
Bola mata wanita tersebut seketika membulat dengan sempurna ketika dia menyadari siapa yang ada di hadapannya saat ini, dia terlihat gemetaran sembari mencoba memegang lengan wanita yang ada di samping kanannya.
kunjungan ke kediaman Adalrick dipikirnya akan menjadi kunjungan terbaik nya di tahun ini, mengingat sudah berapa lama dia tidak mengunjungi putranya tersebut.
sejak kematian istri putranya, laki-laki tersebut memasang jarak kepada seluruh orang termasuk dirinya, dia tidak bisa menyalakan atau bahkan protes hanya untuk mengeluh realitanya dia juga yang terlibat secara tidak langsung dalam kematian Adeline.
dirinya dan juga Ilse Kock yang secara diam-diam dengan gerakan yang sangat halus menyingkirkan perempuan itu dari hadapan putranya.
dia sama sekali tidak menyukai Adeline, karena baginya perempuan tersebut tidak pantas naik tahta menjadi istri dari seorang jenderal Adalrich.
yang paling pantas mendampingi putranya menurut dirinya adalah Ilse Kock, selain karena perempuan itu berpendidikan tinggi dia juga seorang putri dari pejabat negara yang cukup disegani.
sedangkan Adeline jelas bukan siapa-siapa, hanya pemberontak dan juga mata-mata yang dikirim oleh musuh untuk masuk ke negara mereka dan mencuri informasi juga bertukar informasi selanjutnya merencanakan untuk melakukan pemberontakan dan penyerangan secara massal hingga menciptakan peperangan tiada akhir.
sebenarnya tubuhnya tidak dalam keadaan baik-baik saja dia sedikit terserang flu dan demam, namun demi putranya dia rela datang ke kediaman laki-laki tersebut bahkan dia tiba di sini di dalam keadaan musim dingin di mana tiba-tiba salju datang menerjang.
bayangkan bagaimana perasaan di saat ini di tengah tubuh yang demam juga flu yang menyerang serta rasa dingin yang datang menghantam tiba-tiba dia harus melihat satu sosok perempuan yang menjadi mimpi buruk untuknya, entah yang dilihat kenyataan atau sekedar mimpi atau itu adalah halusinasi namun dia benar-benar melihat Adeline yang berdiri tepat di ujung sana dihadapannya.
bayangkan bagaimana dia mencoba mengontrol bola matanya agar tidak melotot keluar saat ini dari mata nya.
"Kau ..?"
Nyonya Alima, ibu Adalrick bicara sembari mencoba menahan nafasnya, dia berusaha berpegangan pada pelayan kepercayaannya.
"Bibi apa aku baru saja melihat hantu? bukankah perempuan tersebut sudah mati 5 tahun yang lalu?"
dia jelas bertanya dengan histeris, wajahnya memucat dan tangannya gemetaran, tiba-tiba nyonya Alima tidak bisa menopang tubuhnya dengan kedua kakinya saat ini.
jika itu adalah Adeline maka kematian pasti akan mendekati dirinya dan Ilse Kock, bayangkan bagaimana kejahatan mereka di masa lalu akan terbongkar di depan putranya ketika perempuan tersebut membuka mulutnya soal kenyataan.
"Saya tidak tahu nyonya, tapi saya rasa itu benar-benar sosok Nona muda Adeline"
bisa-bisanya sang pelayannya bicara seperti itu sembari menoleh ke arahnya kemudian menatap ke arah depan di ujung sana di mana Adeline berdiri saat ini.
nyonya Alima mencoba mengatur nafasnya dengan baik, dia berusaha untuk berpijak pada kakinya dengan sekuat tenaga dan mengambil nafasnya yang seketika menghilang untuk beberapa waktu.
keringat dingin tiba-tiba mengucur di balik kening dan pelipisnya saat tiba-tiba dia melihat perempuan yang ada di ujung sana berjalan mendekati dirinya dan pelayannya.
semakin perempuan tersebut berjalan mendekati mereka maka semakin terlihat jelas bagaimana wajah perempuan itu, dan jelas saja sosok tersebut benar-benar adalah sosok Adeline yang begitu dia kenal di masa lalu.
nyonya Alima pikir apakah dia harus pergi saat ini atau tetap bertahan di tempat tersebut, tapi tidak tunggu dulu dia harus mendapatkan penjelasan dari putranya tentang semua ini.
yang dia tahu Adeline jelas telah mati 5 tahun yang lalu bahkan putranya sendiri lah yang melakukan pemakaman untuk perempuan tersebut di masa lalu.
jika perempuan itu kini tiba-tiba berdiri di hadapannya itu artinya Adalrick telah membohongi seluruh orang bahkan dia juga seluruh pejabat pemerintah dan presiden.
meskipun hingga hari ini tidak ada para pejabat pemerintah bahkan juga presiden yang tahu bagaimana sosok sang pemberontak di masa lalu, putranya jelas begitu licik dan pintar menyembunyikan wajah Adeline di masa itu.
namun jika itu memang benar sosok Adeline bisa dipastikan perang besar akan terjadi dalam beberapa waktu ini, dan jelas keluarga mereka akan dikatakan sebagai keluarga yang merencanakan pemberontakan terhadap presiden secara tidak langsung.
bagaimana mungkin mereka memelihara seorang mata-mata dan buronan pemerintah di keluarga mereka.
