
Zehra masih terus mengembangkan senyuman nya, ini yang Arash tidak pernah pahami dari sifat zehra, gadis itu selalu tersenyum meski dalam keadaan seperti apapun, masih tetap menatap nya hangat, masih bicara dengan penuh kelembutan dan kesabaran.
Bahkan Arash sama sekali tidak bisa menebak bagaimana sebenarnya perasaan zehra, bahkan jika Zehra mampu menanyakan hal seperti itu padanya, artinya zehra jangan-jangan bisa menebak apa sebenarnya tujuan utama Dirinya menikahi zehra, dan bisa jadi perempuan itu mampu membaca isi hati nya saat ini.
Seketika Arash menelan salivanya.
"Apa maksudmu?"
Arash berusaha pura-pura tidak paham dengan pertanyaan Zehra.
Zehra tampak mencoba menelusuri wajah Arash.
"Kamu tahu Arash?"
Zehra bicara sambil menatap dalam bola mata laki-laki itu.
"Saat memasuki gerbang pernikahan, salah satu komitmen yang harus dipenuhi pasangan, yakni saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seorang suami atau istri sebelum menikah memiliki kehidupan yang dijalani masing-masing. Sebagai anak manusia, kekhilafan menjadi sifat yang tak mungkin tertolak"
"Begitu pula dengan perjalanan rumah tangga. Hampir nihil rumah tangga yang tak sepi dari masalah. Bahkan, keluarga Rasulullah SAW dengan Aisyah RA juga pernah diuji dengan kabar dusta yang beredar saat Aisyah tertinggal dari rombongan"
Zehra bicara cepat sembari coba memberikan contoh bayangan untuk Arash.
"Jika aib masa lalu yang kita tutupi rapat-rapat tiba-tiba tersingkap oleh pasangan, bolehkah seorang istri atau suami berdusta? Begitu pula jika seorang istri atau suami berdusta tentang masalah rumah tangga, yang jika ia jujur masalah lebih besar akan datang. Bolehkah berdusta dalam hal seperti itu?"
Zehra Secara perlahan menggenggam telapak tangan Arash.
"Kamu tahu Arash? Pada dasarnya berdusta termasuk perbuatan yang dilarang. Berbohong juga satu dari tiga ciri orang munafik. Allah menegaskan jika setiap indra yang kita miliki akan dimintai pertanggungjawabannya di sisi Allah. “... sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS al-Israa [17]: 36).
"Dalam pernikahan tidak cukup bagi setiap pasangan hanya memodali diri dengan harta, modal paling utama ialah kesiapan mental, bagi para laki-laki harus menyiapkan mental menjadi seorang imam dalam memimpin rumah tangga, begitu halnya dengan yang perempuan siap menjadi makmum, bahkan siap mengoreksi kesalahan imam"
"Dan disini aku berusaha untuk mengingat kan mu jika Kebohongan hanya akan menghancur kan kepercayaan pasangan"
"Setelah pasangan tahu soal kebohongan-kebohongan kita, bayangkan apa yang terjadi? Dia akan mulai sulit untuk mempercayai kata-kata kita bukan? Bahkan jika pasangan memaafkan kebohongan kita, dia tetap akan mulai berhati-hati dengan semua tindakan dan perkataan kita, sebab dia takut kembali terjebak di dalam kebohongan yang berbeda"
Mendengar ucapan Zehra seketika Arash Mencoba menarik pelan nafasnya, dia fikir apa dia harus bicara soal semua nya saat ini?
Ucap Zehra sambil terus menatap Arash dengan bola mata berkaca-kaca.
Ada banyak sekali pertimbangan yang harus dia fikir kan saat ini, zaffa jelas membutuhkan pendonor nya, tapi membohongi Zehra jelas juga menjadi beban terberat nya.
Dia memang sedang berusaha membujuk Zehra, tapi bukan dengan cara seperti ini.
"Zehra, aku..."
"Arash?"
Arash berusaha untuk bicara pada Zehra, dia fikir mungkin membicarakan semuanya secara perlahan tanpa harus menyakiti perasaan Zehra.
Tapi saat lidah nya baru saja bicara, tiba-tiba seseorang mengejutkan mereka.
Seketika Arash menoleh ke arah asal suara, bola mata Arash jelas membulat.
"Joyce?"
Arash fikir sejak kapan gadis itu ada di atas BUSTRONOME juga?.
"Kita harus bicara, aku, kamu dan Zehra"
Ucap Joyce tiba-tiba.
Zehra jelas mengerutkan keningnya.
"Saat ini juga, soal zaffa"
No...No...
Arash berusaha untuk menggelengkan kepalanya.