Dania Strong Women and Single Moms

Dania Strong Women and Single Moms
wanita itu butuh kepastian



bab 42


.


.


.


Davi nampak lahap memakan ayam goreng kesukaannya. Bik Sumi ternyata sudah tau semua kesukaan Anak bos besarnya.


" Davi pelan-pelan makannya." tegur Dania.


"wah.. anak Ayah suka sekali," ucap Tio yang baru turun. masih dengan celana pendek santai dan kaos putih oblong kesukaannya.


" Ayah.. ini enak sekali.." balas Davi.


Tio pun duduk ditempatnya. seraya melirik Dania yang nampak enggan menatapnya.


"Benarkah enak ?? wah, ayah mau sebenarnya. tapi ayamnya dekat Ibumu, bagaimana ??" balas Tio seraya melirik Dania.


" Ibu..ambilkan untuk Ayah.."pinta Davi.


Dania membuang nafas dengan kasar. meski masih nampak kesal ia akhirnya mengambilkan makanan untuk Tio.


Tio tersenyum penuh kemenangan."terima kasih sayang."Ucap Tio saat Dania menyodorkan piring berisi penuh makanan.


Dania tak menjawab, ia hanya membuang muka kearah lain.


Makan malam berlangsung cukup tenang. Kebahagiaan Tio kini telah terwujud, meski belum sepenuhnya, setidaknya kini ia telah berkumpul dengan orang-orang yang sangat dia idam-idamkan.


.


.


.


Usapan lembut diberikan Dania saat menidurkan Davi. Tak lupa kecupan kasih sayang mendarat sempurna dikening Davi yang sudah terlelap dalam tidur malamnya.


" kau sangat bahagia bisa memiliki ayah nak..bagaimana ibu bisa egois ??" gumam Dania.


Tidak bisa dipungkiri. Davi nampak sumringah sejak bersama Tio. Dania berulang kali mengatur nafasnya seraya menatap langit-langit kamar Davi.


Hatinya mulai bimbang. diantara rasa sakit dan rasa yang masih terpendam cukup lama.


"kenapa sakitnya masih ada " Dania terduduk dan mengusap wajahnya.


kenangan-kenangan dimana dulu ia terombang ambing sendiri. melahirkan sendiri, semua terus berputar tak mau hilang.


Dari pintu Tio menyaksikan kegundahan Dania. tanpa berkata pun, Tio mengurungkan niatnya untuk masuk. ia sangat faham apa yang dirasakan Dania. trauma yang mendalam yang dirasakan Dania cukup membuat hati Tio teriris dan terasa sangat sesak.


beberapa kali bahkan Tio mengusap dadanya. Penyesalan yang mendalam saat mengingat masa lalu yang begitu kelam.


Tio memilih kembali kekamarnya, saat ini ia harus memikirkan cara agar Dania bisa percaya jika dirinya telah serius dan benar-benar akan bertanggung jawab atas Dania dan Davi.


Tio buru-buru meraih ponselnya dimeja nakas saat teringat sahabat serta mantan bosnya.


Benda pipih itu menempel sempurna ditelinga Tio.


meski lama, akhirnya panggilan Tio dijawab Attalah. "ada apa menelfonku malam-malam ??!" tanya Attalah seketika.


" kau sibuk ??" tanya Tio balik.


" Tentu saja. kau tau, aku sedang membuat anak lagi malam ini !!" balas Attalah dengan mudah.


" Cih !! pamer !!" umpat Tio.


" biarkan saja !! aku kan bersama Istriku sendiri,"timpal Attalah. "jadi ada apa ?? awas saja jika tidak penting." ancam Attalah.


" aku mau minta solusimu" ucap Tio ragu-ragu. sebab masalah rekannya itu dulunya Tio lah yang menyelesaikan.


" solusi ?? apa ?? kekasihmu lagi ??" terka Attalah.


" Iya. bagaimana cara meyakinkan dia jika aku ini serius ??" tanya Tio tanpa mau basa basi lagi.


Hening tak ada jawaban, Tio sampai dibuat kesal karna keheningan dari panggilannya.


" Atta !! kau masih hidup kan ??!!"tegur Tio dengan kesal.


" Sembarangan kau ini !! tentu saja aku masih hidup. Em..menurutku sebaiknya kau langsung lamar dia saja. wanita itu butuh bukti kepastian, bukan ucapan-ucapan tak berfaedah apa lagi janji. Lamar dia seromantis mungkin, sebelum itu Berikan dia perhatian perlahan dan perlahan, juga jangan terlalu memgekangnya, biarkan dia melakukan apa yang dia suka." terang Attalah.


" kenapa kau pintar sekali ??" Tio keheranan dengan penjelasan Temannya itu.


" He..he..he.. tentu saja. aku tinggal mengikuti Istriku saja. solusi itu dari dia."balas Attalah dengan bangga.


" Cih !! tak tau malu !!" umpat Tio. "ya sudah, lanjutkan membuat anaknya. sebentar lagi aku akan menyusul."Setelah berkata demikian, Tio langsung mematikan panggilannya tanpa menunggu jawaban dari Attalah.


" Iya. aku akan membuktikan mulai sekarang.. Dania, Aku berjanji hanya kebahagiaan yang akan aku berikan padamu dan Davi.. kalian adalah separuh nyawaku, aku berjanji itu."gumam Tio dengan sungguh-sungguh. seraya memejamkan mata. ia berharap, besok akan ada ide bagus untuk melamar Dania.


.


.


.