King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 41 A & A



Mansion utama Leonard


Ruang tengah


Lewat tengah malam


Pranggggg.


sebuah gelas berisi fanta menghantam dinding mendominasi berwarna putih yang ada di hadapan Leonard.


Meskipun minuman tersebut tidak memiliki warna, namun bagian dinding jelas menampakkan warna basah nya.


Fanta menjadi minuman favorit Semua kalangan atas saat ini,Minuman bersoda yang dibuat dari keju dan serat apel ini menjadi kebanggan masyarakat Jerman.


Mungkin tidak ada banyak yang tahu fanta diciptakan di Jerman saat Perang Dunia II oleh Coca-Cola (perusahaan Amerika) akibat kesulitan mengimpor Coca-Cola.


Dilansir dari Atlasobscura.com, sebelum perang, industri minuman Coca-Cola memiliki penjualan yang baik di Jerman.


Bahkan Adolf Hitler menyukai minuman tersebut.


Siapa tak meneteskan air liur melihat botol Coca-Cola dingin dengan bulir-bulir air yang menyegarkan? Der Führer Adolf Hitler pun tak kuasa menahannya hingga acap meneguk minuman berkarbonasi itu sambil menonton film Gone with the Wind di bioskop pribadinya.


Lahir di Amerika pada 1886, Coca-Cola hadir di Jerman sejak 1929 atau empat tahun sebelum Hitler menjabat kanselir.


Dan fanta Coca cola jelas menjadi minuman favorit Semua orang tanpa terkecuali termasuk Leonard bahkan Adalrich sekalipun.


Bahkan Adalrich tidak pernah tidak menyediakan stok coca cola dan fanta di dalam kediaman nya, dia bilang minuman itu seperti candu namun tidak mematikan  seperti winsky atau bir yang bisa merusak organ tubuh dalam.


Dimana winsky atau bir jelas mengandung banyak alkohol didalam nya, siapa yang tidak tahu pengaruh alkohol yang kuat terhadap metabolisme, darah, jantung, dan hati, sehingga asupan whiskey dalam jumlah banyak dapat menyebabkan stroke, cedera serius pada otot jantung, dan dalam beberapa kasus kematian.


Leonard terlihat mengeram kesal setelah dia melempar gelas kaca bertungkai yang ada di tangan kanannya tadi.


tidak ada yang bisa dan mampu melampaui batasannya untuk membuat Leonard marah sampai dengan hari ini, tapi Adalrich benar-benar luar biasa menurutnya, dia tidak pernah ingin membunuh laki-laki tersebut secepatnya hanya dalam hitungan detik, tapi malam ini dia berharap dia bisa langsung pergi ke kediaman laki-laki tersebut dan menghujam jantungnya dengan pisau belati miliknya atau bahkan pistol kesayangannya.


Anastasya?!.


Leonard terlihat mencoba untuk mengingat siapa nama Adeline yang terbaru.


Anastasya?!.


kali ini Leonard terkekeh kecil, suaranya terdengar begitu mengerikan memenuhi ruangan tersebut, beberapa orang kepercayaannya terlihat menundukkan kepalanya dan bergidik ngeri mendengar kekehan yang dilontarkan oleh Leona, mereka memilih menepi di dekat pintu keluar dan masuk menuju ke arah ruang tamu.


Mereka tahu setiap kali laki-laki tersebut marah laki-laki itu bisa saja melakukan segala sesuatu di luar batasan normal pemikiran mereka.


maka bersiap-siaplah hari kematian akan menghantam mereka jika laki-laki tersebut tidak menurunkan emosinya.


Leonard memiliki temperamental yang cukup buruk, setiap kali marah dia tidak akan sungkan dan segan untuk menghantam satu persatu orang-orangnya demi melampiaskan kemarahannya, karena itu orang-orang menjadi takut dan merasa ngeri dengan perlakuan keji seorang Leonard.


"Kau... kemarilah"


tiba-tiba laki-laki tersebut menunjuk ke arah seseorang, dia menggerakkan jemarinya dengan cepat.


Melihat hal tersebut seketika 3 orang lainnya menoleh kearah teman mereka, bayangkan saja bagaimana para laki-laki berpakaian serdadu tersebut menelan saliva mereka.


mereka berpikir apakah ini akan menjadi hari kematian salah satu dari teman mereka.


yang dipanggil oleh Leonard dengan wajah pucat langsung maju laki-laki tersebut, dia bersiap dalam kemungkinan terburuk mati di tangan Leonard dan bukan mati karena berperang.


