
Adalrich jelas mengeratkan rahangnya, dia masih menatap tajam laki-laki yang ada di bawah kakinya tersebut.
Nyonya Alima, ibu nya sendiri?!.
Kenapa?!.
itu menjadi pertanyaan besar di dalam diri Adalrich saat ini.
jika ibunya tidak menyukai, dia pikir hal yang wajar dilakukan oleh seorang mertua hanya sekedar mencoba menyingkirkannya dengan cara yang halus, tapi memiliki inisiatif untuk membunuhnya jelas sangat mencurigakan.
"Katakan pada ku"
ucap Adalrich kemudian.
"atas dasar apa dia harus membunuh istriku sedangkan Adeline jelas adalah menantunya sendiri? apa kau pikir aku akan percaya dengan seluruh ucapanmu?"
laki-laki tersebut bertanya sembari mencoba memberikan tatapan mengintimidasi laki-laki yang ada di bawah kakinya tersebut.
"kak pikir aku akan sebodoh itu mempercayai ucapanmu?"
lanjut ada Adalrich lagi.
lagi-lagi yang tersungkur di lantai tersebut seketika mencoba untuk tertawa, dia kemudian berkata.
"Apa anda tidak tahu jenderal? di masa lalu ibu anda terlibat pada satu peristiwa mengerikan di mana dia menyingkirkan seseorang yang tidak seharusnya disingkirkan untuk bergeser jabatan seseorang"
laki-laki tersebut berucap dengan cepat, menjabarkan soal peristiwa yang Adalrich sama sekali tidak pahami.
"dia pasti sudah tahu siapa istri anda yang sebenarnya jenderal, dia tahu perempuan itu adalah ancaman terbesar untuk diri nya, jadi jelas saja nyonya Alima akan menggunakan berbagai macam cara untuk menyingkirkan istri anda"
setelah berkata seperti itu laki-laki tersebut terlihat terkekeh geli.
"Aku tahu aku tidak akan pernah selamat dari tempat ini, karena itu mari bernegosiasi untuk sesuatu soal informasi penting siapa sebenarnya istri anda jenderal Adalrich"
mendengar ucapan laki-laki tersebut seketika membuat Adalrick langsung menaikkan ujung alisnya, dia mengerutkan sejenak keningnya, ucapan laki-laki itu cukup membuatnya terkejut namun dia sama sekali tidak menampilkan ekspresi apapun, karena Adalrich jelas tidak akan terpancing ada banyak kebohongan yang coba dilakukan oleh orang-orang.
"kau pikir aku akan mempercayai ucapanmu huh?"
Adalrich jelas bicara sembari mendengus.
"Yang benar saja"
kemudian dalam hitungan detik dia menarik sebuah senjata dari salah satu tentara miliknya dengan cepat, Adalrich seketika langsung mengarahkan pistolnya ke hadapan laki-laki yang ada di bawah kakinya tersebut.
Klatakkkkk.
dia bersiap untuk menarik pelatuknya.
"Anda pikir yang aku ucapkan adalah sebuah kebohongan?mari aku beritahukan satu kenyataan lainnya soal hubungan anda dan nyonya Alima"
ucap laki-laki tersebut sembari terus mendongakkan kepalanya sambil sambil dia menatap tajam ke arah Adalrick, bisa dilihat kilatan penuh keyakinan muncul dibalik bola mata laki-laki tersebut.
Hal itu jelas membuat Adalrick diam tanpa mengeluarkan sedikit pun suaranya, laki-laki itu menahan pelatuk pistolnya, tidak bergeming untuk beberapa waktu dan mencoba untuk tidak menggerakkan pistolnya sama sekali.
Aura di sana sangat tidak nyaman untuk dilihat oleh orang-orang di sekitar, Adalrich terlihat mengeratkan rahangnya untuk beberapa waktu sembari dia terus meratap tajam karena laki-laki yang ada di bawahnya.
suara kereta api yang terus berjalan diiringi dengan suara cerobong asap kereta api saling sahut menyahut antara satu dengan yang lainnya, aroma dan rasa musim salju seolah-olah tidak dapat mendinginkan suasana di dalam kereta api tersebut, meskipun tidak dipungkiri ada banyak sekali pemikiran yang ada di kepala Adalrich saat ini, ucapan laki-laki yang ada di bawah kakinya tersebut membuat diri nya sejenak bergerak menjongkokkan tubuhnya, laki-laki itu kini membiarkan tubuhnya duduk dan bertumpu pada dua kakinya.
