
Adalrich pikir tidur di ruangan kerja nya mungkin akan jauh lebih baik, mereka belum merayakan pernikahan meskipun dulu mereka pernah menikah dibelakang semua orang hingga memiliki Chaddrick.
Dia pikir memilih tidur sekarang disamping Adeline setelah sekian lama, memaksakan diri tidur dikamar yang sama seperti di masa lalu dia takut membuat Adeline marah dan tidak menerima nya.
Ini cara dia menghargai Adeline, setelah menikah baru mereka akan tinggal di ruang tidur yang sama.
Adeline pasti butuh waktu untuk mencerna segala kemungkinan dan ingatan nya, dia hanya buruh menciptakan moment baru untuk tidak membuat seluruh isi kepala istrinya tersebut tidak tertekan dengan ingatan yang menggumpal dan tidak ingin keluar.
Laki-laki tersebut ingat apa yang diucapkan dokter tempo hari.
"Kau tahu Adalrich? terkadang seseorang sengaja menekan ingatan nya untuk melupakan soal masa lalu yang menyakitkan, dimana terdapat kenangan buruk yang jelas dia anggap begitu berat untuk kembali dia ingat"
Laki-laki tersebut secara perlahan keluar dari kamar tersebut Tanpa banyak bicara
Begitu Adalrich beranjak dari sana, meninggalkan kamar tersebut dan memilih untuk tidur di ruangan kerja hingga pernikahan mereka tiba-tiba tanpa di duga Adeline membuka bola matanya.
Perempuan tersebut seketika membiarkan bola mata indah nya dengan bulu mata lentik nya tersebut terbuka dengan sempurna.
Lama tanpa pergerakan sama sekali.
Apa yang dia lakukan?!.
Sebaris pertanyaan tersebut meluncur dari balik Hati Adeline, kemudian perempuan tersebut menyentuh lembut bibir nya dengan perasaan yang berkacamuk menjadi satu.
Ini untuk kedua kali nya laki-laki tersebut mencium nya dalam tidur diam nya, bahkan dia pernah mendengar laki-laki tersebut diam-diam menangis sembari menggenggam erat telapak tangan nya.
Dia mungkin terlelap awalnya, tapi terkadang sentuhan lembut mampu membangun kan kaum perempuan.
Mereka memiliki pendengaran yang begitu tajam meskipun tidur didalam kelelahan, sebab sejatinya rata-rata perempuan memang seperti itu.
Adeline menggelengkan kepalanya yang tiba-tiba terasa berat karena pemikiran sembari dia mencoba menarik lembut nafasnya dengan jutaan perasaan yang menghantam menjadi satu, helaan nya terdengar begitu berat seberat beban pikiran nya.
Dia tidak memiliki cara untuk mengingat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya di masa lalu, satu-satunya kemungkinan untuk mengingat dia mungkin harus bergerak didalam diam.
Perempuan tersebut bangun dari dalam tidur nya, dia duduk sejenak di tepian kasur sembari netra nya menelisik seluruh area kamar besar tersebut.
Jika dia adalah istri Adalrich dimasa lalu, jika ini adalah kamar mereka, maka tidak dipungkiri dia pasti pernah menyembunyikan sesuatu di sana sebelumnya.
Atau mungkin ada petunjuk yang bisa dia ambil untuk menggiring dia pada beberapa hal atau orang-orang yang dia kenal dengan baik dan dia andalkan.
Dia pikir dia butuh identitas asli nya, untuk menggiringnya pada ingatan masa lalu, karena dia tidak menyakini banyak orang disekitar nya saat ini.
Sebab selama beberapa hari dia bangun, ada terlalu banyak kejadian janggal yang membuat dia berpikir sesuatu yang buruk pasti telah terjadi dimasa lalu.
Kini perempuan tersebut terlihat mulai berdiri dan beranjak dari sana, dia mencoba menelusuri ruangan tersebut sembari bola matanya terus mencari sesuatu di sekitar sana.
dia ingat bagaimana pelayan yang selalu berada di sisinya berkata kemarin, dimana wanita tersebut berpesan sebelum keberangkatan mereka ke acara pertunangan seseorang semalam.