"Angkat pedang mu"


Leonard bicara cepat, dimana laki-laki tersembuh kini mengangkat pedangnya lebih dulu dan bersiap untuk bermain bersama bawahannya tersebut.


seketika laki-laki di hadapan Leonard menelan salivanya,ini jelas akan menjadi permainan mematikan untuk dirinya, di mana satu bertahan satu jelas akan mati karena tidak mampu didalam pertahanan.


Laki-laki itu secara perlahan menaikkan pedang nya.


"Angkat dan ayun"


Leonard memerintah kan bawahan nya itu, dia sama sekali belum mengangkat pedangnya, hanya menggerakkan ujung pedangnya secara perlahan di lantai, laki-laki tersebut menunggu lawannya menaikkan pedangnya dan menyerangnya lebih dulu, dia suka melihat orang-orang kepayahan menyerangnya kemudian kehabisan tenaga, setelah itu dia baru benar-benar akan melumpuhkan lawannya dengan caranya sendiri tanpa ampun sedikitpun.


Bola mata Leonard menata tajam karena laki-laki yang ada di hadapannya tersebut dia menaikkan ujung alisnya sembari menghantam pedang bawahannya itu dengan gerakan yang begitu kasar.


"Jika kau tidak menyerang, aku akan memastikan kau akan mati dengan satu kali tebasan"


kalimat peringatannya terdengar sangat mengerikan, membuat siapapun yang mendengarnya jelas akan bergidik ngeri.


laki-laki di hadapan leonal mau tidak mau mulai mengangkat pedangnya, menyerang lebih dulu atau tidak dia sudah tahu nyawanya hari ini jelas ada di Pedang milik Leonard, dia bahkan tidak berani untuk meminta umur yang panjang atau bahkan pengampunan dari seorang Leonard, karena sudah dipastikan hari ini akan menjadi hari akhir untuk dirinya.


Dia tidak memiliki harapan sama sekali untuk bisa bertemu dengan keluarganya termasuk anak dan istrinya.


Dia mulai bergerak mengangkat pedangnya dengan cepat kemudian dia menghantam Leonard dalam hitungan detik.


Trangggg.


Tringggg.


sesuai perkiraan laki-laki tersebut berhasil menangkis pedangnya.


dia kembali menghantam Leonard tanpa harus menunggu keadaan, dan kembali laki-laki tersebut mampu mengelak dan menghantam balik pedang nya lagi.


Hal tersebut memicu ketakutan tersendiri untuk dirinya, pada akhirnya laki-laki tersebut langsung secepat kilat Kembali menyerang Leonard dari kaki kiri kaki kanan hingga ke tangannya.


beberapa kali dia gagal melakukan serangan dan dipakai dengan cepat oleh Leonard atau bahkan terkadang Leonard dengan cepat menyerang balik dirinya hingga membuat beberapa luka di bagian tubuhnya.


pada akhirnya untuk satu kali serangan terakhir tiba-tiba,


Srrtttttt.


Dia berhasil melukai pipi laki-laki tersebut, kecil, sangat sedikit sekali seperti seujung kuku.


hal tersebut jelas langsung memicu kemarahan Leonard, dan tanpa diduga laki-laki itu langsung menyerang bawahannya dengan cepat.


Trrinngggggg.


Sraatttttttttttt.


Trangggggg.


seketika hal tidak terduga terjadi, Leonard berhasil melayangkan pedangnya hingga terpelanting ke ujung ruangan, ini pedang Leonard tepat berada di leher bagian kirinya.


Percayalah hanya dalam hitungan detik bisa dipastikan ketika Leonard bersiap menebas lehernya maka dia akan kehilangan nyawanya.


Leonard langsung menyunggingkan bibirnya, bisa dilihat raut wajah Leonard kini sudah persis seperti dewa kematian, laki-laki tersebut seketika tersenyum bahagia karena dia berhasil melumpuhkan sang bawahannya.


Percayalah Leonard kini secara perlahan mulai menaikkan pedangnya, dimana pada akhirnya laki-laki muda dihadapan nya itu seketika langsung pasrah.


Sedangkan para teman-temannya juga sudah kehilangan kata-kata mereka.


Begitu laki-laki tersebut memejamkan bola matanya dan dia bersiap dengan hari kematiannya dan Leonard benar-benar telah mengangkat pedangnya bersiap untuk menebas leher bawahannya tersebut.


tiba-tiba saja seseorang menghantam pedang miliknya dan sepersekian detik kemudian suara seseorang memecah keheningan.


"jangan sia-siakan pedang berhargamu hanya untuk membunuh orang yang bukan lawan mu"


kemudian suara seseorang terdengar memecah keadaan hingga membuat Leonard menghentikan gerakan tangannya dan menoleh ke asal suara.