
bab 135
.
.
.
Denis sudah tiba disebuah Cafe lagi dimana Tio berada.
Tio yang nampak.terus menatap layar laptop sampai tak menyadari kedatangan Denis.
"Kakak..kliennya belum datang ??" Tanya Denis saat sudah dekat.
"Kau lama sekali !!" gerutu Tio dengan melirik Denis.
"Maaf. aku harus membujuk Nona wanda dulu. dia menangis kak." ucap Denis.
"Kau sopan sekali dengannya. dengan Riana kau memanggil kakak."Ejek Tio.
" Itu berbeda." Timpal Denis dengan cepat. tanpa memikirkan jawabannya yang terdengar tak tepat.
" Kau antar kerumahnya kan ??" Tanya Tio memastikan.
" Tidak. Nona wanda minta diantar kekantor saja. Dia menolak pulang. takut kakak marah padanya." Terang Denis dengan benar
" biarkan saja."Balas Tio secara singkat
"Kak."Panggil Denis.
"hmmm " Tio terus fokus pada layar laptopnya.
" Sebenarnya kenapa Nona wanda tadi menangis ?? emm..maksudku, Apa yang membuat Nona wanda menangis ?? dua klien kita tadi apa mengenal Nona Wanda ??" Denis.memberondong Tio dengan beberapa pertanyaan.
" Memangnya kenapa ??" tanya Tio balik
"Iya aku hanya ingin tau. Soalnya tadi Nona Wanda terlihat sangat sedih."balas Denis.
" Tidak boleh !!" sanggah tio dengan cepat.
"Kenapa ??" Denis keheranan.
" Itu privasi dia. kita tidak boleh membicarakan apa yang menjadi privasi seseorang !! kau tau, Jika Dania tau aku bisa kena marah !!" omel Tio.
bibir Denis terlihat manyun saat diberondong omelan dari sang kakak ipar.
" Tapi kak -"
" Mereka datang, diamlah dan segera bersiap !!" Tio menyela ucapan Denis.
Denis hanya membuang nafasnya dengan kasar. namun saat ia menemukan ide yang lain senyumnya seketika terbit cukup lebar."aku tanya kak Dania saja. semoga dia mau memberitauku." batin Denis.
Ia turut ikut Tio berdiri menyambut kedatangan Klien mereka berdua.
.
.
.
" Wil, kau mau pesan apa ??" Tanya Riana tanpa beban. entah mengapa meski baru kenal Riana tak canggung sama sekali.
" Terserah Nona saja." Balas Willy.
" Kau ini.. berapa kali aku katakan, jangan memanggilku nona. kita ini satu profesi. sama-sama anak buah Tuan Tio." Tutur Riana yang memilih duduk.
Willy sekejap menerbitkan senyum.
" sebelum kerja dengan tuan Tio, kau bekerja dimana ??" Tanya Riana
" Saya mulai kerja ya dengan Tuan Tio. saya ikut beliau sudah sejak lulus SMA." jawab willy dengan jujur.
" Benarkah ?? kalau boleh tau berapa usiamu ??" Tanya Riana lagi dengan wajah cukup terkejut.
" Saya baru 24 tahun."Balas Willy.
" Kau 24 tahun ?? astaga, Kau masih muda juga ya ??" Riana nampak antusias.
willy hanya menggangguk.
" Tidak masalah. asal kau serius dengan Wanda." ucap Riana tanpa ragu.
" Maksud Nona ??" willy nampak terkejut.
" Kau selalu menatap wanda dengan tatapan tak berkedip, aku tau maksudnya, karna aku pakar dalam ekspresi wajah." Balas Riana membanggakan diri.
Willy nampak tertunduk. tebakan Riana memang tidaklah salah, Ia cukup mengganggumi wanda, sebabnya apa Willy sendiri tidak tau. hanya saja jantung Willy serasa berdetak cukup cepat meski hanya melihat Wanda saja.
" Benarkan dugaanku ??" Riana menepuk pundak Willy menggoda.
" Nona salah faham saja." Sanggah Willy dengan menunduk.
" Kau yakin ??" Riana mencondongkan tubuhnya hingga cukup dekat dengan Willy sampai-sampai deru nafas keduanya terasa satu sama lain.
Sekejap seakan waktu berhenti berputar saat kedua mata mereka beradu.
Riana yang tersadar segera tertawa saat melihat betapa lucunya wajah Willy yang dekat dengannya.
" Ha..ha..ha.. willy kau lucu sekali.."
Willy mengerjap dan turut tertawa kecil. terasa geli sekali saat fikirannya malah memikirkan sesuatu yang tidak mungkin.
.
.
.