
bab 174
.
.
.
Riana tiba dirumah dengan taksi pesanannya. ia baru bisa bernafas lega saat sudah masuk gerbang. namun Riana menghentikan langkahnya saat Melihat mobil yang begitu Riana kenal terparkir disana.
"Ini kan mobil.." Riana bimbang akan masuk atau tidak. jika tidak masuk ia akan kemana ??
" Huh.. Riana rileks jangan salahkan mereka.. Ini bukan salah mereka kok.."Gumam Riana sendiri.
lalu setelah dirasa sudah tenang, Riana masuk melalui pintu utama.
Hening tak ada suara apapun diruang tamu maupun diruang tengah.
Riana melirik jam didinding, ini sudah cukup malam. segera Riana tak mau ambil pusing dan memilih menuju kamarnya saja.
Baru saja Riana hendak menapaki anak tangga. Netranya Melihat Wanda dan Denis ditepi kolam.
Sesak begitu dirasakan Riana saat melihat kemesraan kedua anak manusia itu.
Iya. Wanda dan denis terlihat berciuman dengan saling meluapkan kasih sayang. Bahkan mereka berdua begitu menikmati pergulatan lidah itu.
Riana membuang nafas lagi dan berlari menapaki anak tangga agar segera tiba dikamarnya.
Tiba dikamar Riana bersandar didaun pintu seraya memegangi dadanya.
"Oh.. Tuhan.. bagaimana ini.. aku sakit sekali.."
"Kenapa aku harus menyukai pria yang sama dengan wanda.." Riana menegadah dengan memejamkan mata. berusaha meringankan sesak didalam dadanya.
.
.
Denis terlihat mengakhiri ciuman mereka. hingga keduanya bersamaan membuka mata.
Wanda yang memang jauh lebih berpengalaman mengulas senyum saat menatap lekat wajah Denis.
"Aku harus sering belajar seperti ini denganmu." ucap Denis dengan candaanya.
"Kau ini.. memang kita sedang sekolah."balas Wanda.
" Iya benar aku sedang sekolah. sekolah membahagiakanmu." Denis melayangkan gombalannya.
Wanda pun turut tertawa seraya menunduk.
"Aku masih merasa tidak pantas denganmu.."Balas Wanda.
" Jangan bicara pantas atau tidak. karna semua ini masalah hati."timpal Denis.
"Ya sudah.. kau pulanglah. Sudah malam sekali tidak enak dengan tetangga."Ucap Wanda.
"jangan aneh-aneh !!?"Timpal Wanda
Denis melepas kedua tangannya yang melingkar dipinggang Wanda. "Aku pulang dulu.."
" Iya.. hati-hati." wanda melepas kedua tangan Denis yang segera keluar dari rumah itu.
Wanda melirik kejam didinding. "Sudah malam sekali. Riana kok belum pulang ??" Gumamnya.yang segera menuju kamarnya.
Tiba dikamar, Wanda merebahkan tubuhnya diranjang dengan memegangi bibirnya. bagi wanda ciuman memang sudah tidak menjadi yang pertama, mengingat pekerjaannya dulu yang selalu seperti itu. namun yang kali ini bersama Denis, benar-benar begitu wanda nikmati dan resapi. hingga senyum wanda tak luntur sedikitpun.
.
.
.
Sementara Denis pun juga merasa seperti itu. Selama dulu bersama Celine, Ia tak pernah seberani ini. entah mengapa Denis tadi begitu terrayu hanya dengan melihat bibir wanda saja.
lamunan dan bayangan Denis terganggu karna panggil masuk diponselnya.
Sembari menyetir, Denis melirik Layar ponselnya. ia pun sedikit terjengit saat melihat nama Celine tertera disana.
"untuk apa dia menghubungiku malam-malam ??!" gumam Denis bingung mau bagaimana.
"duh.. bagaimana ini.."
" Halo. ada apa Cel ??" Denis akhirnya menerima panggilan yang sudah diulang beberapa kali.
" Den.. apa kau sudah tidur ??" Tanya Celine.
"Em.. iya. ada apa memangnya ??" dusta Denis.
"Oww benarkah ?? padahal aku sudah didepan rumahmu," Ucap Celine.
Denis pun begitu terkejut lagi"untuk apa kau malam-malam kerumahku ??"
"apa kau lupa ?? ini tangga 23 Den.."Balas Celine.
" Iya memang. tapi ada apa dengan tanggal 23 ??" Denis semakin tak mengerti.
"Kau lupa ??" Celine begitu tak menyangka jika Denis melupakan tanggal jadian mereka.
"Iya.. emm.. maksudku kau kan bisa mengingatkanku" Denis nampak gelagapan.
"Ya sudah.. lupakan saja. aku tutup ya.. selama malam," Celine langsung mematikan panggilannya.
wajahnya begitu terlihat sangat sedih. "Apa aku pergi terlalu ?? sampai kau bisa lupa Den ??" Gumam Celine sendiri Sembari menatap kelantai atas rumah denis Celine melangkah masuk kembali kedalam mobil dan segera pergi.
.
.
.