"Bibi, apakah kalian bisa menunjukkan ku ke arah mana seharusnya aku berjalan menuju ke kamar ke dua di mansion ini?"
Perempuan tersebut bertanya cepat sambil menatap kearah nyonya Alima dan wanita di samping nya secara bergantian.
******
Saat Adeline bertanya kemana arah jalan menuju ke kamar dua di mansion tersebut kepada dua wanita yang ada di hadapannya itu.
Alih-alih menjawab pertanyaannya, kedua wanita tersebut malah menatapnya dengan tetapan yang aneh.
bahkan bisa Adeline lihat salah satu dari wanita tersebut gemetaran berhadapan dengan dirinya.
Melihat hal tersebut jelas membuat perempuan itu menaikkan ujung alisnya.
Adeline kembali mengulangi pertanyaannya sekali lagi.
"Bibi beritahukan aku jalan menuju ke kamar ke dua, aku pikir seperti nya aku sedikit tersesat saat ini"
dia bertanya dengan sedikit tidak sabaran menatap kedua wanita itu secara bergantian.
tidak peduli bagaimana ekspresi kedua wanita itu melihat dirinya, dia pikir dia sudah cukup kedinginan saat ini, dia hanya butuh kembali ke kamarnya dan mencari penghangat, sebab dia merasa tiba-tiba saja jemari-jemur kaki dan tangannya mulai menjadi kerang dan wajahnya mulai menjadi memerah.
Bahkan saat ini tiba-tiba dia merasa suhu tubuh nya menjadi sedikit kacau, dia seperti nya akan terkena demam.
"Maaf nona, saya pikir arah nya ke arah sana"
salah satu wanita itu menjawab dengan sedikit gugup, bola matanya tidak lepas datang Adeline sejak tadi, ekspresi wajahnya terlihat sedikit terkejut namun tidak menampilkan ekspresi bergetar atau bahkan ketakutan.
Adeline pikir ekspresi yang ditampilkan wanita itu masih cukup normal untuk ukuran wanita tua yang bertemu dengan orang yang baru.
sangat berbeda sekali dengan ekspresi wanita yang ada di sampingnya tersebut.
Adeline menebak wanita yang menjawab pertanyaan nya adalah pelayan wanita yang ada di samping nya, melihat perbedaan yang sangat mencolok di antara kedua orang tersebut.
Wanita dihadapan Adeline memiliki pakaian yang jelas berkelas seperti yang dia gunakan, namun lebih glamor dan terlihat berlebihan, hiasan kepala wanita tersebut cukup membuat sakit kepala orang yang melihat nya.
Sedangkan wanita satu nya lagi menggunakan pakaian yang cukup sederhana yang menampilkan betapa berbedanya kasta mereka berdua.
Ah sudahlah, Adeline enggan terlalu peduli, dia pikir kepala nya menjadi pening, rasanya dia benar-benar butuh langsung kembali kedalam kamar nya.
Adeline berusaha untuk beranjak dari hadapan kedua orang tersebut namun,
"Kau...kau... adalah si pelacur kecil?"
tiba-tiba saja wanita berpakaian glamor tersebut bicara sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah Adeline.
mendapatkan perkataan seperti itu jelas saja membuat Adeline langsung menaikkan ujung alisnya.
"Apa?"
Perempuan itu bertanya sembari menatap tidak percaya atas pendengaran nya saat ini.
Hahhh.
Seketika perempuan itu mendengus.
"bagaimana kau bisa masih hidup dan berdiri di sini diantara kami?"
tiba-tiba wanita itu berteriak histeris sembari berusaha untuk menampar Adelia secara tiba-tiba.
Adeline sedikit terkejut, ingin bertanya dan meluruskan persoalan namun tiba-tiba kepalanya menjadi pening dan dia merasa tubuhnya semakin menghangat.
Entah apa yang terjadi tahu-tahu pandangan nya menjadi menggelap dan...
Brakkkkkkk.
"Ibu...apa yang kamu lakukan?"
seiring jatuhnya Adeline, tiba-tiba terdengar satu suara yang menggelegar memecah keheningan malam.
seketika seluruh penghuni mention utama Adalrick membeku dan merasa seolah-olah kematian kembali akan mendekati mereka.
sedangkan Nyonya Alima seketika membulatkan bola matanya, dia panik sembari memundurkan tubuhnya beberapa langkah.
Ada apa ini?!.