"Akan ada banyak orang-orang yang mungkin akan mencelakai anda, hati-hati dengan makanan dan minuman yang akan anda konsumsi"
"Dimasa lalu anda pernah hampir mati karena diracuni oleh seseorang, kala itu situasi sangat menegangkan"
"Jangan percaya pada ibu tuan Adalrich, apalagi perempuan rubah Ilse Kock, bahkan tidak sedikit orang-orang penting menganggap anda adalah ancaman, dan hati-hati terhadap tuan presiden"
Dia mendengar kan pesan yang diberikan oleh pelayan nya tersebut, namun pesan terakhir benar-benar terdengar sedikit mengganggu.
Bukankah laki-laki tersebut berada di bawah perlindungan Adalrich?!.
Dia ingat bagaimana laki-laki tua tersebut menatap nya semalam, menyapa nya dengan tatapan yang begitu aneh saat mengucapkan kata selamat kepada dirinya.
Namun saat laki-laki itu mengetahui dia adalah putri wakil presiden George, laki-laki tersebut langsung mengubah cara pandang nya.
"Bola mata anda mengingatkan diri ku dengan seseorang"
Ucap laki-laki dihadapan nya malam itu.
"Ya?"
Adeline jelas langsung mengerutkan keningnya.
"Seseorang di masa lalu, ketika kami masih remaja, dimana bola mata tersebut pernah membuat ku jatuh cinta dan terluka"
Mendengar ucapan tuan presiden membuat Adeline cukup merasa bersalah.
"Itu membuat saya sedikit sedih, maafkan saya karena membuat anda harus mengingat soal masa lalu"
Dia menundukkan kepalanya dengan rasa sesal yang begitu mendalam.
Tapi hati Adeline berkata ada sedikit terselip kebohongan dari laki-laki yang ada di hadapannya tersebut.
namun alih-alih ingin memikirkannya perempuan itu membuang pemikiran tidak penting itu dan memilih beranjak dari sana meninggalkan tuan presiden dan Adalrich dalam perbincangan mereka.
Lagi Adeline bergerak ke sisi kanan kamar yang dia tempati tersebut, tangan-tangannya mencoba untuk meraba beberapa lemari yang berdiri kokoh di sana, cukup lama dia melakukannya, mencari sesuatu yang sebenarnya dia tidak tahu apa.
Adeline pikir seorang perempuan meletakkan sesuatu pastinya dengan sangat teliti, terkadang mereka memiliki satu kotak kecil atau bahkan ruangan rahasia yang cukup sulit untuk ditemukan oleh seseorang.
cukup lama dia meraba-raba bagian lemari tersebut kemudian berhenti mencari lemari yang lainnya, tiba-tiba bola matanya menatap ke arah hiasan dinding yang ada di disi bagian depan dimana dia berdiri saat ini.
tidak tahu kenapa namun dia berdiri mematung untuk beberapa waktu, menatap lama hiasan dinding yang ada di hadapannya tersebut.
Adeline sejenak mengerutkan keningnya, hingga akhirnya dia beranjak dari posisinya dan melangkah maju ke depan.
tangan nya meraba hiasan itu dengan gerakan perlahan, sembari bola matanya terus meneruskan tersebut.
bahkan dia mencoba untuk menyusuri bingkai hiasan tersebut dari sisi kiri kanan atas dan bawah hingga akhirnya dia mencoba untuk menelisik bagian belakangnya.
sejenak Adeline membeku saat dia merasakan sesuatu di bagian belakang bingkai hiasan tersebut, sesuatu yang menonjol terasa di balik telapak tangan kanan nya.
membuat perempuan tersebut langsung menghentikan gerakan tangannya, bola matanya seketika langsung membulat dia berusaha meraih sesuatu yang ada di belakang sana secara perlahan.
Degub jantung perempuan tersebut langsung berdetak dengan kencang 10 kali lebih cepat dari biasanya, seolah-olah dia mengenal sesuatu yang ada di tangannya saat ini, perempuan itu langsung melihat apa yang ada di sana.
sebuah kotak kecil berwarna emas.
Adeline langsung membuka kotak kecil tersebut dengan cepat.
Seketika perempuan tersebut membulat kan bola matanya.