
Adeline masih diam mematung saat Adalrick mengelus lembut wajah nya, dia merasa sentuhan dan suara laki-laki tersebut terasa begitu familiar.
Tapi tidak tahu kemana rasanya seolah-olah suara itu memang milik Adalrich, tapi sentuhan lembut Tersebut milik dari tangan kokoh orang lain.
perempuan tersebut tidak mengeluarkan ekspresi apapun sejak tadi, dia masih membeku di bawah guyuran salju yang mulai berjatuhan ke muka bumi di malam hari ini, bahkan mulai jatuh menyebar ke beberapa sisi tubuh baik di kepala bahkan di kulit wajah.
Mereka berdua berdiri seakan-akan ada di dalam lingkaran bola kristal bak sepasang kekasih yang saling menatap antara satu dengan yang lainnya.
Terlihat begitu indah dan serasi dari arah kejauhan.
Sejenak dua anak manusia tersebut tidak bergeming, saling menatap lekat-lekat wajah masing-masing untuk waktu yang cukup lama.
Sepersekian detik kemudian tiba-tiba Adeline merasa ada jutaan kekecewaan dan kesedihan didalam hati nya yang muncul secara tiba-tiba, seolah-olah ada jutaan amunisi bahkan sesuatu yang menyakitkan menghantam perasaan nya saat ini ketika dia menatap Adalrich semakin lama.
Dia merasa laki-laki tersebut menorehkan satu luka dan kekecewaan besar didalam dirinya secara tiba-tiba.
Sebuah tolakan dari dihatinya atas perlakuan Lembut Adalrich kepada dirinya saat ini langsung menyadarkan dia dari keadaan saat ini.
Hingga akhirnya tanpa aba-aba Adeline langsung memundurkan langkahnya sejenak saat dia benar-benar sadar jika yang ada di hadapannya tersebut adalah Adalrich, laki-laki yang entah punya kesalahan apa dimasa lalu pada dirinya itu namun dia begitu membenci nya.
Tangan kanan perempuan tersebut langsung mendorong kasar dada Adalrich, mengabaikan sisa kebaikan laki-laki tersebut tadi dengan cepat.
Seolah-olah hati nya berkata, semua yang kau lakukan barusan adalah titik semu penuh kepalsuan
melihat reaksi perempuan yang ada di hadapan tersebut seketika membuat Adalrick sadar jika Adeline masih belum bisa menerima kehadirannya.
Dia lah yang terlalu berharap agar perempuan tersebut mengingat dirinya dengan cepat, dia sadar jika dia mungkin terlihat sangat bodoh saat ini.
begitu mengharapkan perempuan yang ada di hadapannya itu bahkan mungkin dirinya rela melakukan hal bodoh diluar akal sehat nya atau mungkin menjadi gila karena seseorang Adeline.
namun meskipun terlihat bodoh seperti itu dia tetap tidak bisa menepis tentang perasaan hatinya saat ini terhadap Adeline.
mungkin dulu dia memang bodoh karena tidak paham dengan cinta yang Adeline persembahan untuk dirinya, kini dia sadar soal kesalahan terbesar nya karena mengabaikan perempuan tersebut dimasa lalu.
Bahkan sekarang dia lah yang benar-benar mencintai perempuan itu secara terbalik, bukan masalah jika Adeline melupakan dirinya dan melupakan cintanya, tapi Adalrick bersumpah sejak malam tragedi 5 tahun yang lalu, jika dia akan memperbaiki semua nya bahkan rela menuai karma jika memang Tuhan ingin memberikan dirinya karma asalkan tuhan memberikan dia kesempatan satu kali lagi untuk bisa bersama Adeline dan memperbaiki semua perihal dimasa lalu.
"Aku akan kembali kekamar sekarang juga"
Adeline menjawab dengan cepat, dia tidak ingin mereka melakukan interaksi lebih lama hingga membuat dirinya tidak nyaman dengan keadaan.
Daripada dia harus melihat wajah laki-laki yang ada di hadapannya tersebut lebih lama lagi, Adeline pikir sebaiknya dia langsung kabur secepat nya dari hadapan laki-laki yang ada di depan itu.
tanpa berniat untuk pamit lagi, tanpa harus mengeluarkan kembali kata-kata nya, tanpa harus menundukkan kepalanya Adeline langsung memutar tubuh nya berbalik, meninggalkan laki-laki tersebut saat ini juga secepat nya.
tidak dia pedulikan lagi bagaimana ekspresi laki-laki tersebut saat ini, yang ada di pikirannya adalah dia harus pergi secepatnya saat ini juga.