Adalrick sengaja melakukan gerakan tersebut dan menunggu laki-laki yang ada di hadapannya itu untuk bicara kepadanya saat ini.
"Kau bisa mengatakannya padaku saat ini juga, jika hal itu membuatku tertarik maka aku pastikan aku tidak akan membunuhmu, tapi jika hal tersebut tidak membuatku tertarik itu artinya nyawamu akan habis dengan senjata yang ada di tanganku"
kembali Adalrich mengarahkan pistol tersebut ke arah kepala laki-laki yang ada di hadapannya itu, jarak dan posisi mereka sangat rapat, nyaris tidak tercipta jarak diantara wajah mereka saat ini, di detik berikutnya Adalrich menunggu ucapan dari laki-laki di hadapan tersebut ganti detik berikutnya juga laki-laki itu langsung membisikkan sesuatu tepat di balik telinganya.
bisa dilihat bagaimana laki-laki itu membisikkan sesuatu kepada dirinya, membuat beberapa orang yang ada di ruangan tersebut cukup penasaran namun jelas mereka tidak bisa mendengarkan ucapan laki-laki tersebut karena yang hanya bisa mendengarkannya adalah Adalrick sendiri.
begitu Adalrich mendengarkan ucapan laki-laki itu, seketika bisa dilihat ekspresi wajah adalah di mana bola matanya secara spontan langsung membulat dengan sempurna, seolah-olah yang diucapkan laki-laki itu cukup membuatnya terkejut dengan keadaan.
Apa?!.
dia bertanya di dalam hatinya tanpa mengeluarkan sedikitpun suaranya.
cukup lama Adalrick tidak bergeming, hingga akhirnya secara perlahan laki-laki itu kembali berdiri dan memposisikan tubuhnya dengan cepat.
"seret dia ke dalam penjara bawah tanah saat turun dari kereta ketika kita tiba di Hamburg"
Ucap Adalrich tiba-tiba.
mendengar ucapan dari Sang jenderal jelas saja membuat semua orang cukup terkejut, mereka paham betul bagaimana sifat dari Adalrich, laki-laki itu tidak pernah memberikan toleransi kepada siapapun bahkan tidak pernah mengampuni siapapun di antara mereka yang membuatnya marah apalagi memberi sedikit kesempatan kepada musuh bahkan juga tawanan.
entah apa yang dibicarakan oleh laki-laki yang ditangkap oleh mereka tersebut, hal itu jelas membuat semua orang penasaran, apa hubungan Adalrich dan nyonya Alima yang sebenarnya.
hal tersebut seketika menjadi teka-teki besar di antara mereka, bahkan jika itu adalah hal yang buruk atau merupakan berita buruk yang harus diterima mereka mencoba untuk menebak-nembak apa yang akan Sang jenderal lakukan terhadap ibunya tersebut.
sejak dulu tidak ada yang tidak mengetahui watak Sang jenderal yang sesungguhnya, lagi lagi tersebut tidak pernah memberikan toleransi kepada siapapun bahkan kepada keluarganya sekalipun.
dan kemudian bagaimana dengan nyonya Alima ketika Sang jenderal mendengar sendiri dari balik telinganya soal hubungan mereka.
di balik jutaan tanda tanya yang ada di kepala mereka, dua pengawal terlihat bergerak dengan cepat mengangkat tubuh laki-laki yang berada di lantai tersebut dengan cara yang sedikit kasar, dan detik berikutnya mereka menyeret langkah laki-laki itu menuju ke salah satu ruangan yang penuh dengan penjagaan dan yang dipakai oleh mereka untuk menawan musuh yang tiba-tiba mendekat.
Ketika laki-laki itu diseret oleh dua pasukan nya, Adalrich terlihat bersikap sangat tenang seolah-olah tidak ada sedikitpun yang terjadi atau dibisikkan di balik telinganya, laki-laki itu bergerak dengan begitu tenang menuju ke arah depan, Adalrich memberikan senjata yang ada di tangannya kepada salah satu tentaranya, kemudian ketika seorang tentara lainnya membukakan pintu kereta untuk dirinya, Adalrich terlihat berjalan dengan begitu tenang menuju ke arah depan sana di mana di situ terdapat gerbong kamar huni di mana Saat ini sang istrinya tengah terlelap setelah pemeriksaan tentang keadaannya.