King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 34 A & A



Adeline Jelas gelagapan mendengar pertanyaan dan permintaan dari bocah kecil dihadapan nya tersebut, dia nyaris kehilangan kata-kata dimana tiba-tiba Adalrich menyeruak masuk ke antara mereka.


Laki-laki tersebut menundukkan kepalanya ke arah Diana Zain kemudian ke arah Aurora, selanjutnya dia menyapa ibu nya sendiri, nyonya Alima.


Nyonya Alima sedikit membeku melihat kedatangan putranya dan dia bahkan agak sedikit mengerutkan keningnya saat cucunya berlaku begitu sopan dan bicara dengan begitu manis Kearah Adeline.


Yang dia tahu Chaddrick kecil selalu bersikap buruk pada perempuan mana pun selama ini, bahkan dia selalu membuat satu ekspektasi tersendiri dikepala Chaddrick untuk sosok Adeline.


Dia bilang Adeline adalah perempuan paling buruk di dunia ini, penipu yang menipu ayah nya dan yang tidak menyukai dirinya bahkan dia berkata jika Adeline mencoba membunuhnya di kala Chaddrick kecil masih bayi.


Bukankah itu kenyataan?!.


Itu adalah Adeline.


Perempuan sialan itu Hampir membunuh Chaddrick kecil karena kebodohannya untuk melakukan aksi bunuh diri, bukan kah berkat putra nya Adalrich sehingga Chaddrick berhasil selamat?!.


Apa kau Sedang bercanda?!.


Nyonya Alima merasa lehernya tercekik Secara tiba-tiba.


Adeline, kau...!?.


"Kenapa kau ada disini?"


Nyonya Alima bertanya cepat ke arah putra nya.


Mendengar pertanyaan ibu nya seketika membuat Adalrick mengerut kan Kening nya.


"Pertanyaan ibu terdengar aneh, aku pikir semua orang jelas diundang datang kemari, apakah aneh jika aku ada disini?"


Pertanyaan yang dilontarkan balik oleh Adalrich seketika membuat nyonya Alima menelan ludah nya.


"Bukan seperti itu, maksud ibu...."


Dia belum sempat menjawab ucapan Adalrich ketika tiba-tiba suaminya datang dan mencoba membuat dingin keadaan.


Tuan Petra langsung menarik lengannya dengan gerakan kasar.


"Aku pikir sejak tadi semua orang sedang menunggu kita, tidakkah kamu melihat nya?"


Laki-laki tersebut bicara cepat sembari menatap tajam kearah wajah Nyonya Alima, kemudian laki-laki tersebut langsung menatap kearah Ilse Kock.


"Aku pikir tugas nona Ilse Kock mengawasi calon menantu tuan Halogen dan nyonya Fervita, kehadiran mu disini cukup membuat ku terkejut, dikala kepercayaan jatuh pada mu, kamu malah asik sendiri dengan orang lain"


Lidah tajam tuan Petra seketika membuat wajah Ilse Kock memerah, meskipun tidak dipungkiri ucapan laki-laki itu benar, jika tugas nya adalah melindungi calon menantu tuan Halogen dan nyonya Fervita.


Pada akhirnya dia memilih menundukkan kepalanya, berpamitan untuk pergi dari sana sembari mengeratkan rahangnya, dia pikir mungkin hari ini dia belum bisa mempermalukan Adeline dan membuktikan ucapannya, tapi akan ada masa nya dia berhasil melakukan nya.


Ayah Adalrich mencoba untuk membawa istri nya menjauh dari sana meninggalkan putra mereka dan Adeline.


"Sudah memberikan hormat pada bibi cantik?"


Tiba-tiba suara Adalrich memecah keadaan, laki-laki tersebut langsung meraih tubuh putranya lantas menggendongnya secara perlahan.


Adeline yang masih terlihat bingung berusaha berdiri dari posisinya, perempuan itu menampilkan Rona wajah sedikit memerah saat Adalrick berkata 'Cantik'.


Meskipun dia tidak menyukai Adalrich, tapi setidaknya Perempuan manapun yang mendengar pujian dari balik bibir seorang laki-laki tentu akan merasa malu.


"He em, aku sudah menyapa bibi, Ayah"


Chaddrick kecil menjawab ucapan ayahnya dengan begitu mantap, dia buru-buru mengucek-ucek kedua matanya dengan kedua belah tangannya, seolah-olah bocah tersebut berusaha menghapus bagian air mata yang mungkin akan tumpah.


dia kembali menoleh ke arah Adeline, berusaha untuk mengulurkan tangannya secara perlahan.


Gerakan Chaddrick kecil seketika membuat Adeline bingung, dia sedikit keberatan dengan posisi Adalrich yang menggendong Chaddrick, rasa nya aneh, mereka seperti sepasang suami dan istri yang memiliki satu anak di Antara mereka.


Tidak, itu bukan berarti dia tidak menyukai bocah kecil yang ada di hadapannya, tapi posisi Adalrich yang membuat dia merasa sedikit tidak nyaman.


Alih-alih bisa menyampaikan pendapat keberatan nya, tiba-tiba Adalrich memajukan tubuhnya bersama Chaddrick, laki-laki tersebut membiarkan putranya menyentuh lembut pipi Adeline.


"Ibu seperti boneka hidup"


Sebaris kalimat itu meluncur dari bibir Chaddrick.


"Ya?"


Mendengar kata-kata bocah laki-laki itu seketika membuat Adeline menaikkan ujung alisnya.


Bagi Chaddrick perempuan dihadapan nya itu benar-benar terlihat seperti boneka hidup, terlalu sempurna dan bukan boneka khayalan yang dia impikan selama ini.


