Dania Strong Women and Single Moms

Dania Strong Women and Single Moms
Semua orang punya masa lalu



bab 144


.


.


Langkah Denis terhenti seketika saat namanya dipanggil.


Willy melirik sekilas namun ia segera mempercepat langkah kakinya untuk langsung keluar, Bukan dirinya yang dipanggil, dan entah mengapa Willy merasa kesal dibuatnya.


Denis menoleh kesumber panggilan dan mata Denis melihat Wanda yang berdiri menatap dirinya.


Riana yang terkejut saat wanda memanggil Denis turut mengarahkan pandangannya pada Denis.


"Nona..anda disini ??" tanya Denis basa basi mencoba biasa saja.


" Iya.. bisa kita bicara.. silahkan duduk." Wanda mempersilahkan denis untuk duduk diantara dia dan Riana.


meski ragu Denis menggangguk setuju. ia tidak mungkin menolak.


" Wan.. kenapa kau panggil Denis ??" bisik Riana.


" Hanya mau berterima kasih."balas Wanda lirih.


Denis duduk seraya tersenyum menatap riana dan Wanda bergantian.


"Em.. kak Riana, apa kabar ??" Denis menyapa Riana.


" oh.. aku ?? Aku baik..kau bagaimana ??" Tanya Riana cukup gugup.


" sama kak. Aku baik juga."balas Denis.


Hening, suasana nampak canggung meski wajah mereka terlihat biasa saja.


jangan ditanya lagi, jantung Denis seakan mau meledak saat itu juga kala ia sadar sejak tadi Wanda memperhatikannya.


"Em..Ada apa Nona wanda memanggil saya ??" tanya Debis memecahkan kecanggungan.


Denis mengembangkan senyumnya. "Saya hanya belum terbiasa. kalau dengan kak Riana dia akan teman sekolah kak Dania dulu,"


" Tuan..saya mau berterima kasih atas tumpangannya tadi. saya tidak apa-apa, saya baik-baik saja. saya rasa anda pasti juga sudah mendengar dari Dania siapa saya dulu, maaf sekali lagi, karna gara-gara saya klien anda dan tuan Tio harus membatalkan kerja samanya, saya sedih bukan karna mereka menghina saya, saya hanya menyesal kenapa harus saya yang ikut menemui klien itu, yang malah membuat kerja sama kalian batal. Lain waktu saya akan berusaha menjaga nama baik perusahaan anda dan Tuan Tio ini."Terang Wanda.


Ucapan wanda benar-benar membuat Riana melongo. denis sendiri sampai tak mampu berkata-kata. ia sangat yakin, jika sang kakak tadi pasti menceritakan bagaimana kawatirnya dia tadi.


"hais.. kak Dania..kau katakan apa pada Wanda ?? kenapa dia sampai bicara seperti ini !!!?" batin Denis.


Riana menggenggam jemari Wanda seolah memberi kekuatan pada sahabatnya itu. tidak mudah menjalani kehidupan yang baru ini, sebab masa lalu Wanda benar-benar sangatlah hitam. Wanda tersenyum manis menatap Riana. ia memperlihatkan jika dia tidak apa-apa dan baik-baik saja.


" Saya hanya mau mengatakan itu tuan. maaf sudah mengganggu waktu anda." tambah Wanda.


Denis mengatur nafasnya dan memberanikan diri bersitatap dengan Wanda. manik mata keduanya bertemu dengan dalam.


" Nona..Anda tidak bersalah disini. Yang membatalkan bukan mereka, melainkan kak Tio, Kak Tio tidak mau berurusan dengan pria genit seperti mereka. jadi Nona tidak perlu minta maaf. tidak hanya anda, semua orang punya masa lalu, baik buruknya masa lalu itu hanya Tuhan yang berhak menilainya, Sebagai sesama manusia yang sama-sama memiliki masa lalu Saya dan kak Tio Tidak mempermasalahkan masa lalu anda, Jadi jangan berfikir hanya karna masa lalu anda minder bertemu klien kami." Balas denis sepenuh hati.


Wanda mengembangkan senyumnya seraya menggangguk. "Baiklah.. kalau begitu saya permisi, terima kasih sekali lagi tuan.." Wanda berdiri diikuti denis.


" Sama-sama. Dan sepertinya anda harus terbiasa memanggil saya Denis saja. saya lebih muda dari anda."Canda Denis.


Wanda terkekeh dibuatnya. ia mengambil kopi pesanannya dan hendak berlalu.


" Wan.. kau meninggalkanku ??!!" tegur Riana.


" Den, aku keruangan dulu ya.." pamit Riana


Denis menggangguk mengerti, senyumnya bahkan tak luntur sedikitpun.


Entah mengapa hanya melihat senyum Wanda saja sampai membuat hati Denis berbunga-bunga, sampai denis lupa ada hati yang harus ia jaga.


.


.


.