadar beberapa malam yang lalu mengabaikanku karena kesibukanmu?" Dan Adeline menikmati pelukan yang diberikan oleh suaminya, menenggelamkan kepalanya ke dada laki-laki tersebut sembari sedikit mengeluh soal kesibukan Adalrich belakangan.
"karena itu aku bilang kita butuh liburan bukan? aku sadar mengabaikan kalian dalam beberapa waktu ini, jangan liburan aku akan memperbaiki semuanya dan memperlakukan kamu juga chadrick kecil menjadi ratu dan pangeran yang berharga " dan laki-laki tersebut bicara sambil mengelus lembut bahu Adeline yang masih tenggelam kedalam pelukan nya.
Adeline terkekeh kecil.
"Tapi aku benar-benar serius soal anak-anak, aku pikir kita perlu menambah anak lagi, misalnya perempuan yang bisa menemanimu ke pasar memasak dan bersolek ketika dia besar" laki-laki itu bicara, melepaskan pelukannya karena dia melihat Chadrick kecil terlihat berlarian dari ujung sana menuju ke arah mereka.
"Chadrick kecil membutuhkan teman untuk nya" bisik Adalrich kemudian.
"Ibu....ayah...." Chadrick kecil berhamburan masuk ke dalam pelukan kedua orang tersebut secara bergantian.
Adeline jelas bahagia, membiarkan chadrick kecil naik ke atas pangkuan nya, mereka bertiga duduk menatap pemandangan yang ada dihadapan mereka untuk waktu yang cukup lama.
Dan percayalah mendengar jawaban dari istrinya seketika membuat Adalrich bahagia. Dia mengembangkan senyuman terindah nya dengan cepat.
********
Di sisi lain.
Aurora terlalu sibuk berkutat atas pekerjaan nya, dia memperhatikan beberapa berkas-berkas yang ada di hadapannya untuk beberapa waktu tanpa pernah menyadari soal orang-orang yang ada di sekitarnya.
kesibukan barunya cukup menyita waktu saat ini meskipun tidak dipungkiri dia telah berlatih banyak ketika dia menjadi istri dari Jovovich di masa kemarin tapi nyatanya tetap saja tugas seorang presiden jauh lebih banyak ketimbang tugas dari seorang istri wakil presiden.
"kamu belum mendapatkan istirahatnya sama sekali" tiba-tiba saja suara seseorang mengejutkan dirinya, berasal dari telinga kirinya yang membuat Aurora langsung menoleh secara refleks.
begitu dia menoleh rupanya Dalmiro ada di belakangnya, mereka menatap antara satu dengan yang lainnya di mana detak jantung Aurora tampak tidak baik-baik saja, laki-laki tersebut seolah Allah memeluknya dari belakang walaupun tidak benar-benar menyentuhnya di mana kedua tangan dalmiro ada di antara sisi kiri dan kanan tubuhnya.
"ini sudah lewat tengah malam, aku pikir kau harus mendapatkan makan dan juga istirahat" laki-laki itu sengaja memposisikan dirinya seperti itu sembari dia meraih buku yang ada di tangan Aurora, dia meraih buku tersebut dan nyatakannya kata gereja kerja gadis tersebut membiarkan Aurora terus menatap dirinya sejak tadi.
"ini bukan waktu jam normal lagi untuk kamu bekerja atau melakukan aktivitas lainnya" laki-laki itu bicara agak protes sebenarnya cukup kesal dan marah melihat Aurora yang nyaris tidak bisa membagi waktunya.
"setidaknya kamu harus menjaga kesehatanmu lebih dulu baru bisa memperhatikan rakyat mu" dan setelah berkata seperti itu laki-laki tersebut menatap ke arah Aurora di mana mereka masih saling dalam posisi Aurora di depan Dalmiro dan dia ada di belakangnya.
Pada akhirnya di beberapa detik kemudian laki-laki tersebut membalikkan tubuh Aurora secara perlahan, hal tersebut cukup membuat Aurora terkejut dan posisi mereka saat ini saling berhadapan antara satu dengan yang lainnya di mana laki-laki tersebut sengaja membebatkan tubuh mereka dan membuat Aurora bersandar di meja kerjanya terjatuh ke belakang namun tangan kiri laki-laki tersebut menahan punggungnya dengan Kokoh.
