
bab 98
.
.
.
" Sayang, kau bisa hubungi Denis ??" pinta Tio yang sudah selesai makan dan langsung duduk didepan meja kerjanya.
" Memang ada apa ??" tanya Dania.
" Suruh dia kerumah nanti malam. mama juga sekalian." Jawab Tio.
Meski cukup aneh,tapi Dania hanya mengangguk setuju.
" Ayah.. Davi mau lihat.." Davi berlari mendekati Tio yang hendak mulai bekerja.
" Davi.. Ayah sedang kerja nak..jangan mengganggu.." Cegah Dania.
Davi seketika nampak murung.
" biarkan saja.. sudah, tidak apa-apa.." Timpal Tio yang langsung menatap putranya yang menunduk.
" Davi Mau bantu Ayah kan ??" Tawar Tio.
Davi nampak melirik dan mengangguk pelan.
" Kemarilah.." Tio mengangkat tubuh Davi dan membawa Davi kepangkuannya.
" Davi lihat dulu ya, Ayah kerjanya seperti apa.." Ucap Tio dengan penuh kesabaran.
Dania hanya membuang nafasnya dengan kasar.Tio amat memanjakan putra mereka. entah karna sayang, atau apa Dania sendiri tak mengerti.
Dania menempelkan Ponsel ditelinganya hendak menghubungi Denis.
" halo kak. ada apa ??" suara Denis sudah terdengar kala panggilan sudah terhubung.
" Nanti malam ajak mama kerumah kakak ya. Tio memintamu datang."Ucap Dania.
" Kak Tio ?? ada apa ??" Tanya Denis
" entahlah. tapi dia bilang mau bicara denganmu. ajak mama jangan lupa."Tutur Dania
" Baiklah. ada lagi.?" balas Denis
" Tidak. ya sudah." Dania mematikan panggilannya.
" Bagaimana ?? dia bisa kan ??" Tanya Tio
" Iya." jawab Dania yang berjalan mendekati Tio yang bekerja sembari memangku Davi.
" Jangan terlalu memanjakan Davi Tio..Dia semakin hari semakin besar, dia harus bisa membedakan pekerjaan serius atau tidak."tutur Dania yang memilih kebelakang kursi duduk Tio dan memijit pundak Tio.
" Aaahh..enaknya sayang.. ternyata kau pandai juga memijit.." puji Tio tanpa menanggapi ucapan Dania.
" ayah.. Itu apa dilayar ??" tunjuk Davi.
" Itu bagan rabat sayang." jawab Tio.
" Apa itu ??" Tanya Davi lagi seraya menengadah menatap sang Ayah.
Tio memgembangkan senyum dan mencium hidung Davi. "Nanti kalau Davi sudah sekolah, pasti Davi tau. sekarang susah menjelaskannya."
" Kalau begitu besok Davi mau sekolah."Ucap Davi.
" Benarkah ?? Davi sudah tidak takut lagi ??" Tanya Tio memastikan.
Davi secepatnya menggeleng. "tidak Ayah. Om dokter bilang, Davi harus berani."
" anak pintar. Baiklah, besok minta Ibu mengantarmu kesekolah ya ??" Tio mengacak pelan rambut Davi.
" Yeee !!! sekolah.. Ibu, besok Davi mau sekolah.." Davi nampak girangsekali.
" Tio..kau yakin mau menyuruh Davi sekolah ??" tanya Dania pada Tio yang Belum terlalu yakin pada keadaan Davi.
" Tentu saja. kita lihat perkembangannya, ya..setidaknya kemajuan Davi seperti apa kita akan tau dari lingkungan sekolahnya." tutur Tio.
" Aku takut Tio.." Balas Dania.
" Hilangkan takutmu.. bukannya kau sangat ingin Davi seperti anak-anak yang lain ??" tambah Tio.
Dania mengangguk penuh keraguan.
" Davi kita sudah akan menjadi anak normal lagi Sayang..jadi jangan berfikir yang bukan-bukan. tapi selama masa percobaan ini aku minta tolong padamu agar menemani Davi disekolahnya."terang Tio.
" Dasar aneh.. tentu saja aku pasti menemani anakku !!!" gerutu Dania.
" Iya..aku kan minta tolong, nanti kalau pekerjaanku sudah longgar, gantian aku yang menungguinya."Balas Tio.
" Jangan begitu.. urusan davi biar aku yang mengantar dan menungguinya disekolah, aku tidak mau pekerjaanmu terbengkalai gara-gara kami lagi.." tutur Dania.
" Kenapa bicara begitu ?? kau dan Davi tanggung jawabku, semua itu wajar aku lakukan." Balas Tio.
" Iya..tapi kan untuk urusan anak tetap menjadi tanggung jawab istri.." timpal Dania.
" salah sayang.. anak itu tanggung jawab kita bersama. aku tau maksudmu sebenarnya, tapi semua fikiran negatifmu itu salah, Selagi aku bisa dan mampu aku akan mengutamakan kalian. jadi berhenti berfikir macam-macam dan janga. merasa bersalah atau apapun. kau mengerti ???" Tio mencubit pipi Dania.
" Aahhh.. Tio.."
Dania nampak berontak dengan suara manjanya yang frontal langsung keluar.
Davi dan Tio tertawa lepas bersama mendengarnya.
.
.
.