
bab 27
.
.
.
Pagi sudah tiba lagi, Dania berniat bertanya maksud dari menejernya yang memberinya gaji sampai sebanyak itu. itu bukan gaji, tapi uang cuma-cuma. bahkan gaji Riana hanya 2 juta, saat semalam Dania bertanya.
Davi yang memang sudah akrab dengan Fania sudah bermain berdua diteras mereka.
Dania sudah tidak perlu membujuk atau memberi pengertian pada Davi saat hendak ditinggal bekerja.
" Davi sayang.. Ibu kerja dulu ya.."ucap Dania sembari membenarkan sepatunya.
" iya buk.." balas Davi dengan sumringah. Dania sangat bersyukur sekali, Keluarga Fania begitu menyayangi Davi juga. bahkan Ibu Sarah sama sekali tak keberatan saat mengambilkan obat untuk Davi jika waktu siang.
nampak Riana juga sudah siap.mengendarai sepeda motornya juga. dan mereka berdua segera menuju restoran dengan sepeda motor masing-masing.
"Davi, Memang papamu kemana ??" tanya Fania sambil bermain.
" papa ?? papa itu apa Fania ??" tanya Davi.
" papa itu orangtua laki-lakimu. setiap keluarga pasti ada dua orangtua. seperti aku, orang yang selalu aku panggil papa, dialah papaku, yang bekerja setiap hari untuk pengobatan dan kebutuhanku. "terang Fania sesuai pengetahuannya.
" aku tidak punya."jawab Davi dengan polos.
" benarkah ??" Fania sangat terkejut.
" aku tidak tau. Ibuku tidak pernah membicarakan papa." tambah Davi.
Fania mengangguk dan kembali bermain.
nampak ayah Fania keluar bersama Ibu sarah.
" wah.. pagi-pagi sudah main aja anak papa.."sapa ayah Fania.
" iya pa.."balas Fania.
" Davi sudah sarapan.belum ??" tanya Ibu sarah.
davi mengangguk pelan.
" Ibu sudah berangkat kerja ya sayang ??" tanya Ibu sarah lagi.
" Sudah bibi.."balas Davi.
baiklah. bermain yang baik ya..papa berangkat kerja dulu.." Ayah Fania mengecup kening Fania dengan lembut. Tanpa sengaja Davi mulai memperhatikan interaksi antara Fania dan Ayahnya, entah mengapa Hati Davi seakan tergelitik namun anak itu tidak tau kenapa.
.
.
Sesampainya direstoran, Dania langsung masuk beriringan dengan Riana.
" kau yakin isi amplop gajimu 10juta Dan ??" tanya Riana sepanjang perjalanan mereka.
" tentu saja. ini aku bawa. aku akan minta penjelasan pak Burhan. aku tidak mau ada salah faham disini." balas Dania.
Riana pun mengangguk. teman kerja mereka separuh juga sudah mulai berdatangan, Saat menatap dania seolah mereka memandang rendah Dania.
Tujuan Dania dan Riana adalah ruangan meneger restoran.
tok..
tok..
tok..
tok..
pintu nampak terbuka. Pak burhan pun cukup terkejut dengan kedatangan Wanita yang dipantau bos besarnya
" ada apa ini ??" tanya pak Burhan pura-pura biasa.
" saya mau bicara pak."ucap Dania.
" bersih-bersih dulu saja !! nanti akan ada tamu penting yang datang pagi ini. cepatlah !!" perintah pak Burhan berusaha mencari alasan.
" tapi pak ...-"
"apa kau tuli !! kerjakan dulu. setelah semua rapi kau bisa keruanganku lagi !!" ralat pak Burhan dengan suara cukup tinggi.
mendapat bentaka. itu, Dania hanya bisa diam. begitupun dengan Riana, akhirnya mereka memilih segera berganti pakaian dan mengerjakan apa yang diperintahkan meneger restorang itu.
Otak Dania terus memutar layaknya komedi putar, Ia terus memikirkan kenapa dan ada apa, bahkan untuk apa, tentang uang itu. ia bahkan tak memperhatikan rekan-rekan kerjanya yang terus menggujingnya dengan banyak sekali tuduhan.
" hey bisa tidak bekerja saja !! mulutnya diam gitu !!" Tegur Riana yang cukup jengah saat telinganya mendengar tuduhan-tuduhan yang dilayangkan kepada dania dari rekan kerja mereka.
" jangan berani ngomong dibelakang !! ngomong aja langsung sama orangnya !!" tambah Riana.
Tak ingin membuat gaduh, mereka para rekan kerja Riana dan Dania langsung menyingkir dan meninggalkan Riana serta Dania. Dania tak begitu mendengarkan apa yang dikatakan temannya, ia terus bergulat dengan otaknya yang masih memutar.
" meneger itu..ada yang aneh disini..aku harus cepat " gumam Dania yang mempercepat diri dalam.bekerja.
.
.
.