
bab 22
.
.
.
Tio memerintahkan seluruh anak buahnya menyisir seisi kota guna mencari keberadaan Dania. bahkan Tio tak memikirkan kantor hari itu. ia juga terus menyisir jalanan guna menemukan Dania dan Davi. ia tak ingin lagi berpisah dari kedua orang yang berharga untuknya.
Taksi yang ditumpangi Dania berhenti didepan sebuah barisan kontrakan yang cukup lebih rapi dan terawat.
Riana teman Dania segera membantu menurunkan beberapa barang Dania yang dibawa menggunakan taksi.
" Sini aku gendong Davi nya " tawar Riana.
" biar aku saja Ri, takutnya Davi kaget."balas Dania.
" oh.. baiklah." Riana beralih kesopir taksi yang sudah selesai membawakan barang Dania.
" ini pak. terima kasih ya.." Riana menyodorkan lembaran uang pada sopir taksi.
" terima kasih nona." Balas sopir itu yang segera masuk kedalam.mobil.
Dania nampak keluar dari kontrakan.
" loh kok sudah pergi taksinya ??"ttanya Dania.
" sudah aku bayar. ayo masuk aja." ajak Riana menarik lengan Dania.
" bagaimana ?? kau suka kontrakannya ??" tanya Riana.
Dania pun mengangguk dengan jelas. "iya. ini lebih baik. terima kasih ya Ri..maaf sudah merepotkan."
" kau ini seperti dengan siapa. lagian aku senang sekali, akhirnya kau mau juga keluar dari daerah prostitusi itu."tutur Riana yang duduk dikursi diikuti dania.
" iya. oh ya Ri, berapa sewa kontrakan ini ??" tanya Dania.
" ini lebih kecil dari kontrakanku Dan, jadi ini ibu kost kasih 700rbu. tapi sudah aku bayar satu bulan."terang Riana.
" kau ini bagaimana, kenapa kau yang bayar.??! aku ganti ya ??" Dania hendak berdiri mengambil dompetnya. namun buru-buru Riana menahannya.
" lain kali Dan..sudahlah, aku niat baik membantumu kok..sudah ya, oh ya, aku juga sudah masak buat sarapan kalian. jarak dua pintu dari sini, kontrakanku. jadi jika kau butuj sesuatu kau bisa memanggilku."tutur Riana lagi.
Dania sangat beruntung, ternyata Tuhan masih menyayanginya. Ia selalu dikelilingi orang-orang baik.
" terima kasih ya Ri. nanti jika aku sudah bekerja aku akan membayarnya."balas Dania.
" hati-hati ya Ri.."pesan Dania.
" iya..nanti kalau ditempatku ada lowongan, aku langsung kabari.." ucap Riana sembari keluar dari rumah Dania.
Dania bernafas lega. setidaknya saat ini ia aman dari jangkauan Tio. meski masih disekitar kota itu, namun setidaknya Tio tidak tau kemana kini ia berada.
.
.
Wanda menangis saat membawa surat yang dikirimkan Dania untuk dirinya.
" Dania..kenapa kau pergi tanpa.berpamitan denganku.." ucap Wanda dalam tangisannya.
" mami jangan nagis dong !! kayak anak kecil tau !!" omel Rizki putra Wanda.
" kau anak nakal !! pergi main sana !!" Perintah Wanda.
rizki segera barlari keluar..
" oh ya.. aku harus menemui Tuan itu." wanda berlari menuju kamarnya dan meraih ponselnya hendak menghubungi Tio.
" aduh kok tidak diangkat sih !!" wanda terus mencoba namun tetap tak diangkat.
" apa keapertemennya ya ??" gumam.Wanda yang segera meraih tas jinjingnya guna menemui Tio, menyampaikan surat Dania.
.
.
" kau dimana Dan ?? maafkan aku..aku mohon.."gumam Tio yang masih terus melakukan pencarian.
meski hari sudah menjelang sore, Tio tak berhenti sedikitpun.
ingin menembus kesalahannya yang sangat fatal dimasa lalu dengan menjaga dania dan putranya saat ini adalah proritas utama seorang Tio.
" meski kau terus membenciku, aku tidak akan pernah menyerah Dania.."gumam Tio lagi. ia memutar arah mobilnya dan menyusuri jalanan lagi.
.
.
.