
.
.
.
Hari itu Dania mulai bekerja. dan karna ia sudah sering melihat Riana yang menjadi pelayan, Dania langsung bisa meski ia harus berpura-pura ramah kepada setiap pelanggan. Memang Dania bukan wanita yang bisa akrab dengan siapa saja. bahkan ingin sekali ia menghajar pria yang menggodanya saat sedang melayani pelanggan restoran itu.
" Meja 26, coffelatte 1, Beefsteak 1" ucap Dania seraya menyerahkan Kertas yang bertuliskan Pesanan pelanggan.
Jesi yang juga hendak mengambil pesanan pelanggannya menghampiri Dania.
" bagaimana ??" tanya jesi dengan senyum keramahaannya.
"ramai juga ya." balas Dania.
" iya. makanya kami kuwalahan."timpal jesi serata meraih nampan dari sang koki.
" semangat Dania.. abaikan orang-orang yang tidak berfaedah.." ucap Jesi sembari melangkah pergi.
Dania hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis.
dari sudut kasir, widi terus memperhatikan dania. entah mengapa Widi seolah terhipnotis dengan Dania.
.
.
Tio bersama rekannya Attalah, memasuki restoran untuk membicarakan pekerjaan dan sekaligus makan siang. restoran itu adalah salah satu properti milik Tio sendiri, dan hanya widi yang tau siapa pemilik sebenarnya Restoran itu.
Widi buru-buru berlari menghampiri Tio daj beberapa rekannya guna mempersilahkan menuju tempat pribadi yang sudah disiapkan.
" selamat datang tuan Tio..selamat datang tuan Attalah.. silahkan..mari saya antar.."
Semua mengikuti Langkah Widi menaiki tangga menuju ruangan khusus yany biasa dipakai Tio.
" Jesi.. !! cepat naik dan bawa buku menu kita.." perintah widi.
" baik pak." balas Jesi dengan sigap.
Jesi meletakkan nampan dimeja, lalu hendak menaiki tangga, namun tiba-tiba saja perutnya terasa sakit yang luar biasa.
" aakkhh !!!" pekik Jesi sembari memegangi perutnya.
Dania yang melihat segera berlari menghampiri jesi. " kau kenapa ??" tanya dania penuh kawatir.
" perutku..akhh !! sakit Dan.." balas Jesi sembari meringis.
Dania membantu jesi untuk duduk. "duduk dulu ya.."
" ada apa ??" tanya Dania
"naiklah keruang VVIP, ada tamu khusus disana. bawa buku menu dan segera siapkan pesanan mereka. aku..akkhh!!! perutku.." Jesi tidak bisa melanjutkan ucapannya.
" lalu kau bagaimana ??" tanya Dania masih dengan kawatir.
" jesi !!!" panggilan keras terdengar.
" sudah.. sudah.. sana naiklah Dania, aku masih bisa berjalan kok.." ucap Jesi yang mendorong Dania agar segera naik.
Dania akhirnya pasrah, ia meraih buku menu dan secepat mungkin menapaki anak tangga. hari pertama kerja Dania tidak mau sampai terjadi kesalahan. membutuhkan uang, hanya itu yang ada diotak besar Dania.
.
.
Tio memulai mempresentasikan semua desain miliknya. dengan dibantu temannya Tio terlihat begitu Tenang dalam penyampaiannya.
Dania menundukkan kepalanya memberi salam dengan penuh sopan saat sudah dihadapan para tamu penting itu.
" maaf mengganggu tuan-tuan..mau pesan sekarang apa.nanti ??" tanya Dania sembari mengangkat wajahnya, bersamaan dengan Tio yang juga mendongak setelah selesai menandatangani persetujuan kontrak mereka.
Dania langsung mematung saat matanya menangkap sosok pria yang begitu ia benci duduk diantara tamu penting diruang VVIP restoran itu.
Sudut bibir Tio terangkat, ia sudah menebak jika pasti mereka akan bertemu kembali.
tak ingin membuat Dania semakin tidak nyaman, Tio menatap kearah Attalah dan rekannya yang lain.
" silahkan tuan.. pilih saja, menu disini terasa enak.."ucap Tio yang berdiri dan meraih buku menu yang masih ditangan Dania. seraya berbisik. "aku tau kita ini memang berjodoh."
Dania membulatkan matanya, saat mendengar bisikan Tio yang langsung kembali duduk dan menyerahkan buku menu kepada Rekan bisnisnya.
Dania mengerjapkan matanya beberapa kali, "sabar Dania..sabarlah..kau bekerja saat ini.." batin dania yang kemudian menerbitkan senyum kepada para pelanggan dihadapannya.
" kami ada menu baru tuan.. silahkan dilihat dulu.." ucap Dania penuh keramahan.
Tio.sesekali terus memperhatikan dania yang mencatat pesanan rekan kerjanya.
" bagaimana mungkin kau menipuku dan berkata sudah menikah, jika.hidupmu saja kau masih harus bekerja Dania.." batin Tio
.
.
.