anggaplah dia sudah gila karena dia pada akhirnya memilih sembarang arah untuk melangkah, tidak ingin menghilangkan kesan elegan dan anggun nya atau bahkan mempermalukan dirinya Karena salah memilih jalan untuk kembali ke kamarnya, Adeline memaksa langkah nya menuju ke sembarang arah.
yang dia tahu sejauh apa kita pergi melangkah pada akhirnya kau akan menemukan jalan kembali ke tempat manapun yang kau inginkan, jadi meskipun dia melangkah ke jalan yang salah menuju ke arah kamarnya, Adeline yakin dia akan menemukan jalan lain untuk menuju ke arah tempat di mana seharusnya dia melangkah saat ini.
perempuan tersebut terlihat sedikit bingung dan panik, dia pikir sebenarnya kemana dia ingin pergi.
meskipun sebenarnya sejak tadi dia telah melangkah mengelilingi tempat tersebut, namun sejujurnya dia belum juga hafal seluruh wilayah yang ada di Mansion tersebut.
Beberapa tanaman pohon Cemara putih (Abies alba) yang tumbuh disekitar kiri kanan mansion dengan luas yang begitu sulit Adeline hitung dengan jari mengacaukan keadaan.
hingga membuat Adeline berpikir sebenarnya kemana arah dia harus berjalan saat ini.
Perempuan itu terus berusaha mengambil langkah untuk mengabaikan Adalrich dan sok-sok paham kearah mana dia pergi benar-benar keputusan paling buruk yang pernah dia buat belakangan ini.
dibanding bertanya pada laki-laki tersebut di mana letak kamarnya dia lebih baik mencari sendiri di bagian mana seharusnya dia beristirahat saat ini.
kakinya melangkah dengan gerakan terburu-buru, di mana sebenarnya saat ini salju mulai turun dengan deras sejak tadi.
dia juga sebenarnya bisa saja bertanya ke salah satu penjaga yang berjaga mengelilingi mansion besar tersebut, namun Adeline pikir dia harus berusaha untuk menahan dirinya agar tidak bertanya saat ini juga.
perempuan tersebut terus melangkah mengabaikan apapun yang ada di sekitar, cukup jauh dia bergerak sembari membawa jaket sang jendral di tengah salju yang mulai turun semakin lebat.
hingga akhirnya dia pikir dia menyadari soal sesuatu, dia baru sadar jika dia memutar melewati jalan belakang, dia tadi sempat melewati jalan itu untuk mencari cara keluar bersama sang pelayan.
hingga akhirnya ketika perempuan tersebut berjalan dengan tergesa-gesa terus ke arah depan nya, tiba-tiba bola matanya Adeline menangkap dua sosok orang yang tengah berdiri tepat dihadapannya di ujung sana.
Adeline mencoba untuk terus melangkah ke arah depan dia pikir mungkin dia akan bertanya pada salah satu sosok yang ada di hadapannya tersebut saat ini, kearah mana seharusnya dia berputar agar menemukan kamar nya.
Namun siapa sangka ketika dia semakin mendekati dua sosok tersebut tiba-tiba satu diantara mereka terlihat diam mematung menatap dirinya untuk waktu yang cukup lama.
seolah-olah dia baru saja melihat hantu ketika melihat Adelina, orang itu terlihat memundurkan langkahnya dengan wajah sepucat salju.
"Kau...?'
Suara itu tercekat, menatap kearah Adeline dengan pandangan panik dan tidak percaya.
"Bibi apa aku baru saja melihat hantu?! bukankah seharusnya Perempuan ini sudah mati 5 tahun yang lalu?"
Suara itu kembali keluar, mengeluarkan gema nya yang terdengar gemetaran, bola matanya menatap Adeline dan hampir melotot keluar, bisa Adeline rasakan pandangan penuh ketakutan serta rasa benci menghantam sosok dihadapan nya tersebut menjadi satu.
Dan suara sosok di hadapannya itu terasa tidak asing bagi Adeline m
Tiba-tiba satu suara menghantam isi kepala Adelina saat ini.
"Jangan pernah bermimpi untuk bisa masuk menjadi menantu keluarga Petra selama aku masih hidup, kau bisa melangkahi manyat ku lebih dulu untuk bisa mendapatkan gelar sebagai nyonya Adalrich Ben Petra"
Tidak.
Seketika Adeline menyentuh kepalanya, rasa sakit tiba-tiba menghantam dada nya, tidak tahu kenapa rasanya air mata nya seolah-olah ingin keluar saat ini juga tapi satu sisi hati nya seolah-olah berkata.
Berhentilah mengeluarkan air mata mu secara cuma-cuma.