Biasanya dia melihat sesuatu yang tidak nyata, kali ini benar-benar melihat sesuatu yang Begitu nyata.


"Bibi, tidakkah anda ingin menggendong ku?"


Tanya Chaddrick kecil lagi, dia sengaja melakukan hal tersebut, bertanya apakah perempuan dihadapan nya itu ingin memeluknya.


Dia menunggu jawaban dari perempuan yang di yakini nya adalah ibu nya tersebut.


"Ah?"


"Kamu keberatan?"


Tiba-tiba ayah Chaddrick kecil bertanya Sembari menatap kearah Adeline untuk beberapa waktu ,dia mencoba untuk menyerah kan Chaddrick di tangan Adeline namun perempuan tersebut dengan cepat langsung memundurkan langkahnya.


Melihat respon Adeline, seketika membuat Adalrick muram, sorot bola matanya langsung mendung, dia tahu Adalrich menolak permintaan putra nya dan juga enggan didekati oleh nya.


Chaddrick kecil terlihat diam untuk beberapa waktu, seolah-olah dia tengah memikirkan soal sesuatu


"Setelah menikah kalian bisa memeluk ku bersama, kakek bilang saat belum menikah laki-laki dan perempuan tidak boleh saling menyentuh seperti bibi rubah (Ikse kick) tidak boleh menyentuh ayah, jadi aku pikir bibi cantik dan ayah juga tidak boleh saling bersentuhan, ayah aku pikir bibi cantik sedikit ragu mengendong ku karena tangan ayah bisa menyentuh bibi cantik"


bocah laki-laki tersebut selalu pandai bicara ketika dia suka akan tidak suka dengan sesuatu, dia menatap ayah nya kemudian menunggu laki-laki tersebut menurunkan dirinya.


Adalrich terlihat diam, kemudian secara perlahan dia menurunkan Putra nya dari gendongan nya.


Dalam hitungan detik, bocah kecil itu langsung mendekati kaki Adeline, dia memeluk perempuan tersebut sembari mendongakkan kepalanya.


"Bibi bisakah aku merasakan pelukan mu?"


Dia memohon dengan bola mata berbinar-binar.


Melihat bocah kecil tersebut bergelayut di kakinya, seketika Adeline mencoba untuk kembali menjongkokkan tubuhnya.


"Tentu saja"


Adeline menjawab pelan, Perempuan tersebut secara perlahan membiarkan Chaddrick kecil memeluk erat tubuh nya.


Dia membiarkan Chaddrick kecil bergelayut dileher nya untuk beberapa waktu kemudian tiba-tiba satu hal tidak terduga terjadi.


Bocah kecil tersebut berbisik dibalik telinga nya.


"Bukankah aku anak yang bisa di andalkan ibu? seperti kata ayah dan bibi tua, aku hanya Perlu berpura-pura dihadapan nenek dan rubah betina agar mereka tidak menjebak ibu seperti di masa lalu?"


"Ya?"


Setelah berkata begitu Chaddrick langsung melepaskan pelukannya, kemudian bocah laki-laki tersebut mencium bibir Adeline dengan cepat.


Adeline jelas membeku tidak mampu mengeluarkan suaranya, sembari kepalanya dihantam jutaan pertanyaan soal apa yang dimaksud oleh bocah dihadapan nya tersebut.


*****


Disisi lain


setelah nyonya Alima menjauh dari Chaddrick, Adalrich dan Adeline.


"Aku pikir kau menatap putri ku dengan tatapan begitu tidak suka? apakah ada masalah sebelum nya dengan putri ku, Alima?'


Tiba-tiba suara seseorang mengejutkan dirinya, nyonya Alima langsung menoleh,dia cukup shok saat sadar siapa yang bicara dengan nya saat ini.


"Tuan wakil presiden, maaf maksud ku tuan George?"


Dia bertanya sedikit gelagapan.


"Apa maksud anda?'


Apa dia harus jatuh pingsan saat ini juga ketika mendengar penuturan sang wakil presiden saat ini?.


"Apa maksud anda?"


Dia bertanya sembari menundukkan kepalanya.


"Anastasia selama ini berada di tangan keluarga Fervita, bagi nya Fervita seperti ibu kandung nya sendiri, dia sengaja tidak di perkenalkan di muka umum karena putri ku tidak menyukai keramaian dan mencatut nama besar kekuarga, namun melihat kamu tidak menyukai putri ku, aku jadi ragu untuk menyetujui pernikahan yang di minta oleh suami dan putra mu, Alima"


Ucap laki-laki tersebut sembari menatap nyonya Alima dengan pandangan kurang bersahabat.


Mendengar kata-kata orang paling berpengaruh di negara mereka tersebut, seketika membuat nyonya Alima membeku.


"Ya.... maksud anda tuan? Adeline?"


Dia bertanya sembari melirik kearah Adalrich dan Adeline dimana kedua orang tersebut kini saling bergerak menjauhi diri antara satu dengan yang lainnya.


Bola mata laki-laki tersebut mengikuti arah pandang nyonya Alima.


"Adeline? apakah itu nama baru untuk putri ku? Terdengar sedikit tidak nyaman di telinga ku"


Dan bisakah Alima mencoba meminta penjelasan pada siapapun saat ini?! dia Masih tidak paham dengan apa yang terjadi, apakah ada yang salah dengan isi kepala nya saat ini pikir nya.


Perempuan itu bukan Adeline?!.


Da pikir apakah ini kebenaran atau semua orang sedang bersandiwara?!.


Sebenarnya siapa yang benar dan Siapa bersandiwara di antara semua orang?!.


Seketika dia meragukan Ilse Kock atas keadaan dimasa lalu.


Oh sialan.


Kepalanya benar-benar terasa ingin pecah.