Aurora berusaha untuk menahan dada Dalmiro di mana posisi mereka saat ini benar-benar tidak memiliki jarak hingga membuat Aurora nyaris tidak bisa menarik nafasnya dengan baik dan benar.
"aku benci ketika kamu melupakan waktu dan juga kesehatanmu, Aurora. bukan kah aku sudah bilang ini akan menjadi tanggung jawabku hmmm?" ucap laki-laki tersebut kemudian.
"ini sedikit lagi akan selesai" gadis itu menjawab perlahan mencoba untuk menahan nafasnya karena dia cukup gugup dengan posisi mereka saat ini.
Laki-laki tersebut selalu datang tiba-tiba dan mengejutkan dirinya kemudian memperlakukannya dengan cara yang mampu membuat jantungnya tidak baik-baik saja, sejujurnya gadis itu cukup terkejut dan takut karena baginya apa yang dilakukan Dalmiro padanya terlalu berlebihan.
saat bersama Jovovich pernikahan mereka digelar biasa-biasa saja dan menjalani hari-hari yang datar-datar saja karena realitanya mereka tidak saling mencintai antara satu dengan yang lainnya dan semua terjadi karena kesepakatan semata, dia tidak pernah merasa jantungnya berdetak begitu kencang bersama laki-laki tersebut tapi bersama Dalmiro, semua rasanya tidak baik-baik saja laki-laki itu selalu saja membuat dia merasa berdebar-debar dengan keadaan.
"kamu selalu berkata ini sedikit lagi tapi realitanya ini masih banyak, Mari berhenti dan mendapatkan makan malam bersama. kamu tahu aku cukup kelaparan sejak tadi karena menunggumu, tidak makan hingga jam segini membuatku cukup gemetaran"
desa laki-laki tersebut berkata seperti itu jelas saja membuat Aurora cukup terkejut setengah mati.
"Ya? kamu belum menyentuh makanannya?" dia bertanya tidak percaya.
"apa aku terlihat mampu menyentuh makanannya saat kamu terlalu sibuk seperti ini?" laki-laki tersebut bertanya sembari menaikkan ujung alisnya.
Aurora tanpa mengulum senyumannya dan di detik berikutnya dia berkata.
"menungguku seperti ini bukan hal yang baik, seharusnya kamu pergi lebih dulu untuk kebaikanmu" ucap gadis tersebut pelan.
dan saya mendengar apa yang diucapkan oleh Aurora membuat dalmiro menangkap bola mata gadis tersebut untuk beberapa waktu lantas laki-laki itu berkata.
"anggap saja aku sedang berlatih menjadi suami yang baik dalam menunggu istrinya menyelesaikan tugas-tugasnya"
dan percayalah apa yang diucapkan oleh laki-laki yang ada di hadapannya tersebut membuat Aurora membelalakkan bola matanya.
"Ya?"
seketika jantungnya menjadi tidak baik-baik saja sama dengan apa yang diucapkan oleh laki-laki tersebut.
"pada akhirnya sepasang suami istri akan terbiasa saling menunggu antara satu dengan yang lainnya bukan? dan saat kita telah menjadi suami istri aku fikir aku tidak akan mengizinkanmu lagi melakukan segala sesuatu sendiri dan aku ingin semua tugas dialihkan padaku tanpa terkecuali"
dan laki-laki tersebut melanjutkan ucapannya sembari membiarkan netra mereka bertemu.
Aurora jelas terkejut setengah mati dengan ucapan laki-laki itu.
"Dalmiro, kamu bicara apa?" percayalah jantungnya saat ini jelas tidak baik-baik saja, dia ingin kembali bertanya dan membuka mulutnya namun tiba-tiba saja laki-laki di hadapannya tersebut menyambar bibirnya tanpa aba-aba.
membuat gadis tersebut seketika kembali membulatkan bola matanya dengan sempurna, dia terkejut setengah mati dan berusaha untuk melepaskan diri namun nyatanya laki-laki tersebut menahan tengkuknya dan semakin memperdalam ciuman mereka.
Aurora yang awalnya cukup gelagapan dan berusaha untuk melepaskan diri seketika tenggelam dalam manisnya ciuman yang dipersembahkan oleh laki-laki tersebut untuk dirinya.
**********
Catatan \=
Dan kita ada di bagian episode akhir MAKKK, demi apapun Adalrich dan Adeline sangat sulit sekali nulisnya, otak diriku rasanya tidak baik-baik saja bikin kisah mereka🤧🤧🙏🏻🙏🏻.