King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 12 A & A



Mansion utama Adalrich


Adeline sejak tadi berjalan mondar-mandir mengitari Mansion besar dengan luas tanah yang sangat sulit dia jabarkan, perkiraan di kepala Adeline luas tanah tersebut lebih dari 30000 meter persegi.


Dia cukup lelah mondar-mandir sejak tadi, pura-pura memilih untuk jalan-jalan menghabiskan waktu malam hanya untuk mencari titik terbaik bangunan tersebut yang ada di mana saja tidak terdapat pengawasan penjaga nya.


dia pikir apakah dia boleh mengumpat saat ini, laki-laki itu benar-benar teliti dalam meletakkan para penjaga di sekitar mansion nya, seolah-olah di masa lalu pernah terjadi pemberontakan atau pun seseorang ingin berusaha untuk lari dan kabur dari tempat ini oleh karena itu penjagaannya menjadi begitu ketat tanpa celah.


dia sama sekali tidak bisa mencari celah untuk pergi dari tempat ini malam ini atau beberapa hari ke depan.


Adeline pikir satu-satu cara untuk melarikan diri adalah ketika dia bisa melewati gerbang Mansion yang ada di ujung sana bersama seseorang setelah itu dia bebas melarikan diri ke mana pun dia suka.


yah dia cukup merasa tidak nyaman berada di tempat ini, selain karena dia tidak suka tinggal di tempat ini hati kecilnya Seolah-olah berkata ini adalah sebuah neraka, seakan-akan di masa lalu dia pernah tersiksa di tempat ini untuk waktu yang begitu lama bahkan ada beberapa ruangan yang membuat dia merasa begitu sedih ketika dia melihatnya.


kesedihan tersebut tidak bisa diungkapkan nya dengan kata-kata, seolah-olah satu memori yang hilang menggelayut di dalam hatinya dan berteriak sembari menerangkan jika di bagian-bagian tempat tersebut dia pernah sangat terluka karena sesuatu yang tidak bisa dia pahami apa.


karena itu setiap kali hati kecilnya berteriak untuk minta pergi dari tempat tersebut Adeline terus berusaha untuk lari dan mencari jalan keluar, nama sayangnya dia belum juga mendapatkan celah untuk segera keluar dari tempat tersebut.


"Nona hari sudah terlalu malam untuk Anda berkeliling saat ini"


wanita yang ada di samping kanan nya bicara sembari menundukkan kepalanya, dia terlihat begitu khawatir melihat Adeline yang sejak tadi hilir-mudik kesana-kemari.


tidak paham apa yang nona mudanya cari tapi yang dia tahu perempuan cantik itu sejak tadi selalu berusaha menatap di bagian beberapa sisi dinding dan juga orang-orang di sekitar sana yang berjaga di sekitar mansion Tersebut.


seolah-olah perempuan cantik itu memiliki satu kegelisahan tersendiri, tapi dia tidak ingin bertanya kepada siapapun termasuk dirinya soal kegelisahan hati nya.


Alih-alih menjawab ucapan wanita disampingnya, Adeline terlihat mendongakkan kepalanya untuk beberapa waktu.


dia menatap langit malam yang tidak menampilkan kecerahannya sama sekali, tidak ada bulan ataupun bintang yang menghiasi gelapnya langit saat ini, yang ada hanyalah terpaan semilir angin yang semakin lama semakin terasa kencang.


mereka saat ini berada di bagian belakang Mansion di mana terdapat kolam besar di belakangnya, Adeline berdiri di ujung jembatan menata jembatan Kokoh yang dibangun dari beton tersebut berbentuk menanjak seperti bukit, di mana di sisi kiri dan kanannya terdapat sebagai pembatas agar orang yang melewati jembatan tersebut tidak jatuh ke dalam air kolam besar yang tergenang dimana di dalam kolam itu terdapat beberapa bunga teratai yang menghiasi indahnya genangan ini yang diisi oleh beberapa ikan besar di dalamnya.


Adeline menarik kasar nafasnya untuk beberapa waktu, dia memejamkan sejenak bola matanya lantas perempuan tersebut mendongakkan kembali kepalanya untuk beberapa waktu.


Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, tapi bisa dipastikan perempuan cantik tersebut seolah-olah tidak merasa bahagia berada di tempat itu, bertemu terlalu banyak orang asing di sekitarnya bahkan harus menatap wajah laki-laki yang tidak dia cintai yang berkata jika mereka adalah sepasang suami istri.


Adeline terus menghindari Adalrich sejak beberapa hari yang terlalu, dia masih memiliki untuk tidak bertemu laki-laki tersebut, dan memasang jarak sejauh mungkin atas hubungan tidak masuk akal mereka.


baginya seolah-olah sejak awal hubungan itu tidak pernah ada, tidak ada hal yang bisa membuktikan dengan kuat soal pernikahan mereka di masa lalu, hingga hal tersebut membuat Adeline berpikir jika realita nya hubungan mereka adalah hubungan palsu yang dibentuk tanpa dasar cinta antara satu dengan yang lainnya.


Namun sayang nya setiap kali dia bertanya kepada para pelayan atau kepala pelayan yang mengurus dirinya soal hubungan mereka, orang-orang tersebut selalu berkata mereka adalah pasangan kekasih yang begitu bahagia.


Pembohongan publik.


Itu yang tiba-tiba keluar dari dalam kepala Adeline setiap kali dia mendengar ucapan yang seperti itu.


"Nona, angin malam nya semakin kencang, saya pikir sebaiknya Nona segera masuk ke dalam kamar saat ini, sepertinya cuaca akan berubah dalam beberapa waktu, ini akan masuk ke dalam musin dingin"


lagi wanita di samping nya berkata untuk mengingatkan Adeline.


wanita tersebut bisa merasakan betapa dinginnya cuaca saat ini, apalagi dia tidak menemukan bulan dan bintang di atas langit, menurut hitungan kalender saat ini seharusnya telah masuk ke dalam musim dingin, dia takut tubuh perempuan yang ada di sampingnya itu akan kedinginan apalagi kondisi Adeline jelas masih belum begitu stabil, kesehatan perempuan cantik itu masih tetap naik turun sejak beberapa hari yang lalu.


tertidur lelap dalam waktu yang sangat lama jelas sedikit sulit untuk mengembalikan stamina Adeline agar kembali menjadi seperti semula.


mereka saja harus memberikan asupan nutrisi dan gizi yang baik untuk Adeline selama beberapa hari di setiap jam makannya, apalagi sang tuan mereka selalu berkata jika mereka gagal mengembalikan kondisi tubuh perempuan tersebut menjadi segar dan bugar seperti semula maka akan ada resiko besar yang harus mereka terima kedepannya.


ancaman laki-laki dengan wajah dingin dan datar tersebut tidak bisa dianggap sepele, bahkan laki-laki itu tidak segan-segan untuk melenyapkan pelayan manapun yang dianggap nya tidak kompeten dalam bekerja untuk orang-orang di sekitar nya termasuk istrinya.


Adeline menoleh kearah wanita di sampingnya tersebut untuk beberapa waktu, dia mengembangkan senyuman kemudian berkata.


"Jangan khawatir soal apapun bi, aku baik-baik saja dan tubuhku juga jauh lebih baik dari sebelumnya"


Jawab Adeline cepat sembari kembali membuat pandangannya.


"Bisakah tinggalkan aku sendirian di sini bibi? aku pikir aku butuh waktu sendiri untuk saat ini"


lanjut perempuan tersebut lagi sembari bola matanya kini tertuju kearah kolam yang ada dihadapan nya, menatap bunga teratai indah yang menghiasi kolam di hadapannya tersebut.


mendengar berita ada permintaan Adeline membuat wanita yang ada di samping perempuan tersebut sedikit keberatan, dia ingin menolak tapi tidak memiliki keberanian besar untuk melakukannya.


tapi membiarkan Adeline ada di luar jam malam seperti ini jelas merupakan resiko tersendiri untuk dirinya, dia belum ingin mati karena melakukan kecerobohan dan melepaskan perempuan yang dianggap begitu berharga untuk jenderal mereka Tersebut.


"Tapi..."


wanita tersebut ingin menolak dan bicara, namun tiba-tiba bola matanya menatap ke sisi bagian kanan, seketika wanita tersebut diam dan menghentikan ucapannya saja segar siapa sosok yang dilihat saat ini.


bola mata wanita tersebut langsung membulat dengan sempurna, dengan tangan yang gemetaran dia langsung menundukkan kepalanya.